Jejak Pengabdian Jems Luis Parera: Dari Pelita Petromax Agimuga hingga Era Digital
TIMIKA, papuamctv.com – Di
balik meja kerjanya yang rapi di SD Inpres Sempan Barat, Jems Luis Parera,
S.Pd, M.Pd, mengenang sebuah masa di mana menjadi guru bukan sekadar profesi,
melainkan misi hidup dan mati. Rabu (29/04/2026), pria yang kini menjabat
sebagai Kepala Sekolah ini berbagi kisah tentang perjalanan 33 tahunnya menempa
mental di tanah Papua khususnya di Kabupaten Mimika.
Perjalanan Jems dimulai pada
tahun 1993. Ia merupakan bagian dari Satuan Bakti Guru (Sat Tigu),
sebuah program strategis kementerian saat itu untuk menjawab krisis tenaga
pendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Sebelum diterjunkan,
mental dan fisiknya digembleng keras di Kelantan.
"Saya dari Sorong, jauh-jauh
mengikuti tim. Begitu ambil SK, saya langsung ditempatkan di Agimuga. Saat itu,
kami tidak tahu tempatnya di mana atau ke sana naik apa. Kami hanya pegang
kertas SK, lalu jalan," kenang Jems.
Tugas pertamanya adalah di SD
YPPK Putsinara. Jems mengenang masa itu sebagai era keemasan pendidikan
yayasan. Tanpa insentif sebesar sekarang, motivasi guru-guru saat itu justru
berada di titik tertinggi. Kehidupan sosial masyarakat pedalaman yang sangat
menghargai guru menjadi "bahan bakar" utama pengabdiannya.
"Masyarakat sangat baik. Dari kebun, mereka sudah siapkan dua ikat hasil bumi; satu untuk pak guru, satu untuk ibu guru. Keladi, pisang, tebu—kebutuhan dapur kami aman meski belum ada tunjangan macam-macam," ujarnya.
Ia juga menceritakan betapa
sakralnya peran seorang kepala sekolah di masa lalu. Jems mengingat sosok Pak
Muspigai, kepala sekolahnya dulu, yang setiap jam 4 subuh sudah berjibaku
dengan lampu petromax.
"Beliau menulis soal ujian di papan tulis saat subuh agar tidak bocor. Semua papan tulis dibawa masuk ke ruangan, ditulis penuh, lalu dihapus lagi untuk mata pelajaran berikutnya. Kami diajarkan administrasi dan ketelitian yang luar biasa di YPPK," tutur Jems dengan mata berbinar.
Kisah pilu juga mewarnai
pengabdiannya. Transportasi yang kini serba mudah, dahulu adalah kemewahan.
Jems mengisahkan momen saat mereka harus mendayung perahu dari Otakwa hingga
Pulau Karaka karena mesin mogok.
"Bayangkan, kami mendayung saat bulan puasa. Teman-teman muslim terpaksa berbuka di atas perahu hanya dengan kelapa tua yang dibuka menggunakan pacul karena tidak ada parang. Itu pengorbanan yang nyata."
Setelah 11 tahun di pedalaman,
Jems pindah ke kota pada 2004 setelah pastor yang mendampinginya wafat. Ia
membawa disiplin sekolah yayasan ke sekolah negeri, membuktikan bahwa
pengalaman di lapangan adalah guru terbaik.
Kini, dengan gelar M.Pd dan
golongan 4C, Jems tidak berhenti belajar. Sejak menjadi Kepala Sekolah pada
2010, ia terus menekankan pentingnya adaptasi teknologi bagi siswa-siswinya di
SD Inpres Sempan Barat.
"Masa depan mereka masih jauh. Saya selalu ingatkan anak-anak untuk tekun belajar, terutama IT. Kalau kurang pemahaman IT, kita akan ketinggalan zaman," tegasnya.
Namun, Jems menyadari bahwa
sekolah bukan faktor tunggal. Peran orang tua adalah variabel paling krusial
dalam keberhasilan pendidikan. Baginya, sinergi antara motivasi guru di sekolah
dan pengawasan orang tua di rumah adalah kunci agar harapan anak-anak bangsa
tidak sirna.
Tiga puluh tiga tahun telah
berlalu sejak Jems pertama kali menginjakkan kaki di Agimuga dengan selembar
kertas SK. Meski zaman telah berubah dari lampu petromax ke layar digital,
semangat "Sat Tigu" dalam dirinya tetap menyala—mengabdi demi masa
depan mutiara-mutiara hitam dari Papua. (HK)





















































