Perkuat Stabilitas Daerah, Pemuda Muslim Mimika Gelar Dialog Lintas Sektor di Cafe Teko
TIMIKA, papuamctv.com – Menanggapi dinamika sosial yang kian kompleks di Papua Tengah, Pemuda Muslim Mimika menyelenggarakan diskusi publik dan deklarasi bersama di Cafe Teko, Mimika, pada Jumat (15/05/2026). Forum ini menjadi wadah krusial yang mempertemukan mahasiswa, tokoh adat, birokrat, hingga aparat keamanan untuk membedah problematika daerah.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh figur-figur strategis, di antaranya Ketua Dewan Adat Daerah (DAD) Mimika Vincen Oniyoma, Kepala Distrik Mimika Baru Merlyn Temorubun, serta perwakilan Kapolres Mimika melalui KBO Sat Binmas Polres Mimika. Hadir pula aktivis mahasiswa dari berbagai organisasi lintas sektoral.
Diskusi yang berlangsung dinamis ini menyoroti sejumlah isu sensitif, mulai dari ancaman radikalisme, konflik horizontal antar-kelompok, hingga penyakit masyarakat seperti peredaran minuman keras (miras).
Ketua DAD Mimika, Vincen Oniyoma, menekankan bahwa masyarakat adat adalah pilar utama dalam meredam gejolak sosial. Ia menyayangkan masih adanya konflik komunal yang kerap pecah di wilayah Papua Tengah.
"Masyarakat adat memiliki peran sentral dalam menjaga persatuan. Kami sedang menyusun draf program kolaborasi bersama TNI dan Polri untuk memperkuat pencegahan konflik dan wawasan kebangsaan. Kami butuh kolaborasi nyata di lapangan," tegas Vincen.
Di sisi pemerintahan, Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, memberikan pemaparan jujur mengenai kendala regulasi dalam menangani persoalan klasik di Mimika, yakni miras dan sampah.
Terkait desakan penghapusan miras, Merlyn menjelaskan adanya batasan kewenangan antara daerah dan pusat.
Regulasi Miras: Kebijakan tidak bisa diputuskan sepihak oleh daerah karena terikat aturan nasional. "Jika ingin perubahan total, intervensi harus datang dari pusat," jelasnya.
Persoalan Sampah: Merlyn mengungkapkan bahwa Perda Sampah tahun 2012 sudah usang dan tidak lagi relevan dengan volume sampah saat ini, sehingga diperlukan pembaruan regulasi segera.
Sebagai solusi konkret, Merlyn menantang para mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi menjadi mitra strategis pemerintah dalam edukasi masyarakat.
"Kenapa tidak gandeng mahasiswa? Mereka adalah motor penggerak yang bisa membantu pemerintah dalam sosialisasi kebersihan hingga pendataan warga," tambah Merlyn.
Sebagai penutup rangkaian acara, seluruh elemen yang hadir sepakat bahwa menjaga keamanan Mimika adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya beban aparat keamanan semata.
"Kalau bukan kita yang menjaga Timika, siapa lagi?" pungkas Merlyn di hadapan para peserta diskusi.
Forum ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya kebijakan publik yang lebih partisipatif dan mempererat sinergi antara 'Tiga Tunggu' (Pemerintah, Tokoh Adat, dan Tokoh Agama) serta generasi muda dalam menjaga stabilitas keamanan di Kabupaten Mimika.
















