Evaluasi Dana Otsus, Jhon Magal Tekankan Pentingnya Asrama untuk Bangun Moral Anak Lokal
TIMIKA, papuamctv.com –
Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) versi Musdat, Manuel Jhon
Magal, memberikan catatan kritis terkait pemanfaatan Dana Otonomi Khusus
(Otsus) dan Dana Tambahan Infrastruktur (DTI). Hal ini disampaikannya saat
menghadiri Musrenbang Otsus Kabupaten Mimika di Hotel Horison Ultima Timika,
Selasa (31/3/2026).
Menurut Jhon Magal, kebijakan
pemerintah daerah yang memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak asli
Papua merupakan langkah baik, namun belum menyentuh akar persoalan. Ia menilai,
intervensi pendidikan formal saja tidak akan berhasil selama lingkungan
keluarga di rumah belum mampu memberikan pendampingan yang mumpuni.
Jhon Magal menyoroti kesenjangan
antara anak-anak yang lahir dari orang tua berpendidikan dengan mereka yang
orang tuanya masih awam. Menurutnya, kegagalan dalam pembinaan di tingkat
keluarga berimbas langsung pada kegagalan pendidikan anak.
"Banyak orang tua kita yang masih awam, mereka gagal dalam membina dan mengasuh anak di rumah. Akhirnya, pendidikan gratis itu jadi percuma. Solusinya, Dana Otsus harus digunakan untuk pembinaan di luar sekolah formal melalui pola asrama," tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa melalui
asrama, anak-anak tidak hanya mendapatkan asupan kognitif, tetapi juga
pembinaan moral, mental, dan spiritual. Jhon membuktikan efektivitas metode ini
melalui asrama yang ia kelola sendiri.
"Kami punya 76 anak di asrama dan ratusan lainnya di luar. Guru-guru di sekolah pun mengakui, anak-anak yang tinggal di asrama memiliki karakter dan kemajuan belajar yang jauh lebih menonjol dibanding yang lain," tambahnya.
Selain pendidikan karakter, Jhon
Magal juga mendesak Pemerintah Kabupaten Mimika untuk lebih berani dalam
merencanakan masa depan sumber daya manusia (SDM) lokal melalui institusi
pendidikan kejuruan yang spesifik, seperti SMK Pertambangan dan SMK Pertanian.
Ia menilai, dengan APBD yang
besar serta dukungan dari PT Freeport Indonesia, Mimika seharusnya mampu
memiliki sekolah tinggi atau fakultas pertambangan dan pertanian sendiri agar
anak-anak lokal tidak hanya menjadi penonton di tanah yang kaya ini.
"Negara maju seperti Amerika saja masih memberlakukan kebijakan afirmasi hingga tahun 2024. Kita di Mimika juga harus punya perencanaan matang. Jangan sampai industri pertambangan kita dikuasai oleh lulusan dari luar saja," cetusnya.
Agar Dana Otsus tepat sasaran
hingga ke wilayah pegunungan, Jhon Magal mengusulkan agar pemerintah daerah
membentuk badan khusus yang fokus pada penyaluran dana pendidikan dan
pemberdayaan, alih-alih hanya mengandalkan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) yang
sudah ada.
"Pemda Mimika harus punya future planning yang bagus. Dana Otsus ini harus dirasakan manfaatnya hingga ke gunung-gunung. Dengan teknologi dan sekolah kejuruan yang berkualitas, kita bisa melahirkan wirausaha lokal yang mandiri," tutupnya.
Melalui momentum Musrenbang ini,
diharapkan aspirasi masyarakat adat dapat diakomodasi dalam kebijakan yang
lebih praktis dan menyentuh derajat hidup orang asli Papua secara langsung. (HK)







































