Akses Jalan Pulih dan Bantuan Tersalurkan, Distrik Tembagapura Kembali Kondusif

 


TIMIKA, papuamctv.com – Situasi keamanan dan aksesibilitas di wilayah Banti dan sekitarnya, Distrik Tembagapura, dipastikan telah kembali normal pasca-insiden tanah longsor yang sempat memutus urat nadi transportasi warga. Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika bersama PT Freeport Indonesia (PTFI) bergerak cepat melakukan pemulihan infrastruktur serta penyaluran bantuan logistik bagi masyarakat terdampak.


Kepala Distrik Tembagapura, Dev Richard Tatiratu, S.E., menegaskan bahwa jalur darat yang sebelumnya terputus kini sudah dapat diakses kembali oleh kendaraan maupun pejalan kaki, terutama di titik krusial jembatan Gimbeli.


"Pada prinsipnya untuk sekarang ini sudah aman. Jalan longsor yang kemarin itu sudah bisa diakses sampai dengan jembatan Gimbeli. Jadi, kalau ada informasi yang menyatakan masyarakat di sana belum mendapat bahan makanan atau akses masih terputus, itu tidak benar," ujar Dev Richard saat memberikan keterangan resmi.


Selain pemulihan akses, Pemerintah Distrik Tembagapura bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia, Polsek Tembagapura, dan Satgas Yonif 116/GS telah mendistribusikan bantuan Bahan Makanan (BAMA) secara langsung kepada warga di Kampung Banti 1, Banti 2, Kimbeli, dan Opitawak pada Minggu lalu.


"Pelayanan kesehatan di sana berjalan seperti biasa. Kemarin juga sudah dilakukan pergantian shift atau rolling tenaga kesehatan (Nakes). Nakes yang baru sudah naik untuk melanjutkan pelayanan di RS Waa Banti," jelas Dev.


Dev menyampaikan apresiasinya kepada pihak manajemen PTFI yang merespons cepat situasi darurat ini. Saat ini, fokus pekerjaan di lapangan beralih pada normalisasi aliran sungai di sekitar area longsoran guna mencegah dampak lanjutan.


"Terima kasih kepada PT Freeport yang sudah bekerja cepat menyambung jalan. Pekerjaan saat ini yang masih dikejar adalah normalisasi aliran sungai di sekitar longsoran kemarin, dan itu sedang berjalan," tambahnya.


Senada dengan Kepala Distrik, Bupati Mimika Johannes Rettob memastikan bahwa operasional RS Waa Banti tidak terganggu secara signifikan. Meski saat kejadian terdapat pasien rujukan yang harus ditandu melewati material longsor, kini prosedur rujukan telah kembali normal menggunakan kendaraan.


“Saat longsor itu ada pasien ibu hamil yang dirujuk akan tetapi jalan putus jadi ditandu sampai melewati jalan terputus. Tapi sekarang semua sudah diperbaiki dan sedang dirapikan, minggu ini sudah beres,” ujarnya.


Pemerintah juga tengah memberikan perhatian khusus pada abrasi sungai di dekat rumah sakit. "Yang kita khawatirkan jarak sungai dengan rumah sakit sebelumnya enam meter, sekarang menjadi empat meter. Kondisi ini akan segera ditangani pemerintah dan PT Freeport Indonesia," tegas Bupati Johannes Rettob.


Di sisi lain, Dev Richard Tatiratu yang baru saja mengemban tugas sebagai Kepala Distrik Tembagapura mengungkapkan komitmennya untuk merangkul seluruh elemen masyarakat. Meski sempat ada dinamika di awal penugasan, ia memastikan saat ini komunikasi dengan tokoh adat, tokoh perempuan, dan pemuda berjalan sangat baik.


Sesuai instruksi Bupati Mimika, beberapa program prioritas yang akan digenjot tahun ini di Distrik Tembagapura meliputi:


  • Penurunan Angka Stunting: Melalui koordinasi TP-PKK Distrik dengan Pustu Banti dan RS Waa Banti.
  • Pemberian Makanan Bergizi: Program khusus untuk anak-anak di wilayah pegunungan.
  • Infrastruktur Kampung: Pembersihan lingkungan dan penyediaan penerangan jalan di dalam kampung.

"Arahan Pak Bupati sangat jelas, yakni pembangunan mulai dari kampung sampai ke kota. Kami akan bekerja sama dengan semua pihak, termasuk kepolisian dan PTFI, untuk memastikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat Tembagapura terpenuhi," pungkas Dev Richard. - HK

 

Postingan Terbaru