Atasi Krisis Dokter Spesialis, Papua Tengah Rombak Total Sistem Perencanaan SDM Medis Lewat Validasi Digital
TIMIKA, papuamctv.com — Kesenjangan
sebaran tenaga kesehatan (nakes) yang timpang di wilayah tertinggal,
perbatasan, dan kepulauan (DTPK) mendorong Pemerintah Provinsi Papua Tengah
mengambil langkah radikal. Pemprov Papua Tengah kini merombak total sistem
perencanaan SDM medis demi mengatasi krisis akut dokter spesialis hingga tenaga
penunjang, mulai dari kawasan perkotaan hingga ke pelosok pesisir dan
pegunungan.
Sebagai langkah awal, Kabupaten
Mimika resmi ditunjuk sebagai proyek percontohan (pilot project)
penghitungan data kebutuhan tenaga kesehatan nasional. Upaya strategis ini
diwujudkan melalui agenda Pendampingan Perhitungan Rencana Pemenuhan Tenaga
Kesehatan yang digelar di Timika, Papua Tengah, Rabu (17/6/2026).
Dalam laporan panitia kegiatan,
ditegaskan bahwa era menentukan jumlah kuota tenaga medis secara intuitif atau
asal tebak telah berakhir. Kepastian jumlah dan jenis tenaga medis di faskes
kini mutlak berbasis validasi digital yang akurat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika
kini mengintegrasikan seluruh basis data fasilitas kesehatan ke dalam aplikasi Rencana
Kebutuhan Kementerian Kesehatan RI. Sistem ini mengukur beban kerja riil di
lapangan menggunakan metode standar nasional, yang nantinya akan menjadi
landasan hukum dan kebijakan pengadaan serta distribusi SDM kesehatan ke depan.
Langkah ini dinilai mendesak
mengingat kondisi riil di delapan kabupaten se-Papua Tengah saat ini diakui
masih sangat jauh dari kata ideal.
![]() |
| Dok. agenda Pendampingan Perhitungan Rencana Pemenuhan Tenaga Kesehatan yang digelar di Timika, Papua Tengah, Rabu (17/6/2026). Foto : Jean |
Kepala Bidang Sumber Daya Manusia
(Kabid SDM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Kristianus Tebai, SKM.,
M.Kes., yang hadir sebagai narasumber, membeberkan fakta memprihatinkan
terkait potret pelayanan kesehatan di wilayahnya. Menurutnya, faskes daerah
saat ini masih sangat kekurangan komoditas krusial seperti ahli gizi, dokter
gigi, hingga terapis gigi.
Lebih mengkhawatirkan lagi,
pasokan dokter spesialis di Papua Tengah sangat minim. Di Kabupaten Mimika
saja, tercatat baru ada dua dokter yang sedang menempuh pemantapan pendidikan
spesialisasi.
"Kami mengupayakan
pemerataan pelayanan kesehatan di delapan kabupaten di Papua Tengah. Melalui
perhitungan kebutuhan ini, kita bisa mengetahui secara pasti di mana titik
kekurangannya, sehingga menjadi dasar kuat dalam pengambilan kebijakan," ujar
Kristianus saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Kristianus tidak menampik bahwa
tantangan geografis ekstrem—berupa pegunungan tinggi yang terjal serta jalur
pesisir yang terisolasi—selama ini memperparah hambatan distribusi nakes.
"Pesisir dan daerah
pegunungan adalah wilayah yang paling jauh. Makanya, pendampingan ini penting
agar mereka bisa menyusun rencana kebutuhan mulai dari unit terkecil (Puskesmas
pembantu) hingga Puskesmas induk. Kita harus punya data yang fix dan fine,"
tambahnya.
Ia juga meminta agar Dinas
Kesehatan di kabupaten lain bersinergi dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD)
melalui integrasi portal data. "Jadi, misalnya 9 jenis tenaga kesehatan
dasar di Puskesmas ada kurang di mana, kita hitung dulu bebannya. Berapa banyak
perlunya, baru diusulkan. Jangan sampai ada kekosongan pelayanan."
Menyikapi krisis ini, Pemprov
Papua Tengah di bawah kepemimpinan Penjabat (Pj) Gubernur telah meluncurkan
program progresif, yaitu merekrut dan menyekolahkan dokter-dokter umum untuk
mengambil pendidikan spesialisasi dan subspesialis.
Menariknya, program beasiswa ini
memberikan prioritas penuh kepada Putra-Putri Orang Asli Papua (POHP),
terutama untuk penempatan di daerah pedalaman dan wilayah rawan konflik.
Kebijakan ini diambil berkaca pada aspek mitigasi keamanan dan keberlanjutan
pelayanan.
"Ketika terjadi permasalahan
atau situasi konflik di lapangan, nakes dari luar sering kali terpaksa
meninggalkan tempat tugas demi keselamatan. Sementara anak asli daerah, mereka
biasanya lebih bertahan, memahami situasi lokal, dan tetap bisa mengakses
penerbangan perintis untuk melayani masyarakat. Target kita ke depan, kita
sudah bisa menggunakan tenaga medis dari anak-anak kita sendiri," jelas
Kristianus optimis.
Untuk tahun anggaran 2026 ini,
Pemprov Papua Tengah menargetkan membiayai pendidikan sebanyak 35 dokter
tangguh, dengan rincian:
- 20 Orang: Dokter umum dan dokter gigi umum.
- 10 Orang: Dokter spesialis.
- 5 Orang: Dokter subspesialis.
Melalui integrasi data berbasis
aplikasi Kemenkes dan akselerasi beasiswa spesialis bagi anak daerah ini,
Provinsi Papua Tengah optimistis dapat memotong mata rantai ketimpangan layanan
kesehatan dan menghadirkan keadilan medis bagi seluruh masyarakat di Papua Tengah. (HK)


















