Menjemput Rezeki di Arena CFD Mimika: Asa Mama Corry Mengenalkan Kuliner Lokal Papua
TIMIKA, papuamctv.com —
Riuh rendah Car Free Day (CFD) Kabupaten Mimika pada Sabtu (23/05/2026) pagi
itu terasa berbeda di salah satu sudut lapak jualan. Di antara deretan penjual
makanan modern, tampak seorang Ibu Orang Asli Papua (OAP) dengan senyum
ramahnya yang khas. Beliau adalah Mama Corry Wally, salah satu pelaku usaha
mikro yang mencoba mengadu peruntungan dengan menjajakan kekayaan kuliner lokal
bumi Cenderawasih.
Bagi Mama Corry, sabtu pagi ini
adalah momen yang bersejarah. Ini adalah kali pertama dirinya memberanikan diri
membuka lapak di gelaran CFD Mimika. Bermodalkan meja sederhana, ia membawa
cita rasa otentik dapur Papua langsung ke tengah masyarakat yang sedang
berolahraga.
Tak main-main, menu yang
dihidangkan Mama Corry adalah paket lengkap pengobat rindu kuliner lokal. Ia
menyajikan papeda bungkus yang dipadukan dengan ikan goreng garing. Sebagai
pelengkap karbohidrat, tersedia pula singkong rebus yang empuk.
Tak lupa, unsur sayur hijau
tradisional ikut melengkapi lapakannya. Mulai dari tumis jantung pisang, bunga
pepaya yang punya rasa pahit-gurih khas, hingga sambal pedas yang menggugah
selera. Semua disajikan segar, membawa aroma khas masakan rumah.
"Ini baru pertama kali saya
jualan di sini," ujar Mama Corry dengan nada optimis di sela-sela melayani
pembeli.
Pada debut perdananya ini, Mama
Corry membawa total 14 paket kuliner lokal. Hingga matahari mulai meninggi,
sebanyak 5 paket berukuran besar telah laku terjual. Diakuinya, dinamika pasar
di arena CFD memberikan pelajaran berharga bagi usahanya yang baru berjalan
ini.
Mama Corry mematok harga per
paket mulai dari Rp50.000 hingga Rp100.000, tergantung pada kelengkapan
menu yang dipilih pembeli. Namun, dari interaksi langsung dengan warga Mimika
hari ini, ia mendapat sebuah catatan penting.
"Suasana di sini ramai
sekali, bagus. Cuma mungkin harganya yang terasa agak terlalu mahal untuk
ukuran tempat ini (CFD)," ungkapnya jujur.
Meskipun belum semua dagangannya
ludes terjual, tidak ada rasa patah arang di wajah Mama Corry. Evaluasi hari
pertama ini justru menjadikannya lebih jeli melihat peluang ke depan. Ia
berencana menyiasati porsi dan harga agar lebih ramah di kantong pengunjung CFD
pada pekan-pekan berikutnya.
"Iya, mungkin ke depan
harganya akan diturunkan sedikit supaya lebih laris," tuturnya sambil
tersenyum.
Bagi Mama Corry, berjualan bukan
sekadar mencari untung kilat dalam satu hari. Ini adalah tentang konsistensi,
keberanian memulai, dan mengenalkan identitas pangan lokal di tengah gempuran
kuliner modern.
"Yang penting Mama bisa
buktikan, bisa sabar, dan (usaha ini) tetap berjalan," pungkasnya penuh
keyakinan.
Kehadiran Mama Corry Wally di CFD
Mimika menjadi bukti nyata bagaimana perempuan OAP terus bergerak mandiri
secara ekonomi. Lewat sepiring papeda dan sayur bunga pepaya, Mama Corry tidak
hanya menjemput rezeki, tetapi juga sedang merawat warisan kuliner leluhur di
tanah Mimika. (TR)
















