Memupuk Kedaulatan Pangan dari Pekarangan: Langkah Nyata TP PKK Mimika Menjawab Tantangan Pangan Modern
TIMIKA, papuamctv.com — Di
tengah gempuran tantangan pangan global era modern—mulai dari dinamika
perubahan iklim yang tak menentu, kian terbatasnya lahan pertanian, lonjakan
harga komoditas pasar, hingga ancaman krisis gizi—sekelompok pejuang pangan
lokal di Kabupaten Mimika melangkah maju membawa solusi nyata.
Para pahlawan pangan yang kerap
luput dari sorotan publik ini tak lain adalah para ibu rumah tangga dan
kelompok wanita tani (KWT). Lewat ketekunan dan semangat gotong royong, mereka
mengoptimalkan setiap jengkal lahan: memanfaatkan pekarangan rumah, pot-pot
sederhana, hingga kolam budidaya mandiri demi menjamin ketersediaan pangan
keluarga secara berkelanjutan.
Semangat inilah yang mengemuka
dalam Rapat Kerja (Raker) 1 Tim Penggerak PKK Kabupaten Mimika pada Senin
(03/08/2026). Hadir sebagai pemateri utama, Plt. Kepala Dinas Tanaman Pangan,
Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Mimika, Abdul Haris Sudharmono, SP.,
M.Si., memaparkan strategi krusial bertajuk "Gerakan Ketahanan
Pangan Keluarga".
Dalam pemaparannya, Abdul Haris
menegaskan bahwa ketahanan pangan keluarga merupakan fondasi dasar ketika
kebutuhan nutrisi harian di tingkat rumah tangga terpenuhi secara cukup,
bergizi, aman, dan terjangkau. Ketahanan tersebut di topang oleh tiga pilar
utama:
- Ketersediaan Pangan (Food Availability):
Pasokan bahan pangan yang terjamin secara kuantitas dan kualitas di
tingkat rumah tangga.
- Keterjangkauan Pangan (Food Access): Kemampuan
fisik maupun ekonomi keluarga untuk mengakses bahan pangan berkualitas
tanpa hambatan.
- Pemanfaatan Pangan (Food Utilization):
Pengolahan dan penyerapan asupan gizi secara optimal oleh tubuh setiap
anggota keluarga.
Untuk mengoperasionalkan
pilar-pilar tersebut, masyarakat diimbau mengambil langkah-langkah praktis dan
aplikatif, di antaranya:
- Pemanfaatan Pekarangan: Mengoptimalkan
pekarangan rumah lewat teknik bercocok tanam sayur, buah, dan bumbu
dapur—baik secara konvensional maupun menggunakan media pot/polybag dan urban
farming.
- Diversifikasi Menu Pangan: Menyajikannya
secara bervariasi antara makanan pokok, sumber protein, dan vitamin guna
memastikan gizi seimbang.
- Manajemen Penyimpanan: Menerapkan metode
penyimpanan bahan makanan yang benar untuk menjaga kualitas nutrisi dan
mencegah pembusukan.
Inisiatif mandiri ini terbukti
memberi dampak berantai (multiplier effect). Tidak hanya menyediakan
bahan pangan segar bebas pestisida, gerakan berkebun dari rumah juga menjadi
perisai ekonomi keluarga saat terjadi fluktuasi harga komoditas pasar seperti
cabai, tomat, dan bawang.
"Perempuan memiliki andil
besar dalam pengelolaan konsumsi, nutrisi, dan kesehatan keluarga. Ketika
ibu-ibu berkebun, mereka bukan hanya menanam, tetapi mengambil keputusan
penting dalam penyediaan pangan berkualitas serta memperkuat kontribusi pada
kedaulatan pangan nasional," tegas Abdul Haris.
Dampak positif gerakan ini
mencakup berbagai aspek penting:
- Ketahanan Ekonomi & Solidaritas Sosial: Penghematan
pengeluaran harian menjadi lebih signifikan. Kelebihan hasil panen pun
kerap dibagikan antar tetangga, mempererat solidaritas sosial berbasis
komunitas.
- Kelestarian Lingkungan: Mendorong
pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pupuk kompos alami serta
menggalakkan penggunaan wadah tanam ramah lingkungan.
- Penguatan Sistem Pangan Daerah: Secara
kolektif, aksi skala rumah tangga ini mengurangi kerentanan pangan saat
krisis, menurunkan ketergantungan pada pasokan luar daerah, meminimalkan
potensi masalah gizi buruk, serta memperkuat eksistensi Kelompok Wanita
Tani (KWT) di Mimika.
Melalui sinergi antara kebijakan
pemerintah daerah dan aksi nyata TP PKK, Kabupaten Mimika membuktikan bahwa
benteng pertahanan pangan terkuat dimulai dari pekarangan rumah sendiri.


















