Bawa Misi Bioflok ke PENAS 2026, Firsa Lokobal Siap Pacu Sektor Perikanan Mimika

 


GORONTALO, papuamctv.com – Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 yang berlangsung di Provinsi Gorontalo menjadi panggung refleksi mendalam bagi delegasi Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di tengah riuhnya inovasi teknologi pertanian dan perikanan nasional, terselip sebuah komitmen besar dari seorang tokoh pemuda dan wirausahawan sosial asal Timika, Firsa Lokobal.

 

Hadir sebagai pembudidaya ikan air tawar metode bioflok sekaligus Koordinator Daerah Papua Youth Creative Hub (PYCH) Mimika, Firsa membawa misi penting: membawa pulang ilmu untuk ditransformasikan menjadi aksi nyata bagi pemuda Orang Asli Papua (OAP).

 

Di stan pameran Kabupaten Mimika pada Selasa (24/06/2026), Firsa yang juga aktif menggerakkan sektor perikanan melalui Kelompok Mambruk binaan Dinas Perikanan Mimika, membagikan pengalamannya. Baginya, keikutsertaan perdana dalam ajang PENAS ini menjadi sebuah momentum eye-opener (membuka mata).

 

"Jujur, ini pertama kali saya ikut. Awalnya saya kira hanya pelatihan biasa, namun setelah tiba di sini, wow, ini adalah ruang belajar yang luar biasa. Sebagai perempuan Papua yang lahir di atas tanah yang kaya akan sumber daya alam, saya sangat kagum melihat kemajuan yang dicapai oleh pemerintah dan para petani-nelayan di Gorontalo," ujar Firsa penuh antusias.

 

Selama tiga hari penuh mengikuti kelas penyuluhan, sosialisasi, hingga studi banding ke berbagai pusat budidaya perikanan lokal, Firsa mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga sekaligus sebuah "tamparan" realitas terkait kondisi pemuda di daerahnya.

 

Menurut Firsa, tantangan terbesar Papua hari ini bukan terletak pada ketersediaan alam, melainkan pada kesiapan mentalitas sumber daya manusianya.

 

"Kita punya hutan luas, air, tanah, kali... Cuman kita belum ada pemikiran untuk bagaimana bisa mengolah. Kita tidak boleh merasa aman, sebenarnya kita akan kelaparan di atas kekayaan kita sendiri jika tidak mampu mengelola."tegasnya.

 

Kekhawatiran Firsa bukan tanpa alasan. Melalui gerakannya di bawah naungan Papua Muda Inspiratif (PMI) yang fokus pada tiga sektor utama—pertanian, peternakan, dan perikanan—ia kerap menjumpai tantangan budaya kerja di kalangan usia produktif. Banyak anak muda yang masih terjebak pada pola pikir instan dan enggan memulai dari hal kecil, seperti bertani untuk kebutuhan mandiri.

 

Inspirasi terbesar Firsa selama di Gorontalo lahir ketika ia mengunjungi sebuah lokasi studi banding perikanan yang dikelola oleh seorang pemuda setempat.

 

"Saya melihat anak muda usia 22 tahun sudah mampu mengelola dua hektar lahan perikanan yang sangat besar. Tanpa melihat hasilnya pun, saya bisa membayangkan komitmen, kemauan, dan disiplin luar biasa yang ia miliki selama prosesnya. Ini menjadi alarm bagi kami. Anak muda Papua bisa menjadi ancaman bagi masa depannya sendiri jika tidak segera bergerak memanfaatkan potensi yang ada," jelas Firsa.

 

Kembalinya Firsa ke Timika nanti dipastikan akan membawa energi baru. Ia siap menjadi fasilitator, motivator, dan jembatan sinergi antara generasi muda dengan pemerintah daerah.

 

Secara khusus, Firsa menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada jajaran Dinas Perikanan Kabupaten Mimika, Pemerintah Daerah, serta Bupati dan Wakil Bupati Mimika yang telah memberikan dukungan penuh, bahkan turun langsung meninjau jalannya PENAS XVII di Gorontalo.

 

"Dinas Perikanan baru menyurvei kolam bioflok saya kurang lebih dua minggu, dan saya langsung direkomendasikan untuk belajar ke event nasional ini. Kehadiran Bapak Bupati, Wakil Bupati, dan Ibu Bupati yang begitu antusias di usia mereka yang tidak lagi muda, menjadi lecutan bagi kami yang muda untuk bertanya pada diri sendiri: kapan anak-anak Papua akan bangkit?"

 

Ke depan, Firsa berharap pemerintah daerah dapat lebih selektif dan jeli dalam merangkul serta membina pemuda Papua. Ia menekankan pentingnya memilah pemuda yang memiliki potensi riil agar program pembinaan yang diberikan tepat sasaran dan berkelanjutan.

 

"Pemerintah harus merangkul anak Papua yang betul-betul potensial. Biar anak Papua yang dibawa ini tidak mandul, tetapi mereka yang bisa 'membuahi'—artinya bisa menghasilkan karya nyata dan melahirkan pembudidaya-pembudidaya baru."

 

Catatan Jurnalis:

Laporan dari arena PENAS XVII Gorontalo ini menegaskan bahwa kunci kemajuan Papua bukan lagi sekadar narasi tentang ketersediaan sumber daya alam, melainkan tentang transformasi total sumber daya manusia. Melalui adopsi teknologi tepat guna seperti metode bioflok dan penguatan sinergi yang harmonis dengan pemerintah, pemuda Papua seperti Firsa Lokobal siap mengubah tantangan mentalitas menjadi peluang ekonomi yang nyata, mandiri, dan berkelanjutan.

 

Postingan Terbaru