Bentengi Tradisi dari Era Digital, 100 Pemuda Amungme dan Kamoro Asah Seni Musik Tradisional di Mimika



TIMIKA, papuamctv.com — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) menggelar Pelatihan Musik Tradisional bagi 100 pemuda dan pemudi dari Suku Amungme dan Kamoro (AMOR). Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai Selasa (14/7/2026) hingga Jumat (17/7/2026), ini menjadi langkah konkrit pemerintah daerah dalam membentengi warisan budaya lokal dari gempuran modernisasi.

 

Diikuti oleh perwakilan dari 22 sanggar seni di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, para peserta terdiri atas perimbangan yang seimbang, yakni 50 pemuda Amungme dan 50 pemuda Kamoro.

 

Selama empat hari masa pelatihan, para peserta dibekali dengan pendalaman teori serta praktik musik tradisional secara intensif.

  • Hari Pertama: Peserta menerima pembekalan materi akademis dan dasar musik yang disampaikan oleh Nelinio Pieter Moses Parinussa, dosen Sekolah Tinggi Agama Kristen Indonesia (STAKIN) Jayapura.
  • Hari Kedua: Fokus materi bergeser pada teknik dan eksplorasi musik khas daerah bersama maestro lokal, yakni Dominggus Kapiyau (pemusik Suku Kamoro) dan Frans Timang (pemusik Suku Amungme).
  • Hari Terakhir: Pelatihan ditutup dengan panggung apresiasi. Seluruh peserta memamerkan kebolehan membawakan lagu-lagu daerah dengan iringan instrumen musik tradisional serta alunan petikan ukulele dan gitar.

 

Plt. Kepala Dinas Budparekraf Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, menegaskan bahwa kegiatan yang baru pertama kali digelar secara khusus untuk seni musik tradisional Amungme dan Kamoro ini lahir dari tanggung jawab moral pemerintah daerah.

 

"Pemerintah daerah punya kewajiban wajib untuk melindungi, mengangkat, dan mempromosikan budaya. Musik-musik tradisional kita ini sudah mulai terancam hilang ditelan zaman dan tergerus oleh arus musik modern maupun platform digital seperti YouTube," ujar Elisabeth.

 

Elisabeth menambahkan, pemajuan kebudayaan di Mimika tidak boleh hanya berfokus pada seni kriya seperti ukiran atau anyaman semata, tetapi juga harus menyasar seni pertunjukan seperti tarian dan musik.

 

Disbudparekraf Mimika memastikan pembinaan ini tidak berhenti sebatas seremonial pelatihan. Pemerintah telah menyiapkan alur pembinaan jangka panjang untuk memotivasi generasi muda dalam berkarya.

 

Kedepannya, pemerintah daerah merencanakan menggelar kompetisi antar sanggar untuk menjaring bakat terbaik yang mampu menciptakan karya-karya lagu tradisional baru.

 

"Kami tidak cuma selesai hari ini. Dari kelompok-kelompok ini, kami dorong mereka berkreasi menciptakan lagu-lagu baru. Selanjutnya kami akan buat lomba, dan yang terbaik akan kami dampingi hingga masuk ke tahap perekaman (recording) untuk memproduksi album musik tradisional Amungme dan Kamoro," jelas Elisabeth.

 

Guna menjaga keberlanjutan program tersebut, Disbudparekraf Mimika juga akan menggandeng lembaga pendidikan tinggi akademis untuk ikut mengawasi serta mendampingi pembinaan talenta-talenta muda Papua tersebut secara konsisten.

 

Postingan Terbaru