Lentera di Kwamki Narama: Kisah Martha Benamen Pulihkan Pendidikan di Daerah Konflik
TIMIKA, papuamctv.com - Di kawasan Distrik Kwamki Narama,, seorang guru berdiri
tegak. Ia bukan memanggul senjata, melainkan memanggul harapan. Dialah Martha
Welma Benamen, S.Pd., Kepala SMP Negeri 9 Kwamki Narama, Kabupaten Mimika.
Ditemui wartawan pada Rabu (29/04/2026) menyongsong Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Martha membagikan lembar-lembar catatan perjuangannya yang dimulai sejak 2019. Kala itu, ia menerima SK untuk memimpin sekolah yang nyaris mati suri.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di SMPN 9, pemandangan yang menyambutnya bukanlah keriuhan siswa, melainkan hutan dan sekolah yang terbengkalai. "Sekolah itu pernah vakum. Tahun 2019 saya di-SK-kan di sana dengan hanya 18 siswa. Bahkan dari 14 siswa kelas 9, sepuluhnya pergi, sisa empat orang saja," kenang Martha.
Kondisi psikologis guru terpecah, dan lingkungan sekolah menjadi tempat peristirahatan bagi mereka yang terlibat konflik perang suku. Namun, Martha enggan menyerah pada keadaan. Ia merumuskan tiga strategi utama:
- Door to Door: Mencari anak-anak ke
rumah-rumah untuk meyakinkan mereka kembali sekolah.
- Pendekatan Minat: Menjemput siswa dengan
mobil untuk bermain futsal setiap Rabu dan Jumat.
- Formalisasi Komunikasi: Menyurat ke gereja,
pemerintah distrik, hingga kelurahan untuk menegaskan bahwa sekolah telah
aktif kembali.
Perjuangan Martha tidak berjalan mulus. Ia dan timnya pernah dipukul hingga dilempari saat menjemput siswa. Namun, konsistensinya justru meluluhkan hati warga. Ia bahkan mengambil peran sebagai koki demi memastikan perut siswanya terisi.
"Bagaimanapun saya harus masak untuk anak makan. Di sana, yang tugas mengajar, ya mengajar. Yang tidak mengajar, kita masak. Kami ingin menjadikan sekolah sebagai rumah kedua," tutur Martha dengan mata berkaca-kaca.
Bahkan saat kontrak bantuan makanan dari pemerintah terputus, Martha dan para guru rela menggunakan uang pribadi untuk tetap menyediakan makan siang. Bagi mereka, memenuhi kebutuhan dasar siswa adalah kunci agar gairah belajar tidak padam.
Meski berada di daerah Kwanki Narama, SMPN 9 Kwamki Narama tidak membiarkan diri tertinggal secara teknologi. Martha membawa inovasi digital ke ruang kelas. Kini, ujian di sekolah ini tidak lagi menggunakan kertas, melainkan sistem komputer.
Prestasi pun mengalir. Tahun 2023, Martha meraih penghargaan Kepala Sekolah Dedikasi Tingkat Nasional. Tiga gurunya pun lulus seleksi tingkat provinsi sebagai tenaga pendidik berprestasi.
"Saya bilang, anak-anak ini ibarat emas di dalam lumpur yang belum digali dengan tepat. Kami adalah satu-satunya sekolah pinggiran yang ikut Inovasi Daerah. Anak-anak Kwamki tidak boleh kalah dengan anak kota," tegasnya.
Delapan tahun memimpin, Martha telah menciptakan sistem "Kelas Khusus" bagi anak-anak yang sempat tertinggal pelajaran karena tidak pernah masuk sekolah. Mereka diberikan modul khusus agar bisa mengejar ketertinggalan tanpa merasa dihakimi.
Menutup perbincangan, Martha memberikan pesan mendalam bagi seluruh insan pendidikan di tanah Papua. Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pengabdian tanpa pamrih.
"Jika pendidikan tidak dijalani dengan ketulusan, tidak akan pernah ada hasil. Guru itu membangun karakter dengan ketulusan. Di mana bumi dipijak, di situlah kita melayani," pungkasnya.
SMPN 9 Kwamki Narama kini berdiri bukan lagi sebagai sekolah yang sepi, melainkan sebagai mercusuar harapan di tengah tantangan, membuktikan bahwa di tangan pemimpin yang tepat, lumpur konflik sekalipun bisa memunculkan emas yang berkilau. (HK)





















































