Sentuhan Jiwa dari Timika: Isak Msen Gaungkan Seni Lukis Papua di Panggung PENAS 17 Gorontalo

 


GORONTALO, papuamctv.com – Riuh rendah ajang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII yang berlangsung di Provinsi Gorontalo hari ini mendadak khidmat di sudut stan pameran Kabupaten Mimika. Di sana, Isak Msen, seorang pelukis putra asli Papua asal Kabupaten Mimika, tengah bersiap melakukan aksi yang memukau pengunjung: sebuah demonstrasi lukis langsung (live painting).

 

Namun, ada yang berbeda dari goresan kuas Isak kali ini. Alih-alih mengeksplorasi burung Cenderawasih yang menjadi ikon tanah kelahirannya, Isak memilih melakukan perkawinan budaya dan pariwisata yang apik sebagai bentuk penghormatan bagi tuan rumah.

 

"Hari ini kami ada kegiatan demonstrasi lukis. Temanya adalah melukis salah satu tokoh penting di Provinsi Gorontalo yang dipadukan dengan objek wisata paling terkenal di sini, yaitu Hiu Paus Shirley," ujar Isak di sela-sela persiapannya, Sabtu (20/6).

 

Bagi Isak, seni rupa bukan sekadar hobi pengisi waktu luang, melainkan bagian tak terpisahkan dari denyut nadinya. Berlatar belakang pendidikan akademis seni rupa murni, ia lebih memilih melabeli dirinya sebagai "pekerja seni" ketimbang seniman—sebuah penegasan bahwa seni adalah profesi yang ia geluti dengan dedikasi tinggi di samping tanggung jawab lainnya.

 

Isak menekankan bahwa melukis adalah proses spiritual yang menuntut keikhlasan dan kestabilan emosi.

 

"Kita melukis itu memang dari jiwa. Bahkan ada karakter lukisan tertentu yang tidak bisa kita lukis kalau suasananya tidak pas (good mood). Kalau dipaksakan, seperti melukis potret wajah, hasilnya bisa tidak mirip. Jadi, memang harus dari keikhlasan jiwa," tuturnya mendalam.

 

Langkah Isak hingga bisa menembus panggung nasional di PENAS Gorontalo tidak lepas dari payung fasilitasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika. Isak mengapresiasi peran Dekranasda yang terus menjadi ujung tombak pemasaran dan wadah bagi para perajin lokal. Ia berharap, ke depan organisasi ini semakin sukses melahirkan aktor-aktor seni baru yang mampu menghasilkan produk buatan tangan (handmade) berkualitas terbaik.

 

Meski kerap mendapatkan kesempatan tampil di berbagai ajang berkat dukungan dinas terkait, Isak tidak menampik adanya ruang evaluasi yang besar bagi pemerintah daerah. Hingga saat ini, ia merasakan belum ada program pembinaan atau pendampingan yang spesifik mengakar pada seni rupa, khususnya seni lukis.

 

Dukungan yang ada selama ini dinilai baru sebatas pemberian ruang tampil, belum menyentuh program berkelanjutan. Sektor jasa kreatif ini diharapkan dapat dilirik lebih serius oleh dinas terkait, seperti Dinas Koperasi dan UMKM, untuk menjadi jembatan kesejahteraan bagi para pekerja seni di Mimika.

 

Di balik goresan kuasnya yang sarat estetika, Isak menitipkan pesan kuat bagi rekan-rekan seprofesinya di tanah Papua.

 

"Tetap berkarya sesuai kelebihan dan kemampuan yang kita punya, dan biarkan karya itu yang berbicara. Selalu perhatikan kualitas, terutama untuk karya-karya yang sifatnya komersil," tegasnya memotivasi.

 

Narasi perjalanan Isak kian menyentuh ketika ia mengutarakan rasa terima kasihnya kepada keluarga kecilnya di Timika. Baginya, sang istri bukan sekadar pendamping hidup, melainkan kritikus sekaligus mentor terbaik.

 

Istri Isak, yang juga merupakan seorang sarjana seni rupa dan kini mengajar di SMA Negeri 6, menjadi pilar utama yang terus menyuntikkan motivasi dalam setiap karya yang ia lahirkan.

 

Kehadiran Isak Msen di PENAS 17 Gorontalo menjadi bukti nyata: integritas karya yang lahir dari kesucian jiwa harus dibarengi dengan dukungan struktural yang kuat dari pemerintah. Hanya dengan cara itu, harkat pekerja seni lokal dapat terangkat, melintasi batas daerah hingga diakui di level internasional. (HK)

 

Postingan Terbaru