DP3AP2KB Mimika Gandeng Wahana Visi Indonesia, Perkuat Satu Data Percepatan Penurunan Stunting
Pada
19 Feb, 2026
Timika, papuamctv.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Mimika (DP3AP2KB) Kabupaten Mimika resmi menggandeng Wahana Visi Indonesia dalam upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Mimika, yang bertempat di hotel horison Diana, Timika, Papua Tengah, pada Kamis (19/02/2026). Kolaborasi ini difokuskan pada penguatan sistem pendataan dan penyelarasan satu data stunting agar penanganan dapat dilakukan secara menyeluruh dan tepat sasaran.
Kepala DP3AP2KB Mimika, Johana Arwam, menegaskan bahwa kemitraan dengan Wahana Visi Indonesia sangat penting untuk memastikan seluruh anak yang terdampak stunting benar-benar terdata dan mendapatkan penanganan yang optimal.
Menurut Johana, berbagai program penanganan stunting sebenarnya telah berjalan di Mimika. Namun, persoalan utama yang masih dihadapi adalah perbedaan data antarinstansi pemerintah. Hal ini dinilai berpotensi menghambat efektivitas intervensi di lapangan.
“Sebenarnya program sudah banyak, tetapi mungkin datanya kita yang harus bekerja sama supaya satu data. Jangan kita punya data beda dengan yang di Dinas Kesehatan. Harapan kami ke depan itu satu data yang kita pakai. Jadi untuk Kabupaten Mimika itu datanya tidak beda-beda,” ujarnya saat diwawancarai.
Sebelumnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mengklaim angka stunting di Mimika relatif stabil pada kisaran 9 hingga 11 persen, masih berada di bawah angka nasional sebesar 14 persen. Meski demikian, persoalan stunting tetap membutuhkan perhatian serius karena menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Setiap tahun, Dinas Kesehatan melakukan penimbangan terhadap sekitar 25 ribu balita sebagai bagian dari upaya pemantauan pertumbuhan dan deteksi dini stunting. Namun, Johana mengakui masih ada kemungkinan wilayah-wilayah terpencil yang belum terjangkau pendataan secara maksimal.
Ia menyebutkan, meskipun terjadi penurunan angka stunting, pihaknya belum dapat memastikan data terbaru secara komprehensif. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Wahana Visi Indonesia diharapkan mampu memperkuat sistem pendataan hingga ke wilayah sulit dijangkau serta mendorong terwujudnya satu data stunting di Kabupaten Mimika.
Sementara itu, Manajer Unit Perlindungan dan Partisipasi Anak Wahana Visi Indonesia, Satrio Rahargo, menegaskan bahwa kemitraan ini tidak hanya berfokus pada penguatan sistem formal pemerintahan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat di tingkat desa.
Menurutnya, isu stunting tidak semata-mata berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga erat kaitannya dengan perlindungan anak dari kekerasan serta akses terhadap layanan kesehatan yang memadai. Anak-anak yang mengalami kekerasan atau tidak memperoleh layanan kesehatan yang layak memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pertumbuhan.
“Kita dorong juga di tingkat pemerintahan desa sehingga punya alur yang jelas untuk kemudian melaporkan ke tingkat kabupaten,” ujarnya.
Ia optimistis DP3AP2KB memiliki komitmen yang sama dalam upaya perlindungan anak dan percepatan penanganan stunting. Dengan adanya sinergi antara pemerintah daerah dan lembaga mitra, diharapkan sistem pelaporan, pendataan, serta intervensi dapat berjalan lebih efektif dan terintegrasi.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah strategis menuju Mimika bebas stunting, dengan pendekatan yang tidak hanya berbasis data yang akurat, tetapi juga berorientasi pada perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak secara menyeluruh.




















