DWP Kabupaten Mimika Gelar Ibadah Oikumene, Tekankan Kehadiran Kristus di Tengah Badai Kehidupan
Pada
25 Sep, 2026
TIMIKA — Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Mimika menggelar ibadah oikumene bersama yang berlangsung khidmat di Aula Kantor Bappeda Kabupaten Mimika, Jumat (25/9/2026). Persekutuan ibadah ini menjadi wadah pembinaan spiritual sekaligus penguatan iman bagi seluruh pengurus dan anggota DWP di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika.
Renungan iman pada ibadah tersebut dibawakan oleh Pastor Polycarpus Gunawan Setyadi, SCJ—imam dari Kongregasi Sacerdotum a Sacro Cordis Jesu (Imam-Imam Hati Kudus Yesus)—dengan mengusung tema "Pusat Hidup Bukan Soal Situasi Tenang, Melainkan Kehadiran Kristus". Dalam pesan pastoralnya, ia mengajak seluruh peserta ibadah untuk merefleksikan realitas kehidupan yang tidak selamanya berada dalam kendali pribadi manusia.
Mengutip Kitab Pengkhotbah 3:1-11, Pastor Polycarpus menegaskan pentingnya kesadaran dan kerendahan hati untuk menerima kedaulatan Ilahi, sebab Tuhan telah menetapkan waktu yang indah bagi segala sesuatu di bawah kolong langit.
Lebih lanjut, pendalaman isi Alkitab berpatokan pada Injil Matius 14:22-36 yang mengisahkan para murid menerjang angin sakal di tengah laut. Ia menggarisbawahi bahwa penderitaan atau tantangan hidup tidak selalu lahir karena kurangnya kesetiaan atau kesalahan manusia. Para murid justru mengalami gelombang tinggi saat mereka sedang taat menjalankan kehendak Tuhan.
"Ujian terbesar di tengah krisis bukanlah besarnya masalah atau kerasnya tiupan angin, melainkan ke mana arah pandangan iman kita tertuju," tegas Pastor Polycarpus di hadapan jajaran anggota DWP Mimika.
Ia menjelaskan bahwa ketika Yesus mendekati para murid di atas air, tindakan pertama-Nya adalah menenangkan hati mereka melalui sapaan Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Frasa "Aku ini" merujuk pada penampakan Allah dalam Keluaran 3:14, yang menegaskan bahwa Kristus hadir sebagai Tuhan yang berdaulat atas segala situasi.
Melalui ibadah oikumene ini, jajaran DWP Kabupaten Mimika diimbau untuk tidak berfokus pada ketakutan atau gelombang persoalan hidup, melainkan menjadikan kehadiran Kristus sebagai pusat kehidupan. Dengan iman yang berpatok pada Sang Pemilik Kehidupan, segala bentuk ketakutan akan kehilangan kuasanya.

