Mengintip MPLS di PAUD Kasih Amuro Timika: Dari Kemandirian hingga Mimpi Melestarikan Bahasa Ibu


TIMIKA, papuamctv.com – Memasuki tahun ajaran baru, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kasih Amuro Timika resmi menggelar kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Rabu (15/07). Berbeda dengan konsep orientasi formal, sekolah ini memilih pendekatan interaktif dan transparan dengan melibatkan orang tua murid secara aktif sejak hari pertama.

 

Kepala Sekolah PAUD Kasih Amuro, Marlin Margareth Dwibail, menegaskan bahwa pelibatan orang tua dalam MPLS bertujuan untuk mensosialisasikan seluruh agenda dan target pembelajaran secara transparan. Pada fase awal ini, siswa diajarkan kemandirian dasar seperti mencuci tangan, merapikan barang di loker, hingga memakai dan melepas sepatu secara mandiri, di samping kegiatan menyenangkan seperti bernyanyi dan mengenal teman baru.

 

"Kami ingin orang tua mengetahui secara pasti apa saja aktivitas anak-anak mereka selama beberapa hari ke depan. Bagi anak usia dini, kemandirian dasar adalah fondasi yang paling krusial," ujar Marlin saat ditemui di sela-sela kegiatan.

 

Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah juga memaparkan tiga program unggulan yang menjadi pilar pendidikan di PAUD Kasih Amuro:

  1. Three Way Conference (TWC): Forum komunikasi tiga arah antara anak, orang tua, dan guru untuk mempresentasikan perkembangan belajar anak setiap tiga bulan.
  2. Market Day & Cooking Class: Ruang bagi anak-anak untuk menampilkan minat, bakat, dan hasil kerajinan tangan mereka (seperti miniatur rumah dari stik dan bingkai foto), sekaligus melatih mental pelayanan melalui kelas memasak sederhana di bawah pengawasan guru.
  3. Ask the Expert: Program edukasi langsung dari para ahli. Berbeda dengan tahun lalu yang menghadirkan dokter gigi, tahun ini sekolah bekerja sama dengan dinas Pemberdayaan Perempuan untuk menghadirkan psikolog guna memberikan edukasi mengenai perlindungan diri dan pencegahan perundungan (bullying) sejak dini.

 

Dok. kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) PAUD Kasih Amuro Timika pada Rabu (15/07). Foto: Titin

Selain mempertahankan metode pembelajaran Montessori internasional yang berbasis bahasa Inggris untuk mengenalkan konsep matematika dan sensori, PAUD Kasih Amuro juga tengah menyiapkan terobosan baru. Sekolah berencana mengintegrasikan kosakata (vocabulary) sederhana bahasa daerah Amungme dan Kamoro ke dalam Kurikulum Muatan Lokal (Mulok). Langkah ini diambil untuk mengantisipasi mulai lunturnya penguasaan bahasa daerah di kalangan anak-anak asli Papua yang tumbuh besar di area perkotaan.

 

Metode pembelajaran yang diterapkan terbukti membawa dampak signifikan. Hal ini diakui oleh Shelly, salah satu orang tua dari siswa bernama Kenzo. Ia menyatakan adanya perubahan karakter dan kemandirian yang besar pada anaknya setelah satu tahun mengecap pendidikan di PAUD Kasih Amuro.

 

"Apa yang diterima di sekolah, pulang ke rumah dia ikuti. Ada perubahan besar dalam kehidupannya sebagai murid. Kami selaku orang tua juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yayasan dan pemerintah daerah, termasuk Bupati, Wakil Bupati, serta Ibu Ketua dan Wakil Ketua TP PKK selaku Bunda PAUD yang terus mendukung pembinaan anak-anak di sini," ungkap Shelly.

 

Mayoritas siswa di PAUD Kasih Amuro merupakan anak-anak dari suku Amungme dan Kamoro, serta anak-anak asli Papua lainnya. Di akhir wawancara, Marlin Margareth Dwibail menekankan bahwa motivasi terbesar seluruh staf pengajar dalam mendidik adalah cinta dan dedikasi (passion).

 

"Mimpi terbesar kami adalah melihat anak-anak Amungme, Kamoro, dan seluruh anak Papua di sekolah ini rajin berkarakter, terlibat aktif, dan kelak tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin sukses di tanah ini. Semua anak memiliki potensi dan kesempatan yang sama untuk maju," pungkas Marlin penuh optimistis. (HK)

 

Postingan Terbaru