Sentuhan Dana Otsus di Sanggar Kapiri: Mengubah Anyaman Tradisional Kamoro Jadi Komoditas Bernilai Tinggi


TIMIKA, papuamctv.com — Berbekal kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, warisan budaya suku Kamoro di Mimika, Papua Tengah, terus berevolusi. Di tengah gempuran produk modern, Magdalena Walten Iri, sosok penggerak di balik Sanggar Kapiri Art Craft, mendedikasikan jalannya untuk melestarikan identitas budaya Kamoro melalui kreasi anyaman tradisional dan noken.

 

Kisah perjuangan Magdalena bukan sekadar perjalanan bisnis UMKM biasa, melainkan cerminan dari daya tahan (resilience), pemberdayaan perempuan, serta pentingnya kolaborasi antara komunitas dan pemerintah daerah.

 

Perjalanan Magdalena mengolah anyaman merupakan warisan yang mengalir dari sang nenek dan ibunya. Namun, usaha ini sempat meredup ketika ia beralih memfokuskan usahanya ke bidang kuliner.

 

Dorongan untuk kembali bangkit muncul saat ia melihat potensi besar para perempuan (mama-mama) Kamoro yang memiliki semangat menganyam, namun masih terbatas dalam hal pengolahan bahan baku dasar dan teknik kerapian.

 

"Hati saya tergerak. Kita orang Kamoro punya noken yang sangat bagus, bukan hanya saudara kita di wilayah pegunungan. Saya bangkit kembali untuk menunjukkan dan mengajarkan teknik yang benar agar karya kami bernilai tinggi," ungkap Magdalena.

 

Di bawah binaan Yayasan Amuta Wapuri Magdalena meresmikan Sanggar Kapiri Art Craft yang kini memasuki tahun keduanya. Sanggar ini mengolah bahan alam seperti daun pandan dan rumput rawa (motetere) menjadi beragam produk bernilai ekonomi, mulai dari dompet, tas, tikar, hingga pakaian adat bersulamkan manik-manik hutan dan kulit kerang.

 

Keberhasilan Sanggar Kapiri Art Craft tidak terlepas dari peran aktif pemerintah daerah. Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) melalui "Dana Otsus" sebagai salah satu ujung tombak pembinaan pelaku" UMKM, Magdalena beserta anggota sanggarnya mendapatkan pelatihan teknis intensif selama tiga hari.

 

Dalam pelatihan tersebut, para pengrajin diajarkan berbagai teknik penting yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya, seperti:

  • Pembuatan pola baju dan teknik memotong kain yang presisi.
  • Pengenalan dan pengoperasian mesin jahit.
  • Teknik pelapisan (puring) bagian dalam noken agar tampak rapi dan berdaya saing pasar.

 

Selain pembekalan materi teknis, pemerintah daerah juga memberikan stimulan berupa bantuan mesin jahit per kelompok serta dana pembinaan sebesar Rp40 juta per sanggar melalui mekanisme proposal dan pencairan via Bank Papua.

 

"Dana ini sangat membantu kami yang membangun sanggar dari nol. Kami manfaatkan untuk membeli bahan baku, melengkapi sarana seperti etalase, serta memberikan dorongan modal kerja bagi anggota," jelas wanita yang berdomisili di SP1 Jalur 2, Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania ini.

 

Kualitas produk Sanggar Kapiri Art Craft terbukti mampu bersaing di kancah yang lebih luas. Melalui kemitraan dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda), karya-karya berupa dompet dan noken bermotif manik-manik telah dipasarkan hingga ke tingkat nasional, seperti pada ajang Pekan Nasional (PENAS).

 

Dengan patokan harga sekitar Rp150.000 per dompet, perputaran modal sanggar berjalan dengan baik dan memberi dampak langsung pada peningkatan ekonomi keluarga para anggotanya.

 

Tak berhenti pada penguatan internal sanggar, Magdalena kini dipercaya menjadi narasumber pelatihan pemberdayaan perempuan di lima distrik (Miru, Wala, Nduga Timur, Omar, dan Agimuga). Ia membagikan teknik pengawetan bahan baku alami agar tahan bertahun-tahun serta metode penganyaman yang rapi dan adaptif terhadap perkembangan desain modern.

 

Bagi Magdalena, noken bukan sekadar kantong atau aksesori, melainkan simbol sejarah dan kepedulian lingkungan. Ia mengimbau seluruh perempuan Papua untuk terus bangkit dan bangga memakai noken sebagai wadah belanja ramah lingkungan guna mengurangi sampah plastik di daerah.

 

"Sebelum ada tas-tas modern, orang tua kita menggunakan noken. Mari perempuan Papua kita bergandengan tangan, lakukan yang terbaik untuk negeri ini. Untuk para pelaku UMKM, jangan pernah menyerah. Tetap komitmen karena usaha ini adalah penopang ekonomi keluarga kita," pesannya menutup wawancara.

 

Perjalanan Sanggar Kapiri Art Craft membuktikan bahwa sinergi antara warisan budaya, bimbingan teknis pemerintah, dan komitmen kuat pelaku usaha dapat menciptakan dampak ekonomi nyata sekaligus menjaga identitas budaya Kamoro tetap hidup di era modern.

 



Postingan Terbaru