Dinkes Mimika Perkuat Akurasi Perencanaan Obat dan Layanan Farmasi Klinik Guna Tekan Kasus Hipertensi dan Diabetes
TIMIKA, papuamctv.com —
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar kegiatan Pembinaan
Pelaporan Rencana Kebutuhan Obat (RKO) dan Penguatan Farmasi Klinik di Ballroom
Hotel Horison Diana Timika pada Rabu (15/07/2026). Langkah strategis ini
diambil sebagai upaya nyata menjamin ketersediaan obat sekaligus mengendalikan
tren penyakit tidak menular (PTM), khususnya hipertensi dan diabetes melitus
yang kini telah masuk dalam sepuluh besar penyakit tertinggi di Mimika.
Kegiatan ini dibuka langsung oleh
Kepala Bidang Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian, dan Alat Kesehatan Dinkes
Mimika, Farida, SKM., M.Kes., Pelatihan ini melibatkan penanggung jawab
kefarmasian dari 26 Puskesmas se-Kabupaten Mimika, para pemegang program di Dinas
Kesehatan, klinik pemerintah, hingga perwakilan RSUD Waa Banti. Acara ini juga
menghadirkan pakar obat kawakan Papua, Ibu Lusiang, serta narasumber dari
Kementerian Kesehatan RI yang tersambung secara virtual.
Dalam keterangannya, Kabid
Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian, dan Alkes Dinkes Mimika, Farida, menegaskan
bahwa penyusunan RKO tidak boleh lagi dilakukan berdasarkan perkiraan (reka-reka).
Setiap puskesmas dituntut untuk menyajikan data ril yang bersumber dari
identifikasi kebutuhan lapangan, peta penyakit wilayah, hingga hasil program Medical
Check-Up (MCU) keliling.
"Kondisi satu wilayah dengan
wilayah lain itu berbeda. Kebutuhan obat di pesisir tentu tidak sama dengan di
area perkotaan. Melalui pembinaan ini, kami memacu para penanggung jawab
farmasi agar merencanakan obat secara efektif dan efisien berbasis data
faktual," ujar Farida.
Ia juga meluruskan persepsi
publik terkait ketersediaan obat di tingkat akar rumput. Farida menjelaskan
bahwa instalasi farmasi kabupaten mendistribusikan obat berdasarkan laporan dan
permintaan puskesmas di bawahnya.
"Kalau ada obat kosong di
puskesmas, bisa jadi perencanaannya di tingkat bawah yang kurang optimal. Kami
di era sekarang dituntut serba efektif. Sistem dropping asal-asalan
tanpa melihat data kasus hanya akan membuat obat tidak terpakai dan menjadi
mubazir," tegasnya.
Terkait dengan pengelolaan obat,
Farida memaparkan perbedaan mekanisme pengadaan. Obat di puskesmas terbagi
menjadi dua kelompok, yaitu:
- Obat Program: Seperti obat malaria, TBC,
HIV, dan vaksin, yang pengadaannya menjadi wewenang pusat dan disalurkan
melalui provinsi.
- Obat Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD):
Termasuk obat hipertensi dan diabetes melitus, yang dianggarkan langsung
oleh APBD Kabupaten melalui tim perencanaan obat terpadu menggunakan
aplikasi e-Monev Kementerian Kesehatan.
Dinkes Mimika menjamin bahwa
ketersediaan stok obat PKD untuk hipertensi dan diabetes melitus saat ini dalam
kondisi aman. Pemerintah bahkan menerapkan sistem buffer stock (stok
penyangga) guna memastikan ketersediaan obat tetap aman hingga tiga bulan ke
depan, meski terjadi transisi tahun anggaran.
"Penyakit tidak menular
seperti diabetes dan hipertensi kini masuk sepuluh besar di Mimika. Ini
membutuhkan pengobatan jangka panjang dan rutin. Karena orang sakit tidak
mengenal tanggal atau tahun anggaran, kami pastikan buffer stock itu
selalu siap," tambah Farida.
Pergeseran pemicu penyakit dari
faktor keturunan menjadi faktor gaya hidup (lifestyle) yang serba
instan—seperti kurang bergerak, jam tidur tidak teratur, serta tingginya
konsumsi pemanis dan pengawet—menjadi tantangan besar di Mimika.
Menyikapi hal tersebut, Dinkes
Mimika menggalakkan edukasi preventif secara visual di puskesmas-puskesmas,
seperti menempelkan informasi kadar gula pada kemasan minuman kemasan guna
membangun kesadaran mandiri masyarakat. Dinkes juga mengapresiasi inisiatif
ruang publik seperti program Car Free Day (CFD) bertema "Anti
Mager" (Malas Gerak) yang dinilai efektif membantu meringankan beban
sektor kesehatan.
Di akhir sesi, Farida mengimbau
kepada seluruh masyarakat Mimika yang menjalani pengobatan penyakit tidak
menular agar disiplin mengonsumsi obat secara teratur demi menghindari risiko
komplikasi berat, kecacatan, hingga kematian.
"Kami meminta masyarakat
aktif berkonsultasi. Di setiap puskesmas kini sudah ada apoteker. Sebelum
membawa pulang obat, tanyakan dengan detail cara pemakaian dan indikasinya.
Kesehatan adalah tanggung jawab bersama, dimulai dari komitmen diri sendiri
untuk hidup lebih panjang dan produktif," pungkasnya. (HK)

















