SMKS Mararti Mimika: Menenun Harapan Anak Bangsa Melalui Teknologi di Tengah Keterbatasan


TIMIKA, papuamctv.com – Salah satu sudut Kota Timika, suara riuh rendah anak-anak sekolah memecah kesunyian. Perkembangan zaman di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, sebuah sekolah menengah kejuruan di Timika terus berjuang mencetak generasi melek teknologi. SMKS Mararti Teknologi Informasi dan Komunikasi, di bawah naungan Yayasan Kebangkitan Anak Bangsa, hadir sebagai oase pendidikan bagi anak-anak pesisir dan pegunungan Papua, meski harus berdiri di atas kemandirian dan keterbatasan fasilitas.

Kepala Sekolah SMKS Mararti, Julaili Nasution, S.Pd., M.M., yang juga merupakan mantan Kepala Sekolah SMP 5 Mimika, menceritakan perjalanan panjang sekolah ini. Didirikan pada tahun 2011, Mararti lahir dari visi untuk memberikan ruang bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang agama.

Sekolah ini bukan sekadar deretan ruang kelas. Bagi banyak siswanya, Mararti adalah rumah kedua, tempat di mana harapan yang hampir padam dinyalakan kembali.

"Ini sekolah nasional. Meski pemilik yayasannya muslim, murid dan guru kami mayoritas adalah Nasrani. Kami inklusif, karena fokus utama kami adalah masa depan anak-anak ini," ujar Julaili saat ditemui di sekolah, Rabu (04/02/2026).

Salah satu poin yang menyentuh hati adalah kebijakan sekolah yang tidak memungut SPP baik untuk jenjang SMP maupun SMK. Sumber pendanaan sekolah bergantung pada Dana BOS dan bantuan dari pihak seperti Amor untuk siswa putra daerah. Namun, tantangan yang dihadapi bukan sekadar finansial.

Ia menambahkan sekolah ini pernah mendapatkan bantuan dari pusat berupa Imbal Swadaya pada tahun 2016 untuk pembangunan ruang kelas. Akan tetapi saat proses pembangunan, anggaran dana yang di salurkan belum mencukupi untuk biaya pembangunan tersebut, sehingga bangunan kelas tersebut belum selesai sepenuhnya.

Julaili mengungkapkan bahwa sekolahnya sering menerima siswa yang memiliki kemampuan literasi rendah—bahkan ada yang belum lancar membaca saat masuk jenjang SMP atau SMK.

"Kami punya program khusus. Guru-guru di sini mendampingi mereka secara pribadi. Kami tidak ingin mereka tertinggal. Selain ibadah rutin dan olahraga, literasi adalah fokus utama kami agar mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar," tambahnya.

Tampak ruangan Lab Komputer SMKS Mararti, yang menjadi salah satu saksi bisu perjuangan mengejar ilmu, dari satu-satunya sekolah multimedia pertama di Timika. Foto: papuamctv.com

Di saat SMK lain berfokus pada teknik jaringan, SMKS Mararti mengambil ceruk unik dengan fokus pada Multimedia (Desain Komunikasi Visual). Siswa diajarkan desain grafis, pengolahan audio, hingga pembuatan konten kreatif untuk platform seperti YouTube dan TikTok.

Meski fasilitas laboratorium masih kecil, kehadiran bantuan papan tulis digital dan Chromebook dari pemerintah pusat mulai membawa perubahan. "Kami ingin anak-anak bisa bersaing secara digital. Mereka sudah magang di media-media lokal dan kami berharap mereka bisa langsung terserap di dunia kerja atau menjadi kreator konten mandiri," harap Julaili.

Lewat layar Chromebook yang terbatas, jari-jari anak-anak Papua ini mulai lincah mendesain grafis dan menyusun narasi visual. Mereka sedang bersiap memberi tahu dunia bahwa dari keterbatasan ini, akan lahir konten-konten hebat yang membanggakan tanah kelahiran mereka.

Menariknya, Julaili mencatat adanya peningkatan kedisiplinan siswa sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Anak-anak yang tadinya malas sekolah, sekarang jadi rajin. Banyak dari mereka yang berangkat dari rumah tanpa sarapan. Adanya makan siang di sekolah membuat mereka lebih bersemangat untuk belajar kembali setelah jam istirahat," ungkapnya.

"Di balik dinding yang mulai mengelupas dan bangunan yang belum selesai sepenuhnya, ada mimpi-mimpi besar yang terus bertumbuh. Meski kini ia sendiri sedang berjuang untuk tetap berdiri. Jangan biarkan semangat mereka runtuh bersama bangunan ini". Foto: papuamctv.com 

Menutup perbincangan, Julaili memberikan pesan kuat kepada pemerintah dan pemangku kepentingan. Dengan mayoritas siswa dari suku Kamoro dan Amungme, ia berharap ada dukungan lebih nyata berupa bantuan bangunan dan alat praktikum yang standar.

"Filosofi SMK itu 'SMK Bisa'. Saya sangat berharap lulusan kami, terutama putra daerah Papua, diberikan kemudahan akses pekerjaan di perusahaan besar seperti PT Freeport atau melanjutkan studi melalui beasiswa YPMAK. Mereka punya potensi, mereka hanya butuh kesempatan yang layak untuk membangun tanah Papua," pungkasnya dengan penuh optimisme.

SMKS Mararti adalah potret nyata bahwa pendidikan bukan soal kemegahan gedung, melainkan soal ketulusan untuk tetap berdiri tegak demi mereka yang ingin berlari mengejar mimpi. (HK)

Postingan Terbaru