Sampah Jadi Berkah: Warga Wania Sulap Botol Plastik Menjadi Donasi Rumah Ibadah



TIMIKA, papuamctv.com – Sebuah gerakan perubahan besar sedang tumbuh dari sudut-sudut rumah di Distrik Wania, Kabupaten Mimika. Bukan melalui proyek besar pemerintah, melainkan melalui kesadaran kolektif warga yang memutuskan untuk berhenti membuang botol plastik mereka ke tempat sampah, dan mulai menyisihkannya sebagai "sedekah" untuk rumah ibadah.

Inisiatif ini menjadi babak baru dalam penanganan sampah di wilayah tersebut. Pola pikir yang selama ini menganggap sampah sebagai masalah, kini perlahan bergeser menjadi sampah sebagai peluang ekonomi sekaligus ladang amal.

Kepala Distrik Wania, Merlyn Temorubun, dalam keterangannya pada Sabtu (10/1/2026), menegaskan bahwa program ini memiliki keunikan tersendiri karena lahir murni dari ide masyarakat (bottom-up). Kelompok-kelompok keagamaan di Wania mengusulkan agar botol plastik dan barang bekas layak jual lainnya tidak dibuang percuma, melainkan dikelola untuk mendukung kas masjid maupun gereja.

"Ini inisiasi murni dari masyarakat. Mereka yang mengusulkan agar dilakukan donasi botol plastik dan barang bekas lainnya yang masih bersih untuk dijadikan perputaran ekonomi," ujar Merlyn.

Distrik Wania sendiri mengambil peran sebagai fasilitator dan pendukung regulasi, memastikan niat baik warga ini memiliki payung hukum dan alur kerja yang jelas.

Program ini dirancang sesederhana mungkin agar semua lapisan masyarakat bisa berpartisipasi. Alurnya dimulai dari dapur rumah masing-masing:
  1. Pemilahan Mandiri: Warga memisahkan botol plastik dan kardus dari sampah organik.
  2. Pembersihan: Sampah yang akan didonasikan dipastikan dalam kondisi bersih dan rapi.
  3. Pengumpulan Kolektif: Sampah dibawa ke titik pengumpulan di masjid atau gereja terdekat.
  4. Konversi Ekonomi: Pihak pengelola bank sampah, yang dikoordinir oleh Pak Haji Ilham, akan mengambil sampah tersebut secara berkala dengan sistem beli.
  5. Dana Sosial: Seluruh hasil penjualan sampah tersebut langsung masuk ke kas rumah ibadah untuk kepentingan umat.
Merlyn sangat optimis bahwa jika gerakan ini dilakukan secara masif, beban sampah di Distrik Wania akan berkurang secara signifikan. Menurutnya, keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada ketersediaan armada pengangkut, tetapi pada perubahan perilaku di tingkat rumah tangga.

"Jika masyarakat sudah tergerak untuk memilah dari rumah, maka 50 persen permasalahan sampah kita di Distrik Wania sebenarnya sudah selesai dari sumbernya," ungkapnya tegas.

Ia menambahkan bahwa Bank Sampah adalah solusi jangka menengah dan panjang, namun pondasi utamanya tetaplah edukasi dan kesadaran warga untuk tidak mencampur sampah sejak awal.

Antusiasme warga yang tinggi membuat Distrik Wania segera mematangkan mekanisme teknis melalui rapat lanjutan pada awal pekan depan. Sebagai langkah awal, masjid akan dipilih menjadi lokasi peluncuran (launching) program ini, mengingat posisinya yang strategis sebagai pusat aktivitas masyarakat.

Harapannya, program ini tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi menjadi gaya hidup baru masyarakat Mimika. Dengan dukungan penuh dari Bupati dan Wakil Bupati Mimika, gerakan ini diproyeksikan menjadi model pengelolaan sampah holistik yang dapat dicontoh oleh distrik-distrik lainnya.

“Bank sampah yang sudah ada merupakan solusi jangka menengah hingga panjang. Yang paling penting adalah perubahan perilaku masyarakat, dimulai dari rumah. Sampah harus dipilah sejak awal,” pungkas Merlyn. (Ian)

Postingan Terbaru