Memutus Mata Rantai Masalah Gizi di Distrik Wania: Kolaborasi Pangan Lokal, Intervensi Remaja, hingga Misi Menurunkan Stunting


 

TIMIKA, papuamctv.com – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Wania terus memperkuat komitmennya dalam memerangi masalah gizi kronis di wilayah kerjanya. Melalui pendekatan integratif yang melibatkan pemanfaatan pangan lokal, sinergi lintas sektor, hingga intervensi dini pada remaja putri, Puskesmas Wania optimis dapat melahirkan generasi emas yang bebas dari ancaman gizi buruk dan stunting.

 

Penanggung Jawab Program Gizi Puskesmas Wania, Yani Abubakar, mengungkapkan bahwa salah satu pilar utama yang saat ini sedang dipersiapkan adalah pelaksanaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Program yang didukung oleh dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Dana Logistik Khusus ini menyasar kelompok rentan: balita dengan masalah gizi (gizi kurang, berat badan kurang, dan balita dengan berat badan dua kali berturut-turut tidak naik/2T), serta ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau berisiko KEK.

 

"Saat ini kami sedang dalam tahap persiapan matang setelah melakukan pertemuan koordinasi. Tim kami masih bergerak di lapangan untuk melacak dan memvalidasi alamat lengkap beberapa sasaran agar distribusi tepat sasaran," ujar Yani saat ditemui wartawan.

 

Satu hal yang menarik dari program PMT di Puskesmas Wania adalah konsep multiplier effect yang diusungnya. PMT yang diberikan tidak menggunakan produk pabrikan, melainkan mengoptimalkan potensi pangan lokal seperti pisang, keladi, dan petatas (ubi jalar).

 

Formulasinya diatur dalam bentuk 6 kali kudapan dan 1 kali makan lengkap. Dalam eksekusinya, Puskesmas Wania bermitra dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. UMKM inilah yang kemudian membeli bahan baku langsung dari "mamak-mamak" pedagang di pasar tradisional.

 

"Jadi ada perputaran ekonomi dan manfaat langsung bagi mamak-mamak penjual di pasar. Bahan-bahan lokal seperti keladi dan petatas tersebut diolah menjadi kue kudapan yang sudah diperhitungkan dengan cermat jumlah kalori dan proteinnya, sehingga pas untuk kebutuhan gizi anak-anak," jelas Yani. Untuk distribusinya, Puskesmas mengandalkan jaringan kader posyandu yang mengantarkan langsung ke rumah anak-anak yang membutuhkan.

 

Program intervensi gizi ini bukan merupakan proyek instan. Keberhasilan program ditopang oleh pemantauan berkala yang ketat—baik harian maupun mingguan—dengan durasi intervensi yang bervariasi:

  • Balita 2T: Diintervensi selama 14 hari.
  • Balita Berat Badan Kurang: Diintervensi selama 28 hari.
  • Balita Gizi Kurang: Diintervensi selama 56 hari.
  • Ibu Hamil KEK: Diintervensi selama 120 hari tanpa putus.

 

Jika dalam masa pemantauan status gizi anak belum menunjukkan perubahan atau ditemukan masalah kesehatan penyerta, Puskesmas segera mengambil langkah rujukan medis untuk penanganan lebih lanjut.

 

Langkah Puskesmas Wania kian diperkuat dengan adanya kolaborasi pasokan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan kemitraan strategis. Setelah tahun lalu disokong oleh CSR Bank BRI, tahun ini Puskesmas Wania menggandeng Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten untuk program Anak Asuh Stunting.

 

"Saat ini sudah berjalan dua hari untuk empat anak asuh dari Dharma Wanita—dua anak di wilayah Nawaripi dan dua di Kamoro Jaya. Saya menyusun langsung menu khusus tinggi protein dan cukup karbohidrat, vitamin, serta mineral dengan tata laksana stunting untuk pemantauan tiga bulan ke depan," tambahnya.

 

Berkat kerja keras ini, angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Wania menunjukkan tren penurunan yang signifikan, kini berada di angka 14,23%. Angka ini mendekati target nasional dan pihak Puskesmas optimis angka tersebut dapat ditekan hingga di bawah 14% pada akhir tahun ini.

 

Selain fokus pada balita dan ibu hamil, Puskesmas Wania juga mengambil langkah preventif dari hulu dengan menyasar remaja putri sebagai calon ibu masa depan. Melalui program penapisan (screening) hemoglobin (HB) di sekolah-sekolah, ditemukan bahwa angka anemia di kalangan remaja putri masih cukup tinggi.

 

Kondisi ini diperparah oleh faktor endemisitas malaria di wilayah tersebut. Yan menjelaskan bahwa penularan malaria merusak sel darah merah, yang secara otomatis memicu penurunan kadar hemoglobin drastis atau anemia.

 

Sebagai solusinya, Puskesmas Wania merutinkan kembali pendistribusian Tablet Tambah Darah (TTD) ke sekolah-sekolah di wilayah Wania setiap bulannya. Pemantauan konsumsinya dilakukan secara ketat bekerja sama dengan para guru. Ke depan, Puskesmas juga akan mengintegrasikan program ini dengan pemeriksaan Calon Pengantin (Catin).

 

Sebagai penutup, Yani memberikan tips bagi para remaja agar tetap menjaga kesehatan di tengah gempuran tren gaya hidup modern.

 

"Lifestyle boleh saja, tapi dalam hal gizi harus pintar memilah. Perhatikan kandungan gizi makanan kemasan dan batasi frekuensinya. Bagi remaja putri, jangan canggung atau malu minum Tablet Tambah Darah seminggu sekali, dibarengi vitamin C dari buah atau sayur, terutama yang sering terkena malaria. Cegah gejalanya—seperti pusing, kunang-kunang, dan 5L (Lemah, Letih, Lesu, Loyo, Lunglai)—sejak dini. Remaja yang sehat adalah kunci lahirnya generasi emas penerus estafet bangsa," pungkasnya. (TR)

 

Postingan Terbaru