Semuel Yogi dan Perjuangan Mama-Mama Papua: Dari Kenangan Masa Kecil Menuju Pemberdayaan UMKM
Pada
23 Okt, 2026
TIMIKA — Perjuangan Plt. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Mimika, Semuel Yogi, S.H., M.H., dalam mendorong kemajuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Orang Asli Papua (OAP) berangkat dari pengalaman hidup yang dekat dengan perjuangan ekonomi masyarakat kecil. Orang tuanya dahulu berjualan pinang, noken, serta berbagai kerajinan khas Papua demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting yang membentuk kepedulian Semuel terhadap mama-mama Papua yang hingga kini menggantungkan hidup dari usaha kecil di pasar maupun di pinggir jalan. Ia memahami bahwa di balik dagangan sederhana, terdapat perjuangan panjang untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, dan mempertahankan kehidupan.
Semangat itu tercermin dalam moto yang dipegangnya, “Resi Matalah” — Remaja, siang, malam, tahan lapar, sebagai gambaran ketekunan dan pengorbanan dalam menjalani perjuangan hidup serta pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Semuel, pemberdayaan UMKM Orang Asli Papua bukan sekadar program pemerintah, melainkan upaya membuka kesempatan agar masyarakat lokal mampu berkembang dan memperoleh kehidupan yang lebih baik di tanahnya sendiri.
Salah satu langkah yang didorong adalah pembentukan koperasi sebagai wadah bagi para pedagang untuk memperkuat usaha secara bersama-sama. Melalui koperasi, mama-mama Papua diharapkan dapat memperoleh pendampingan, meningkatkan kemampuan mengelola keuangan, memperkuat kerja sama, serta membuka peluang akses permodalan yang selama ini sulit dijangkau secara individu.
Ia ingin mama-mama Papua tidak terus berjuang sendiri dengan keterbatasan modal dan kemampuan usaha, tetapi memiliki wadah yang membantu mereka tumbuh menjadi pelaku ekonomi yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Bagi Semuel, kemajuan UMKM Orang Asli Papua harus dimulai dari keberanian untuk bangkit, kemauan untuk belajar, serta dukungan nyata dari pemerintah dan masyarakat. Cita-citanya sederhana, tetapi bermakna besar: mama-mama Papua mampu mengembangkan usaha, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menikmati hasil perjuangan mereka di atas tanah sendiri.

