Memangkas Ego Sektoral, Mimika Kejar Target Nol Stunting Lewat Strategi Konvergensi 100 Persen
TIMIKA, papuamctv.com —
Pemerintah Kabupaten Mimika menunjukkan komitmen progresif dalam memerangi
tengkes (stunting). Memasuki tahun 2026, strategi penanganan di tingkat
daerah mengalami transformasi regulasi yang signifikan. Jika sebelumnya mengacu
pada 8 aksi konvergensi, kini sistem tersebut dipangkas menjadi 4 aksi demi
efisiensi birokrasi, tanpa mengurangi substansi pelaporan data.
Langkah cepat ini langsung
membuahkan hasil konkret. Target penginputan data intervensi stunting
pada Web Bangda (Pembangunan Daerah) Kementerian Dalam Negeri untuk seluruh
wilayah distrik di Kabupaten Mimika kini telah menyentuh angka 100 persen.
Kabid Dinas Pemberdayaan
Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
(DP3AP2KB) Kabupaten Mimika, Supiah Narawena, Amd.Kep, menegaskan bahwa
pencapaian ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan Wakil Bupati
Mimika.
"Kemarin dari siang sampai
sore, (progres) kami sudah 100 persen. Kekurangan di beberapa distrik yang
sebelumnya sempat tertunda kini sudah rampung, dan hasilnya telah kami laporkan
langsung kepada Bapak Wakil Bupati," ujar Supiah di sela-sela agenda
Analisis Data Aksi Konvergensi di Timika.
Kegiatan krusial yang dijadwalkan
berlangsung selama lima hari hingga Sabtu (13/6) mendatang ini memfokuskan diri
pada Aksi 1 (Analisis Situasi) dan Aksi 2 (Rencana Kegiatan). Melalui bantuan
pendampingan teknis, tim penanganan kini tengah melakukan evaluasi mendalam
berbasis data capaian tahun 2025 untuk melengkapi indikator yang kurang di
tahun 2026.
Supiah menepis anggapan bahwa
digitalisasi pelaporan melalui Web Bangda mempersulit kerja birokrasi di
lapangan. Sebaliknya, sistem visualisasi data ini justru mempermudah pemetaan
kasus secara presisi hingga ke tingkat kampung.
Melalui sistem terintegrasi ini,
pemerintah dapat memetakan:
- Angka riil keluarga berisiko stunting.
- Jumlah bayi dengan kondisi kurang gizi atau marasmus.
- Prevalensi bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR).
"Ini sebenarnya instrumen
untuk melaporkan apa yang sudah dikerjakan oleh seluruh OPD dan distrik. Kalau
kita bekerja keras di lapangan tapi tidak dilaporkan, pusat akan menganggap
kita tidak bekerja," jelas Supiah. "Lewat data ini, kita bisa
mengevaluasi apakah anggaran yang dikucurkan sebanding dengan hasil yang
dicapai, serta memastikan intervensi tahun depan tepat sasaran."
Menariknya, transparansi data ini
kini bersifat terbuka. Pihak luar maupun lembaga non-pemerintah (NGO/WVE) dapat
mengakses data pelaporan ini melalui koordinasi dengan operator teknis,
sekaligus mematahkan spekulasi bahwa Mimika kekurangan basis data stunting
yang valid.
Lebih dari sekadar persoalan
administratif, Aksi Konvergensi ini menjadi momentum krusial untuk meruntuhkan
"ego sektoral" yang kerap menjadi penyakit menahun dalam birokrasi.
Penanganan stunting, menurut Supiah, tidak bisa hanya mengandalkan
intervensi nutrisi semata, melainkan pemenuhan infrastruktur dasar secara
simultan.
Narasi kolaborasi ini bukan
sekadar target di atas kertas, melainkan sebuah cetak biru (blueprint)
masa depan yang dinanti oleh masyarakat Mimika. Melalui integrasi total ini,
Kabupaten Mimika menaruh harapan besar agar mata rantai tengkes (stunting)
dapat benar-benar diputus hingga ke akarnya.
Melalui sistem data Web Bangda
yang kini telah menyentuh angka 100 persen, potret masa depan Mimika yang
diharapkan kian jelas:
- Respons Kilat Lapangan: Tidak ada lagi jeda
waktu yang lama antara penemuan kasus gizi buruk dengan perbaikan
infrastruktur lingkungan di tingkat distrik dan kampung.
- Efisiensi Anggaran Mutlak: Setiap rupiah
APBD yang dikucurkan benar-benar mengunci target yang sama, mengakhiri era
program tumpang tindih yang tidak tepat sasaran.
- Kemandirian Tiga Pilar: Harmonisasi antara Operator Distrik, Puskesmas, dan PLKB berjalan otomatis sebagai mesin penggerak yang solid di akar rumput.
Pada akhirnya, muara dari seluruh
kerja keras ini bukan sekadar mengejar predikat opini bagus atau insentif
fiskal dari pemerintah pusat. Harapan tertingginya adalah lahirnya generasi
baru Mimika yang tumbuh dengan fisik yang kuat, kecerdasan yang prima, dan siap
membawa daerah ini menuju peradaban yang lebih maju. Sebuah masa depan di mana
kata 'stunting' hanya akan menjadi catatan sejarah masa lalu di Bumi
Amungsa.
"Selama ini ego sektoral
kita tinggi. Saya bawa ini, dinas lain bawa itu, akhirnya tumpang tindih. Lewat
konvergensi ini, kita turun bersama. Jika di Kampung Atuka butuh air bersih,
kita langsung hubungi Dinas PU. Jika butuh pemenuhan gizi, PKK dan Dinas
Pemberdayaan Perempuan yang bergerak. Ada yang butuh jamban atau rumah layak
huni, semua terkaver secara gotong royong," urainya.
Keberhasilan mempertahankan data
100 persen ini membawa memori positif bagi Kabupaten Mimika. Pada tahun 2024
lalu, komitmen ini membuahkan penghargaan (reward) penanganan stunting
dari Penjabat Gubernur Papua Tengah saat itu, berupa dana insentif fiskal
senilai Rp2 Miliar dalam skema APBD.
Meski ada peluang untuk kembali
meraih penghargaan di tingkat provinsi maupun pusat tahun ini, Supiah
menegaskan bahwa fokus utama tim bukanlah insentif materi.
"Kami bukan sekadar berharap
uangnya, tetapi bagaimana komitmen kita agar program yang diturunkan ini
benar-benar tepat sasaran dan angka stunting di Mimika bisa turun
drastis," tegasnya.
Di akhir penjelasannya, Supiah
memberikan pesan kuat kepada para tenaga kesehatan (Nakes), kader, dan tiga
pilar utama operator di lapangan: Operator Distrik, Puskesmas, dan Petugas
Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).
"Kita ini kerja tim, dari
kampung, distrik, hingga ke kota. Tiga elemen operator ini harus sejalan dan
menjaga koordinasi dengan baik. Penginputan tidak akan berjalan jika distrik
belum bergerak. Saya berharap tim tetap kompak, konsisten, sehingga Aksi 1, 2,
3, hingga Aksi 4 dapat rampung seluruhnya tahun ini," pungkasnya optimis. (TR)

























