Dorong Kemandirian Ekonomi, Disperindag Mimika Latih 6 Sanggar Menjahit Plus Salurkan Bantuan Modal Usaha
TIMIKA, papuamctv.com —
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika secara resmi
menutup kegiatan pelatihan jahit-menjahit yang berlangsung selama tiga hari di
halaman Kantor Disperindag Mimika pada Kamis (23/7/2026).
Pelatihan yang telah berlangsung
sejak Selasa (21/7/2026) ini menghadirkan tim pemateri dari internal
Disperindag Mimika serta instruktur berpengalaman dari Ikatan Penjahit
Indonesia (IPI).
Kegiatan tersebut diikuti oleh 36
peserta perwakilan dari enam sanggar lokal, yakni Kelompok Aziz Art, Kelompok
Boala, Kelompok Yane Batik, Kelompok Cavibiar, Sanggar Amuta Wapuri, dan
Sanggar Peteko. Masing-masing sanggar mengutus enam orang perwakilan yang
berasal dari kawasan Distrik Mimika Baru, Mimika Timur, dan Distrik Wania.
Kepala Bidang Industri
Disperindag Kabupaten Mimika, Salma, S.P., M.Si., menjelaskan bahwa materi
pelatihan difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu pembuatan desain tas noken,
pembuatan rok, hingga teknik pemotongan pola baju.
Salma mengakui, dinamika dan
kendala terbesar yang dihadapi para peserta terletak pada penerapan pola potong
baju serta pemahaman terkait keselamatan kerja. Hal ini terjadi lantaran
sebagian besar peserta berangkat dari pemahaman dasar yang sangat minim mengenai
teknik jahit-menjahit.
> "Peserta pada dasarnya
berasal dari sanggar penganyam noken. Dalam jangka waktu tiga hari, memotong
pola baju memang menjadi tantangan tersendiri. Namun, kami sangat mengapresiasi
kemajuan pesat mereka. Dari yang awalnya belum bisa sama sekali, kini seluruh
peserta sudah mampu mengoperasikan mesin jahit secara mandiri," ujar
Salma.
Sebagai bentuk komitmen nyata
dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, Disperindag Mimika menyerahkan
seluruh perlengkapan dan sarana praktikum kepada para peserta. Selain itu,
masing-masing sanggar menerima bantuan satu unit mesin jahit serta dana
pembinaan usaha sebesar Rp40 juta per sanggar.
Melalui sinergi pelatihan ini,
para pengrajin noken tidak hanya diajarkan cara melapisi bagian dalam noken
dengan kain furing agar memiliki nilai jual lebih tinggi, tetapi juga didorong
untuk menangkap peluang usaha baru di bidang tata busana.
"Meskipun durasi pelatihan
tiga hari tergolong singkat untuk modal membuka usaha secara komprehensif, kami
optimistis ini menjadi landasan dasar yang kuat. Kami berharap bantuan alat dan
modal penguatan usaha ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memicu
kreativitas serta mengembangkan usaha mereka ke depan," pungkas Salma.

















