Dedikasi Tanpa Batas Windawati Loho: Membentuk Karakter dan Iman Generasi Emas Mimika
TIMIKA, papuamctv.com – Di
tengah hiruk-pikuk perkembangan teknologi dan arus informasi media sosial yang
kian deras, tantangan dunia pendidikan bukan lagi sekadar mentransfer ilmu
pengetahuan. Bagi Windawati Loho, S.Th, seorang guru pendidikan agama
Kristen di SD Inpres Sempan Barat, pendidikan adalah tentang menjaga api
iman dan membentuk karakter di hati para siswa.
Ditemui wartawan pada Rabu
(29/04/2026), tepat menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional, sosok guru
yang bernaung di bawah Kementerian Agama ini berbagi kisah pengabdiannya yang
telah berlangsung selama dua dekade. Sejak tahun 2004, Windawati telah mendedikasikan
dirinya untuk membimbing siswa kelas atas (kelas 4, 5, dan 6) di sekolah
tersebut.
Menjadi pendidik di tanah Mimika
berarti harus siap berhadapan dengan keberagaman suku dan budaya yang luar
biasa. Windawati mengakui bahwa adaptasi adalah kunci utama dalam melayani
siswa dengan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda.
"Pengalaman saya di sini
luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana kita siap melayani, bukan hanya
mengajar, tapi juga membimbing dan membina mereka di tengah keragaman yang
ada," ujar Windawati dengan nada penuh semangat.
Ia tak menampik adanya kendala
klasik, seperti tingkat kehadiran siswa yang fluktuatif. Namun, hal itu tidak
menyurutkan langkahnya. "Kami guru-guru tetap semangat demi memajukan
anak-anak dan membentuk karakter serta iman mereka di bangku pendidikan,"
tegasnya.
Di era di mana anak-anak lebih
akrab dengan gawai dan media sosial, Windawati memandang pendidikan agama
sebagai instrumen krusial yang tidak boleh dikesampingkan. Baginya, pendidikan
agama bukan sekadar menghafal doa, melainkan menumbuhkan fondasi iman agar
anak-anak mampu memilah pengaruh negatif dunia luar.
Menariknya, Windawati menerapkan
metode "fungsi kontrol" yang ketat namun edukatif. Ia menggunakan buku
kontrol ibadah untuk memantau aktivitas spiritual siswa di luar sekolah.
"Setiap jam pelajaran agama,
buku itu dikumpulkan dan diperiksa. Harus ada tanda tangan orang tua dan
pemimpin ibadah (Pendeta atau Kakak Pengasuh). Jika ada yang tidak beribadah,
saya kumpulkan mereka untuk dibina secara persuasif. Meski di sekolah,
pergerakan ibadah mereka di rumah tetap saya pantau," jelasnya.
Menjawab tantangan zaman, SD
Inpres Sempan Barat tidak tinggal diam. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah
yang visioner, fasilitas pendukung seperti proyektor (Infocus) dan media
pembelajaran visual telah tersedia dengan baik.
Windawati kerap menggunakan
metode audio-visual, seperti pemutaran film bertema keagamaan, untuk menarik
minat siswa. "Anak-anak zaman sekarang lebih suka dunia visual. Kami
putarkan film, biasanya saat kegiatan ekstrakurikuler atau momen hari besar
seperti Paskah, lalu diikuti dengan sesi diskusi dan tanya jawab agar mereka
lebih meresapi pesannya," tambahnya.
Menutup perbincangan, Windawati
menyampaikan pesan mendalam bagi rekan sejawat dan masyarakat luas. Ia
menekankan bahwa kunci utama seorang pendidik adalah memiliki "Hati
yang Melayani".
"Kita harus memiliki hati
yang melayani untuk mengetahui kebutuhan anak-anak. Guru harus terus berinovasi
dan mendekatkan diri secara emosional agar anak-anak tidak merasa takut.
Intinya, tetap semangat dan layani mereka dengan hati," pungkasnya.
Melalui tangan dingin para
pendidik seperti Windawati Loho, besar harapan agar tunas-tunas muda di Mimika
tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga
tangguh secara iman untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah. (HK)





















































