Menyisir Pengungsian Demi Kesehatan: Perjuangan Puskesmas Wakia di Tengah Konflik dan Keterbatasan



TIMIKA, papuamctv.com – Di awal tahun 2026, tantangan besar membayangi pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Wakia. Konflik yang memaksa warga Kampung Kapiraya meninggalkan rumah mereka dan menetap di tempat-tempat pengungsian seperti Lopong dan pesisir Pantai Uta. Hal ini juga ditambah sebagian besar masyarakat mempunyai mata pencaharian sebagai pendulang, yang mengakibatkan beberapa masyarakat memilih hidup nomaden. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam bagi Kepala Puskesmas Wakia, Anny Syulce Elluay.

Dalam wawancara eksklusif pada Rabu (21/011/2026), Anny mengungkapkan bahwa fokus utamanya saat ini adalah memastikan hak kesehatan masyarakat tetap terpenuhi, meski akses logistik dan kondisi keamanan menjadi penghalang nyata.

Salah satu perhatian utama Anny adalah nasib bayi, balita, dan ibu hamil yang kini tinggal di tenda-tenda pengungsian. Minimnya akses air bersih dan asupan nutrisi yang tidak menentu menjadi ancaman serius.

"Yang saya khawatirkan adalah bayi dan balita kita. Makan minum mereka di pengungsian seperti apa, begitu juga ibu hamil. Di daerah pesisir, hampir semua kehamilan kami kategorikan risiko tinggi karena faktor usia dan jarak kehamilan yang terlalu rapat," ujar Anny dengan nada cemas.

Karena masyarakat Kapiraya belum berani kembali ke kampung meskipun keamanan telah dijaga oleh aparat Keamanan, tim kesehatan dari Puskesmas terpaksa melakukan jemput bola. Setiap minggu, petugas menyisir lokasi pengungsian.

Hambatan yang ditemui adalah jika harus menyisir hingga ke area "Kepala Air" (lokasi pendulangan) untuk memberikan pelayanan posyandu dan imunisasi. Hal ini Anny menyampaikan karena kekurangan informasi tentang Lokasi tersebut dan membutuhkan biaya mobilisasi yang besar dikarenakan Lokasi yang jauh.

Dibalik kesiapan obat-obatan dan alat kesehatan yang diklaim mencukupi, Puskesmas Wakia menyimpan lubang besar dalam struktur tenaga medisnya. Anny membeberkan bahwa saat ini mereka tidak memiliki dokter, baik dokter umum maupun spesialis.

"Tahun lalu dokter umum kami mengundurkan diri dari P3K, jadi sekarang posisinya kosong. Kami bekerja dengan 49 tenaga kesehatan yang ada, mendistribusikan mereka ke pustu-pustu agar pelayanan tetap berjalan," ungkapnya.

Meski tanpa dokter, semangat pelayanan tidak surut. Dukungan fasilitas mulai membaik dengan adanya rumah medis baru dan bantuan teknologi Solar Cell dari Starlink untuk mengatasi kendala listrik dan komunikasi di wilayah terpencil.

Menghadapi pola hidup masyarakat yang sering berpindah-pindah (nomaden) demi mencari nafkah di pendulangan, Anny berencana meluncurkan inovasi berupa grup jejaring WhatsApp yang melibatkan Kepala Kampung, Ketua PKK, hingga kader kesehatan.

"Mungkin ke depan nomor HP akan kami sebar. Kita bikin grup jejaring supaya bisa saling tanya, 'Bayi ini tidak datang posyandu, ada di kampung mana?'. Jadi petugas di wilayah terdekat bisa langsung menangani," jelasnya.

Selain itu, Anny juga mengapresiasi kolaborasi dengan program "Kampung Sehat" (mitra swasta) yang membantu penyediaan obat-obatan paten dan operasional di lapangan. Sinergi ini dianggap sangat membantu, terutama dalam menangani tingginya kasus Malaria Tersiana yang sering berulang di kalangan warga yang bekerja di hutan.

Menutup perbincangan, Anny menekankan bahwa keberhasilan kesehatan bukan hanya tugas medis, melainkan kesadaran individu. Ia mengimbau warga Kapiraya untuk perlahan kembali ke kampung agar akses air bersih dan pelayanan kesehatan lebih maksimal.

"Ini Januari, semangat baru. Walaupun kami sudah maksimal, kalau kesadaran masyarakat tidak ada, ya sama saja. Kesehatan itu dimulai dari diri sendiri," pungkasnya.


Postingan Terbaru