"Tak Gentar Curah Hujan, Petani Kamoro Jaya Buktikan Mimika Mampu Produksi Bawang Merah Berkualitas"


TIMIKA, papuamctv.com – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Mimika terus memacu produktivitas sektor hortikultura, khususnya komoditas bawang merah. Pada Jumat (09/01/2026), Kepala Distanbun Mimika, Alice Irene Wanma, SKM., M.Kes., memimpin langsung aksi panen bawang merah di lahan Kelompok Tani Satu Hati, Kelurahan Kamoro Jaya, Kecamatan Wania.

Kesuksesan hari ini berawal dari visi besar Distanbun Mimika sejak tahun lalu. Jika sebelumnya Mimika sangat bergantung pada pasokan bibit dari luar daerah, kini arah angin mulai berubah. Lahan seluas seperempat hektare milik Kelompok Tani Satu Hati sukses memproduksi bawang merah berkualitas yang akan diproyeksikan menjadi "Bank Bibit" lokal.

Dalam keterangannya di lokasi lahan, Alice Irene Wanma menjelaskan bahwa fokus utama Distanbun saat ini adalah menghasilkan bibit lokal berkualitas. Lahan seluas seperempat hektare milik Kelompok Tani Satu Hati ini diproyeksikan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan bibit tahun ini.

"Hasil panen hari ini tidak untuk dijual ke pasar, melainkan kita jadikan bibit. Kita sudah mulai sejak tahun lalu dengan luas 2 hektare di Wonosari Jaya (SP4). Tahun ini, target kita meningkat menjadi 4 hektare yang tersebar di wilayah ini dan Wonosari Jaya," ujar Alice.

Meski hasil panen terlihat menjanjikan, Alice mengakui adanya tantangan besar dari faktor alam. Curah hujan yang tinggi di wilayah Mimika memaksa petani melakukan panen lebih awal dari jadwal seharusnya.
  • Durasi Tanam: Normalnya 70 hari, namun karena hujan, panen dilakukan pada usia 50 hari.
  • Kendala: Ancaman hama dan risiko pembusukan akibat kelembapan tinggi.
  • Solusi: Distanbun akan menyesuaikan musim tanam berikutnya pada bulan Oktober sesuai prakiraan cuaca, serta memberikan bantuan teknis berupa pupuk, bibit, hingga alat pengolah lahan.
Dok. aksi panen bawang merah Distanbun Mimika di lahan Kelompok Tani Satu Hati, Kelurahan Kamoro Jaya, Kecamatan Wania, Jumat (09/01/2026). Foto : papuamctv.com

Sisi menarik lainnya dari kunjungan ini adalah komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan lahan. Alice menekankan bahwa kesuksesan menanam harus dibarengi dengan kepastian lahan. Ia mendorong agar lahan produktif seperti di Kamoro Jaya masuk dalam skema Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

"Dahulu di SP2 kita punya lahan produktif, tapi sekarang sudah jadi rumah dan jalan. Kami berharap lahan bawang merah ini bisa masuk dalam skema LP2B agar keberlanjutan tani terus terjaga bagi generasi mendatang," tegasnya.

Distanbun juga aktif memberikan pembinaan melalui Sekolah Lapang, termasuk bagi petani Orang Asli Papua (OAP). Mengingat masa tunggu panen bawang merah yang cukup lama (berbeda dengan sayuran daun yang hanya 20 hari), petani didorong untuk menggunakan sistem tumpang sari.

"Kami mengerti petani bisa bosan menunggu. Maka, selain bawang, mereka juga menanam sayuran lain. Ini soal kesabaran dan ketelatenan, merawat tanaman ini seperti kita merawat anak sendiri," tambah Alice.

Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah dan kelompok tani, Mimika optimis dapat mengurangi ketergantungan pasokan bawang merah dari luar daerah dan menuju kemandirian pangan yang berkelanjutan.

Dengan target perluasan hingga 4 hektare di tahun ini, Distanbun Mimika optimis ketergantungan pada pasar luar akan perlahan terkikis. Kesuksesan Kelompok Tani Satu Hati adalah bukti nyata bahwa dengan kolaborasi yang "Satu Hati" antara pemerintah yang suportif dan petani yang gigih, swasembada bawang merah bukan lagi sekadar mimpi.

"Harapan kami, kelompok tani ini tetap solid. Mereka adalah pionir. Ke depan, mereka tidak hanya menjadi petani, tapi juga mentor bagi petani lain di Mimika agar kita semua bisa mandiri pangan," tutup Alice menutup kegiatan panen tersebut. (HK)



Postingan Terbaru