Pembukaan Lomba Kebersihan Distrik Mimika Baru: Mewariskan Lingkungan Sehat untuk Masa Depan
TIMIKA, papuamctv.com. —
Menyambut Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik
Indonesia, Pemerintah Kabupaten Mimika secara resmi membuka rangkaian Lomba
Kebersihan tingkat RT, Kampung, dan Kelurahan se-Distrik Mimika Baru pada Rabu
(5/8/2026).
Namun, alih-alih sekadar
kompetisi tahunan untuk memperebutkan trofi, momentum ini diusung sebagai titik
balik pergeseran paradigma: mengubah pengolahan kebersihan dari rutinitas
seremonial menjadi budaya hidup yang berkelanjutan demi masa depan generasi
penerus.
Mewakili Bupati Mimika, Staf Ahli
Bidang Kemasyarakatan dan SDM Setda Mimika, Fransiskus Bokeyau, secara
resmi membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Fransiskus menyampaikan
pesan mendalam mengenai hakikat menjaga kebersihan lingkungan sebagai bentuk
manifestasi rasa cinta tanah air dan tanggung jawab moral.
"Kita ini adalah orang-orang
yang saat ini hanya dipinjamkan lingkungan oleh anak cucu kita. Bila yang kita
wariskan adalah hal yang buruk, maka itu akan menjadi beban di kemudian hari.
Namun, jika yang kita wariskan adalah lingkungan yang baik dan sehat, itulah
warisan berharga untuk mereka," tegas Fransiskus.
Pemerintah Daerah menekankan
bahwa kebersihan bukan hanya persoalan teknis pengangkutan sampah, melainkan
cerminan dari karakter, kedisiplinan, dan tingkat peradaban suatu masyarakat.
Tim penilai pun diinstruksikan untuk bekerja secara objektif, transparan, dan
profesional agar hasil di lapangan benar-benar memicu motivasi warga untuk
bersolek secara berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Distrik
Mimika Baru, Merlyn Temorubun, S.STP., menyampaikan pandangan kritis
namun konstruktif terkait persoalan kebersihan di wilayahnya. Menurutnya,
pembersihan kota yang dilakukan terus-menerus tanpa perubahan perilaku
masyarakat hanya akan menjadi siklus tanpa akhir.
"Kalau hari ini kita
bersihkan kota dari ujung ke ujung, apakah besok tidak ada sampah lagi? Belum
tentu. Selama ini instansi teknis dan para lurah sudah bekerja keras, tapi
kenapa seperti terus mengulang? Karena ini bukan tentang sampah, ini tentang
kebiasaan."
— Merlyn Temorubun, S.STP.
(Kepala Distrik Mimika Baru)
Dalam mengintervensi masalah
kebiasaan tersebut, Distrik Mimika Baru mengusung beberapa terobosan dalam
lomba kebersihan kali ini:
- Tantangan 17 Ton (17-Ton Challenge):
Sebuah momentum pencapaian target pengumpulan sampah selama bulan Agustus
untuk menguji sejauh mana partisipasi warga dapat digerakkan.
- Penguatan Fungsi Manajerial RT: Menggeser
peran Ketua RT—bukan sebagai pengangkut sampah, melainkan sebagai manajer
lingkungan yang mendata, memetakan, dan mengedukasi warganya.
- Pemilahan Sampah dari Sumbernya: Mendorong
tiap rumah tangga untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari
dapur.
- Ekonomi Sirkular (Circular Economy):
Mengubah persepsi sampah dari beban lingkungan menjadi sumber daya yang
memiliki nilai ekonomi.
Guna menyelesaikan persoalan missing
link atau rantai pengelolaan sampah yang terputus, Distrik Mimika Baru
memperkuat koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika. Tim
gabungan terus menyisir lokasi-lokasi rawan penumpukan sampah liar yang kerap
muncul berkali-kali dalam sehari.
Kegiatan ini juga menjadi wujud
nyata pemerintahan kolaboratif (collaborative governance) dengan
melibatkan pemangku kepentingan dari sektor swasta dan organisasi
kemasyarakatan.
|
Mitra Kolaborasi |
Bentuk Dukungan & Peran |
|
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) |
Penanganan teknis pengangkutan
& pendampingan armada Pasukan Hijau-Biru |
|
PT Petrosea |
Penataan ruang terbuka/taman
bundaran & dukungan apresiasi (doorprize) |
|
Swiss-Belhotel Timika |
Dukungan partisipasi sektor
swasta & penataan estetika lingkungan sekitar |
|
Yayasan Somatua |
Keterlibatan tokoh masyarakat
& edukasi berbasis komunitas |
Melalui perpaduan antara
perlombaan, edukasi, dan aksi nyata, Pemerintah Kabupaten Mimika berharap
semangat gotong royong yang menjadi akar budaya bangsa dapat kembali hidup di
tengah pemukiman warga.
Integrasi antara kepemimpinan
tingkat RT, kesadaran rumah tangga, serta dukungan regulasi Pemda diharapkan
mampu melahirkan lingkungan yang tidak hanya bersih dan indah saat momen HUT RI
ke-81 saja, tetapi terus bertahan sebagai gaya hidup masyarakat Mimika di masa
depan.
Pembukaan lomba kebersihan ini bukan sekadar kompetisi untuk
memperebutkan juara, melainkan sebuah gerakan moral untuk membangun kesadaran
kolektif masyarakat Mimika. Dengan semangat gotong royong, diharapkan tercipta
lingkungan yang bersih dan sehat sebagai warisan berharga bagi generasi
mendatang.


















