Dinkes Mimika Gelar Workshop Kepatuhan ARV, Tekankan ODHIV Berhak Sehat dan Produktif


TIMIKA, papuamctv.com — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas hidup Orang Dengan HIV (ODHIV). Langkah strategis ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Workshop Peningkatan Kualitas Hidup ODHIV Sehat dan Produktif yang berlangsung di Hotel Horison Diana Timika pada Jumat (26/06).

 

Kegiatan ini diinisiasi untuk memberikan pembekalan komprehensif bagi ODHIV agar mampu menjalani kehidupan yang optimal, mandiri, dan bebas dari belenggu stigma sosial.

 

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Linus Dumatubun. Dalam pidato pembukaannya, Linus menegaskan bahwa status kesehatan bukan merupakan hambatan bagi seseorang untuk tetap berdaya dan berkontribusi bagi masyarakat.

 

"ODHIV memiliki kesempatan yang sama untuk menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan berkontribusi bagi masyarakat, selama mereka mendapatkan dukungan yang tepat serta menjalani pengobatan secara teratur," ujar Linus tegas.

 

Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa indikator keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS tidak boleh hanya bertumpu pada aspek klinis atau ketersediaan layanan kesehatan semata. Faktor psikososial dan lingkungan sosial yang inklusif memegang peranan yang jauh lebih krusial.

 

"Keberhasilan penanggulangan HIV tidak hanya diukur dari layanan kesehatan, tetapi juga dari bagaimana kita bersama-sama membangun lingkungan yang bebas stigma dan mampu memberikan dukungan moral yang kokoh kepada ODHIV," tambahnya.

 

Guna mencapai target kemandirian tersebut, workshop ini mengintegrasikan pendekatan medis dan psikologis secara seimbang. Para peserta dibekali dengan berbagai materi esensial, antara lain:

  • Edukasi Klinis: Urgensi kepatuhan terapi Antiretroviral (ARV) dan pentingnya pemeriksaan viral load secara berkala untuk memantau menekan perkembangan virus.
  • Kesehatan Mental & Psikososial: Manajemen stres dan adaptasi psikologis guna menghadapi dinamika sosial.
  • Pengembangan Potensi Diri: Penguatan motivasi agar peserta tetap mandiri, produktif, dan mampu mengoptimalkan kapasitas diri di dunia kerja maupun komunitas.

 

Selain pemaparan dari para pakar, workshop ini juga menyediakan ruang bagi diskusi interaktif. Sesi ini dimanfaatkan para peserta untuk saling berbagi pengalaman (peer-to-peer support), yang bertujuan mempererat jejaring dukungan antarsesama ODHIV, tenaga kesehatan, dan komunitas pendamping.

 

Menjelang penghujung acara, atmosfer ruang pertemuan berubah khidmat dan penuh haru saat dua orang peserta maju ke depan untuk memberikan testimoni.

 

Secara terbuka, keduanya membagikan kisah perjalanan hidup mereka yang penuh liku; mulai dari hantaman psikologis saat pertama kali menerima diagnosis, perjuangan menghadapi stigma negatif lingkungan, hingga titik balik ketika mereka berhasil menerima kondisi diri.

 

Kunci dari resiliensi mereka adalah disiplin menjalani terapi ARV secara rutin. Di hadapan forum, mereka melayangkan pesan solidaritas yang kuat agar rekan-rekan sesama ODHIV tidak menyerah pada keadaan.

 

"Kita harus tetap disiplin berobat, saling menguatkan, dan membuktikan bahwa kita bisa hidup sehat, produktif, serta menjadi inspirasi bagi orang lain," ungkap salah satu peserta diiringi tepuk tangan haru dari hadirin.

 

Sesi testimoni tersebut menjadi kulminasi sekaligus penutup yang kontemplatif dari rangkaian workshop. Momentum ini menegaskan kembali pesan utama kegiatan: bahwa dengan sokongan utuh dari keluarga, pemulihan dari tenaga kesehatan, penerimaan komunitas, serta kepatuhan mutlak terhadap pengobatan medis, ODHIV tidak sekadar bertahan hidup, melainkan mampu hidup berkualitas dan terus berkarya di tengah masyarakat.

 

Postingan Terbaru