Ritual Patah Panah Tandai Berakhirnya Konflik Kwamki Narama, Bupati Mimika Tegaskan Pesan Damai untuk Tanah Papua


TIMIKA, papuamctv.com - Bupati Mimika Johannes Rettob didampingi Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong, Wakil Bupati Puncak Naftali Awakal, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengikuti ritual adat patah panah sebagai simbol berakhirnya konflik keluarga di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (12/1/2026).

Prosesi adat tersebut diawali dengan perdamaian secara adat oleh kedua belah pihak yang bertikai. Ritual berlangsung khidmat di tengah wilayah yang sebelumnya menjadi area konflik, ditandai dengan prosesi panah babi yang dilakukan masing-masing pihak sebagai bentuk peneguhan komitmen damai.

Sebelum melakukan ritual patah panah, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa prosesi ini merupakan penanda resmi berakhirnya konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Ia menekankan bahwa perdamaian ini tidak hanya berlaku bagi Distrik Kwamki Narama, tetapi juga membawa pesan damai yang lebih luas bagi Tanah Papua.

“Saya melakukan patah panah ini sebagai tanda bahwa tidak ada lagi perang atau konflik di Kwamki Narama dan di Tanah Papua,” tegas Bupati Rettob di hadapan kedua kubu dan masyarakat yang hadir.

Usai prosesi perdamaian adat yang meliputi belah kayu dan patah panah, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serta surat pernyataan bersama.

Penandatanganan tersebut melibatkan Pemerintah Kabupaten Mimika, Pemerintah Kabupaten Puncak, DPRK, aparat keamanan, unsur intelektual, tokoh masyarakat, serta perwakilan kedua belah pihak yang bertikai, yakni kelompok Newegalen dan Dang.

Untuk menjamin keamanan dan kelancaran kegiatan, aparat kepolisian yang dipimpin Kapolres Mimika bersama personel Brimob di bawah komando Danyon Brimob Detasemen B Papua turut mengamankan lokasi prosesi. Bahkan, belasan warga yang sebelumnya ditahan di Rumah Tahanan Polres Mimika tampak dihadirkan untuk menyaksikan langsung prosesi perdamaian sebagai bagian dari rekonsiliasi bersama.

Sebagai simbol penegasan akhir konflik, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman bersama Dandim 1710/Mimika Letkol Inf Redi Dwi Yudha Kurniawan melepaskan tembakan ke udara.

“Dengan saya tembakkan senjata ini ke atas, maka tidak ada perang lagi, selamanya,” tegas Kapolres Mimika di hadapan kedua kubu yang telah berdamai.

Tak hanya diselesaikan melalui mekanisme adat, perdamaian ini juga diperkuat secara hukum. Kedua pihak menandatangani surat pernyataan bersama yang berisi komitmen untuk tidak mengulangi konflik di kemudian hari. Apabila kesepakatan tersebut dilanggar, maka pihak yang melanggar akan diproses sesuai dengan hukum positif yang berlaku.

Diketahui, konflik keluarga ini bermula dari persoalan perselingkuhan yang terjadi di Kabupaten Puncak dan kemudian meluas hingga ke Kabupaten Mimika yang dijadikan sebagai lokasi perang. Selama kurang lebih tiga bulan, konflik tersebut telah menelan 11 korban jiwa, sebelum akhirnya berhasil diselesaikan melalui pendekatan adat, pemerintahan, dan penegakan hukum.

Dengan berakhirnya konflik ini, pemerintah daerah berharap situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Distrik Kwamki Narama dan sekitarnya dapat kembali kondusif, serta menjadi contoh penyelesaian konflik secara damai di Tanah Papua. (Ian)

Postingan Terbaru