Dari Mimika untuk Ketahanan Pangan: Kisah Remando Dolame, Pemuda Suku Amungme yang Menembus Panggung Nasional
GORONTALO, papuamctv.com —
Semangat kemandirian ekonomi kini bergaung kencang dari ufuk timur Indonesia. Remando
Dolame, seorang pemuda asli suku Amungme dari Kabupaten Mimika, Papua Tengah,
membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah sekat untuk menembus panggung nasional.
Kehadirannya di Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 yang digelar di
Kabupaten Gorontalo (20–25 Juni 2026) menjadi representasi nyata dari potensi
besar generasi muda Papua di sektor agribisnis.
"Saya pribadi sangat bangga
bisa menjadi salah satu anak muda yang mewakili daerah untuk mengikuti event
tingkat nasional ini," ujar Remando dengan rona bahagia saat ditemui di
sela-sela persiapan pembukaan acara, Jumat (19/6/2026).
Bagi Remando, kesempatan ini
bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan momentum emas untuk menyerap inovasi
demi memperkuat fondasi ketahanan pangan di tanah kelahirannya.
Kisah sukses Remando tidak
terjadi dalam semalam. Langkahnya di dunia wirausaha dimulai pada tahun 2020
dengan modal awal yang relatif kecil, yakni 500 ekor ayam petelur. Lewat
ketekunan, pengelolaan yang disiplin, dan kejelian melihat pasar, usahanya
terus berkembang secara signifikan.
Pada tahun 2026 ini, populasi
ternak ayam petelur yang dikelolanya telah melonjak tajam hingga mencapai lebih
dari 3.000 ekor.
Skala Usaha Remando Dolame
(2020 - 2026):
- 2020: Awal mula merintis dengan 500 ekor
ayam.
- 2026: Berkembang pesat hingga mengelola
lebih dari 3.000 ekor ayam petelur.
Produksi telur dari peternakan Remando
kini didistribusikan secara luas melalui sistem kemitraan, menyuplai kios-kios
lokal, hingga mengisi lapak-lapak di pasar tradisional Mimika. Melalui rantai
pasok ini, ia tidak hanya meraup keuntungan finansial, tetapi juga memberikan
dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
"Dampak positifnya kita
sama-sama untung. Kami bisa menyiapkan stok pangan yang sehat untuk masyarakat
Kabupaten Mimika, sehingga warga setempat bisa mendapatkan telur yang segar,
baik, dan berkualitas tinggi," jelasnya.
Keberhasilan Remando juga
memotret pentingnya kehadiran regulasi dan dukungan pemerintah daerah (Pemda)
dalam ekosistem kewirausahaan. Ia mengakui, konsistensi dan motivasinya yang
tidak pernah padam tidak lepas dari peran aktif Dinas Peternakan Kabupaten
Mimika.
"Pemerintah di Kabupaten
Mimika melalui Dinas Peternakan selalu mendorong kami untuk bisa beternak
dengan baik. Mereka selalu memperhatikan kami, memberikan bantuan pakan secara
berkala, dan terus memberikan dukungan moral. Salah satu buhktinya adalah
kesempatan bagi saya untuk ikut event nasional ini," kata Remando
sebagai bentuk apresiasi kepada Pemkab Mimika.
Di Gelora Malino, Gorontalo, Remando
mengaku siap berdiskusi, bertukar pikiran, dan membawa pulang berbagai inovasi
teknologi peternakan modern untuk diterapkan di Mimika. Ia bertekad untuk
menjadikan usahanya sebagai role model (percontohan) bagi peternak lain
maupun pemuda yang baru ingin memulai usaha.
Perjalanan Remando Dolame
membuktikan bahwa sinergi antara semangat juang pemuda dan keberpihakan
pemerintah daerah mampu melahirkan dampak ekonomi yang konkret. Di akhir
wawancara, Remando memberikan pesan kuat yang membakar semangat generasi muda
di seluruh tanah Papua.
"Mewakili anak muda, saya
mengajak seluruh pemuda Papua—khususnya di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dan
seluruh Papua—mari kita mulai berwirausaha. Jangan takut, jangan malu, dan
jangan malas. Kita bisa mulai dari peternakan ayam atau sektor lainnya. Apapun
itu, asal ada niat dan semangat, kita pasti bisa jalan," pungkasnya dengan
nada optimis.
Langkah kaki Remando di PENAS
XVII 2026 adalah potret dari optimisme baru Papua. Sebuah bukti bahwa di tangan
generasi muda yang progresif, ketahanan pangan daerah bukan lagi sekadar
wacana, melainkan realitas yang sedang dibangun. (HK)

.jpeg)
















