Menitipkan Harapan pada Otonomi Khusus: Ikhtiar APK Mewujudkan Papua yang Sehat dan Cerdas


TIMIKA, papuamctv.com – Ketua Aliansi Pemuda Kamoro (APK) Kabupaten Mimika, Rafael Taorekeyau, memberikan catatan kritis terhadap implementasi Dana Otonomi Khusus (Otsus) dan Dana Tambahan Infrastruktur (DTI) di Kabupaten Mimika. Hal ini disampaikannya di sela-sela Musrenbang Otsus yang digelar di Hotel Horison Ultima Timika, Selasa (31/03/2026).


Rafael menegaskan bahwa pemerintah daerah harus lebih tegas dalam menjalankan fungsi kontrol dan transparansi anggaran agar program kerja yang disusun benar-benar menyentuh akar rumput, terutama bagi masyarakat Asli Papua (OAP), khususnya suku Amungme dan Kamoro.


Sorotan utama Rafael tertuju pada sektor pendidikan. Berdasarkan data terbaru dari Kemendikdasmen per 31 Maret 2026, jumlah peserta didik di 18 distrik di Mimika tercatat sebanyak 74.600 jiwa. Namun, ditemukan residu data NISN tidak valid sebanyak 4.303 siswa akibat data ganda atau kosong.


Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa pada akhir 2024, terdapat sekitar 129,25 ribu penduduk yang dilaporkan tidak sekolah, sementara penduduk dengan lulusan pendidikan tinggi hanya menyentuh angka 6,52%.


"Negara sudah mengalokasikan 30 persen untuk pendidikan dan 20 persen untuk kesehatan. Ini angka yang sangat besar. Namun, melihat masih banyaknya anak yang tidak sekolah di Timika, ini harus menjadi atensi bersama. Dinas terkait harus serius menjalankan program yang sudah dirancang," ujar Rafael tegas.


Di sektor kesehatan, APK menyoroti tingginya tingkat kematian masyarakat asli Papua yang dipicu oleh minimya aksesibilitas. Rafael mengungkapkan bahwa masyarakat dari wilayah pedalaman dan pesisir seringkali terlunta-lunta saat dirujuk ke kota.


"Sampai hari ini, pasien dari pedalaman tidak punya rumah singgah. Mereka terpaksa menumpang di rumah keluarga atau menyewa kos dengan keterbatasan ekonomi. Ini faktor utama tingginya angka kematian OAP. Pemerintah harus segera membangun rumah singgah bagi pasien rujukan," tambahnya.


Sebagai bentuk kontribusi nyata, Aliansi Pemuda Kamoro telah melakukan pendataan mandiri dengan membentuk kelompok pemuda di kampung-kampung untuk menyerap aspirasi langsung dari wilayah terisolasi. Berdasarkan temuan lapangan tersebut, Rafael mengusulkan beberapa poin prioritas untuk anggaran tahun 2027:


1. Sektor Pendidikan:

  • Pemberian beasiswa khusus OAP dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
  • Peningkatan sarana prasarana, termasuk pembangunan asrama siswa di wilayah terpencil.
  • Pelatihan keterampilan berbasis kearifan lokal untuk meningkatkan produktivitas pemuda.

2. Sektor Kesehatan:

  • Pembangunan Rumah Singgah bagi pasien rujukan dari kampung-kampung ke pusat kota.


Menutup wawancara, Rafael mengingatkan pemerintah daerah bahwa tema pembangunan "Orang Papua Sehat, Cerdas, dan Produktif" jangan hanya menjadi slogan di atas kertas.


"Kami paham sistem sudah dirancang secara sistematis dari pusat. Namun, keseriusan dalam mengelola dana di tingkat daerah adalah catatan penting bagi kami. Dana Otsus harus benar-benar keluar dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang ada di tanah Papua, khususnya di Mimika," pungkasnya.
(HK)

 

Postingan Terbaru