Wabup Mimika Berang Anggaran Stunting Menguap, Kadis DP3AP2KB Bongkar Realitas Pahit Taruhan Nyawa di Lapangan
TIMIKA, papuamctv.com – Wakil Bupati
Mimika, Emanuel Kemong, mengambil sikap tegas dalam menyikapi lambannya
penanganan stunting dan karut-marutnya sinkronisasi data antar-instansi di
Kabupaten Mimika. Dengan nada bicara penuh penekanan, ia menginstruksikan
perombakan total pola kerja birokrasi dan memerintahkan seluruh Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) untuk menghentikan program yang hanya bersifat
"mimpi" di atas kertas.
Ketegasan ini diluapkan Wakil
Bupati saat memberikan arahan dalam Kegiatan Advokasi Program Pembangunan
Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) pada Selasa, 9
Juni 2026. Pertemuan ini menjadi ajang evaluasi krusial setelah Kepala Dinas
DP3AP2KB Mimika, Johana Anatje Belandina Arwam, S.Pd., terlebih dahulu
membongkar rentetan kendala miris yang dihadapi para petugas di garda terdepan.
Sebelum Wakil Bupati memberikan
arahan kerasnya, Kepala Dinas DP3AP2KB, Johana Anatje Belandina Arwam, membuka
tabir realitas betapa beratnya perjuangan para petugas distrik dan kader di
lapangan. Johana, yang juga mantan Kepala Distrik, meminta para pengambil
kebijakan di tingkat atas untuk membuka mata terhadap kondisi geografis Mimika
yang ekstrem.
"Contoh di Mimika Barat
Jauh. Kami ke sana naik speedboat sangat tergantung kondisi lautan.
Kalau lautannya bagus, kami selamat. Tapi kalau lautannya sudah 'putih-putih'
(berombak besar), taruhannya antara hidup atau mati. Kadang saya mau memaksa
teman-teman di lapangan, saya harus berpikir dua kali karena tantangannya
berat," ungkap Johana dengan nada getir.
Selain faktor alam, Johana
mengevaluasi tiga masalah utama yang selama ini menyandera kinerja jajarannya:
- Ironi Anggaran Gizi Spesifik: Johana
membeberkan ketimpangan anggaran anggaran yang condong ke proyek fisik
padat karya di distrik, sementara intervensi gizi terkesan dianaktirikan.
"Izin Bapak Wakil Bupati, anggaran program Dapur Sehat Atasi Stunting
(Dapur Dahsyat) kami hanya Rp44 juta. Dengan harga barang yang melambung
tinggi di Mimika, uang Rp44 juta itu bisa bikin apa untuk melatih
pengolahan pangan lokal?" kritiknya terbuka.
- Insentif Kader Tidak Manusiawi: Ia menyoroti
nasib Kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang hanya dibayar Rp170.000
hingga Rp350.000 per bulan. "Mereka ujung tombak yang jalan dari
rumah ke rumah. Sepatu dan sandal mereka rusak, motor butuh BBM. Kalau
Ketua RT bisa dapat Rp1 juta, kenapa kader yang mengurus nyawa anak
stunting tidak bisa dinaikkan?" cecar Johana meminta pergeseran
anggaran fisik untuk insentif.
- Aplikasi Digital vs Sinyal Telkomsel:
Petugas lapangan kerap disalahkan karena lambat menginput data, padahal
fasilitas tidak memadai. Guna mengatasi hal itu, DP3AP2KB berinisiatif
membagikan 13 unit laptop ke petugas. "Satu kabupaten ini semua
bertabrakan dengan Telkomsel. Wi-Fi kadang baik, kadang tidak. Kita paksa
mereka bikin laporan, tapi jaringannya sulit setengah mati,"
tambahnya.
Mendengar rentetan evaluasi dan
keluhan riil dari Kepala Dinas DP3AP2KB, Wakil Bupati Emanuel Kemong langsung
merespons dengan instruksi keras. Ia menyoroti ego sektoral di mana hampir
seluruh instansi—mulai dari Dinas Kesehatan, Pendidikan, Perikanan, hingga
Pertanian—mempunyai plot anggaran stunting masing-masing, namun realisasinya di
tingkat distrik dinilai tidak sinkron dan berjalan sendiri-sendiri.
"Semua OPD katakan ada
anggaran. Tapi kalau semua punya, lalu bagaimana cara menjalankannya? Kenapa
sampai di distrik, mereka bilang tidak punya uang? Kalau kita buka data,
hasilnya nol. Ini berarti ada kantor distrik yang lumpuh," cecar Emanuel
di hadapan para kepala distrik yang hadir.
Emanuel bahkan tidak
menyembunyikan kekesalannya terhadap rendahnya kedisiplinan aparat distrik yang
memperparah buruknya pelaporan data stunting yang dikeluhkan Kadis DP3AP2KB.
"Kemarin-kemarin saya masuk ke kantor distrik, rasanya mau kasih rusak pintu
kantor saja karena tidak pernah ada aktivitas di situ. Bagaimana data mau
sinkron kalau aparatnya tidak aktif? Mulai hari ini, irama pekerjaan harus
selaras!" tegasnya.
Guna memotong benang kusut
kendala anggaran dan operasional yang dibeberkan oleh Kadis DP3AP2KB, Wakil
Bupati mengeluarkan tiga instruksi mendasar:
1. Terapkan Strategi
Intervensi Wilayah ("Sistem Keroyok")
Emanuel melarang keras anggaran
stunting dibagi rata secara tipis ke seluruh wilayah yang membuat program
menjadi tidak berdampak.
"Selama ini anggaran kita
melebar, akhirnya data berantakan. Mulai sekarang kita tetapkan wilayah
intervensi dolo. Enam bulan pertama, kita tetapkan wilayah satu, distrik satu,
dua, tiga, dan empat. Enam bulan itu kita keroyok sama-sama di situ sampai
tuntas, baru kita pindah ke distrik berikutnya!" perintah Wabup.
2. Bentuk Satgas Khusus di
Bawah Komando Langsung Wabup
Pemerintah daerah tidak akan lagi
sekadar menerima laporan formalitas dari balik meja kerja. Emanuel menegaskan
dirinya telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Khusus penanganan stunting.
"Saya mau turun langsung lihat ke bawah. Jangan sampai kita bicara uangnya
besar, tapi praktiknya di bawah tidak pernah menyentuh dan menyelesaikan
masalah inti," ujarnya.
3. Stop Program
"Mimpi" di Musrenbang, Fokus pada Realita
Ia memberikan peringatan keras
kepada para kepala distrik agar menyusun program berdasarkan data riil di
lapangan, bukan formalitas tahunan.
"Jangan selalu komitmen di
atas kertas saja. Jangan buat rencana yang mimpi-mimpi, tapi lihat fakta. Data
menunjukkan terjadi stunting di situ, kurang gizi di situ, itu yang diangkat!
Kita susun program berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat," cetus Emanuel.
Menutup jalannya evaluasi, Wakil
Bupati meminta agar masukan dari Kepala Dinas DP3AP2KB terkait keterbatasan
operasional segera dibahas dan dicarikan solusi dalam beberapa hari ke depan.
Namun, ia menegaskan keterbatasan bukan alasan untuk mandek.
Ia memerintahkan adanya
sinkronisasi data (mix) antara petugas Puskesmas, staf distrik, kepala
kampung, hingga kader PKK yang baru dilantik.
"Kita punya kekurangan, tapi
sebagai ASN kita punya tanggung jawab terhadap masyarakat. Jika setelah rapat
evaluasi ini anggaran sudah diperbaiki tetapi program tetap tidak jalan-jalan,
maka saya yang akan mempertanyakan langsung apa kapasitas Bapak dan Ibu
sekalian dalam jabatan ini," pungkas Emanuel Kemong menutup arahannya
dengan berbobot. (HK)


























