Puskesmas Timika Indah Perkuat Survei Lingkungan dan Pencegahan Malaria serta DBD


TIMIKA, papuamctv.com - Kepala Puskesmas Timika Indah, Moses Untung, menegaskan komitmen pihaknya dalam mengendalikan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, khususnya malaria dan demam berdarah dengue (DBD), melalui kegiatan survei faktor lingkungan yang dilakukan secara rutin dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Moses Untung saat ditemui di ruang kerjanya di Puskesmas Timika Indah, Timika, Papua Tengah, Selasa (13/1/2026). Ia menjelaskan bahwa kegiatan survei faktor risiko menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit berbasis lingkungan.

“Survei faktor itu rutin kami lakukan secara berkala. Teman-teman dari kesehatan lingkungan secara aktif turun ke lapangan untuk memantau tempat-tempat yang berpotensi menjadi biakan nyamuk,” jelasnya.

Ia menyebutkan, apabila dalam survei ditemukan genangan air atau lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, maka petugas langsung melakukan tindakan abatisasi dengan memberikan obat pembasmi jentik. Selain itu, setiap kasus yang ditemukan juga ditindaklanjuti dengan penyelidikan epidemiologi serta kegiatan pengendalian sesuai standar, termasuk fogging di wilayah tertentu.

“Tidak hanya itu, kami juga aktif melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat, baik melalui kegiatan langsung maupun melalui grup-grup komunikasi yang dikelola tim promosi kesehatan,” tambahnya.

Terkait demam berdarah, Moses Untung menegaskan bahwa hingga kini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Penanganan DBD bersifat simptomatik atau untuk meredakan gejala, karena penyakit ini disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui nyamuk. 

“Pada prinsipnya, pasien demam berdarah bisa sembuh dengan sendirinya dengan perawatan yang tepat,” ujarnya.

Sementara itu, untuk malaria, ia mengungkapkan bahwa ketersediaan obat antimalaria atau yang dikenal sebagai “obat biru” masih mencukupi dan disuplai oleh Dinas Kesehatan. Namun, pihak puskesmas kini menerapkan pencatatan penggunaan obat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) guna mendapatkan data kasus yang lebih akurat.

“Kami tetap melayani pasien meski tidak membawa identitas, tetapi pencatatan berbasis NIK penting agar angka malaria yang sebenarnya bisa terdata dengan baik,” jelasnya.

Menurutnya, malaria masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Timika Indah. Dalam sehari, jumlah pasien malaria bisa mencapai 30 hingga 40 orang. Jika satu pasien mengonsumsi rata-rata sembilan tablet obat, maka kebutuhan obat bisa mencapai sekitar 360 tablet per hari.

Ia menambahkan, saat ini sekitar 80 hingga 85 persen pengunjung puskesmas telah diperiksa malaria, baik dengan gejala maupun tanpa gejala. Kebijakan ini merupakan bagian dari program pencegahan, mengingat hampir 50 persen penderita malaria tidak menunjukkan gejala.

“Semua pengunjung puskesmas kami tawarkan untuk diperiksa malaria. Dengan pemeriksaan yang luas, otomatis angka kasus yang terdeteksi akan meningkat, tetapi itu justru menunjukkan kondisi yang sebenarnya,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Moses Untung menyampaikan sejumlah pesan penting kepada masyarakat dalam upaya pencegahan malaria. Di antaranya adalah mengonsumsi obat malaria hingga tuntas jika terinfeksi, menjaga kebersihan lingkungan rumah untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk, serta menggunakan pakaian tertutup atau lotion anti nyamuk saat beraktivitas di malam hari.

“Dengan langkah-langkah sederhana ini, kita bisa mengurangi kontak dengan nyamuk dan mencegah penularan malaria,” pungkasnya. (Ian)

Postingan Terbaru