Dukung Kunker PKK, Rafael Taorekeyau Harapkan Perubahan Pola Pikir di Mimika Barat Tengah



TIMIKA, papuamctv.com – Kunjungan kerja Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Mimika ke Distrik Mimika Barat Tengah mendapat apresiasi sekaligus catatan kritis dari tokoh pemuda setempat. Ketua Aliansi Pemuda Kamoro, Rafael Taorekeyau, menegaskan bahwa wilayah pesisir membutuhkan sentuhan nyata pemerintah guna mengikis ketimpangan pembangunan yang selama ini memicu berbagai persoalan sosial.


Dalam wawancara eksklusif, Rafael mengungkapkan bahwa minimnya perhatian pemerintah di sektor infrastruktur dan pelayanan dasar menjadi akar permasalahan di wilayah pesisir. Ia mencontohkan konflik yang sempat terjadi di Kapiraya sebagai dampak dari kurangnya kehadiran negara di tengah masyarakat.


"Terjadinya konflik horizontal antar sesama orang Papua di sana itu karena kurangnya sentuhan pembangunan. Wilayah kita jadi rentan dicaplok daerah lain," ujar Rafael. Namun, ia memastikan bahwa saat ini situasi telah kondusif. "Sekarang aman. Ini momentum tepat bagi pemerintah untuk masuk dan menjalankan program pembangunan, kesehatan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi rakyat."


Menyoroti sektor kesehatan, Rafael mendorong TP-PKK untuk mengaktifkan kembali fungsi organisasi hingga ke tingkat distrik dan kampung. Ia menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan bagi ibu-ibu muda mengenai manajemen keluarga dan kesehatan reproduksi.


"Kita punya Puskesmas dan klinik. Saya harap PKK bisa bersinergi dengan tenaga medis untuk memperbanyak sosialisasi. Masyarakat perlu diingatkan terus-menerus agar terjadi perubahan pola pikir tentang pentingnya kesehatan keluarga," tambahnya.


Menjelang Hari Pendidikan Nasional, Rafael memberikan perhatian khusus pada layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ia tidak menampik adanya tantangan budaya, di mana pola hidup semi-nomaden suku Kamoro seringkali membuat anak-anak putus sekolah karena harus ikut orang tua meramu di hutan atau laut.


"Pola hidup masyarakat kita adalah meramu. Saat orang tua mencari makan ke alam, anak dibawa karena khawatir mereka kelaparan di rumah. Di sinilah peran PKK dan organisasi lain sangat dibutuhkan untuk memberi pemahaman bahwa di era globalisasi ini, pendidikan tidak boleh ditinggalkan," jelasnya.


Menurutnya, karakter anak bangsa harus dibentuk sejak usia dini agar mereka memiliki tekad kuat untuk menempuh wajib belajar 13 tahun, hingga ke jenjang perguruan tinggi.


Menutup pernyataannya, Rafael berbagi refleksi pribadi mengenai perjalanan hidupnya. Ia menekankan bahwa di tengah kondisi alam yang mulai rusak, penguasaan ilmu pengetahuan adalah satu-satunya alat bertahan hidup yang relevan.


"Tidak ada cara lain untuk mencapai kesuksesan selain sekolah, sekolah, dan sekolah. Alam kita sebagian sudah rusak. Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada hasil hutan. Kita butuh 'kantor' (pekerjaan formal) dan inovasi baru, dan itu hanya bisa didapat melalui bangku pendidikan," pungkas Rafael dengan tegas.


Diharapkan, kehadiran TP-PKK di Mimika Barat Tengah tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi menjadi pemantik bagi masuknya program strategis pemerintah lainnya secara konsisten dan berkelanjutan. (HK)

 

Postingan Terbaru