Dinkes Mimika Gandeng Tokoh Agama Tingkatkan Layanan Kesehatan Ibu Hamil
Pada
08 Mei, 2026
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan tokoh agama guna meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas. Kegiatan tersebut difokuskan pada penguatan kerja sama antara tenaga kesehatan dan gereja dalam mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak, yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Jalan Yosudarso, Jumat 8 Mei 2026.
Kepala Bidang Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Carolina Heatubun, mengatakan pertemuan tersebut menjadi langkah awal membangun kolaborasi bersama tokoh agama di sejumlah wilayah pelayanan kesehatan.
“Pertemuan hari ini merupakan koordinasi lintas sektor dengan melibatkan tokoh agama dalam upaya peningkatan cakupan pelayanan ibu hamil di wilayah puskesmas. Pada tahun 2026 kami merencanakan kerja sama operasional dengan pihak gereja, terdiri dari satu gereja Katolik dan dua gereja GKI,” ujar Carolina Heatubun.
Ia menjelaskan, tokoh agama yang diundang berasal dari wilayah kerja Puskesmas Kuamki, Puskesmas Bintuka, dan Puskesmas Limau Asri. Tokoh-tokoh gereja dari tiga wilayah tersebut diharapkan dapat membantu menyampaikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
Menurut Carolina Heatubun, fokus utama kerja sama ini adalah meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan pertama atau K1 Murni serta pemeriksaan lengkap ibu hamil K6.
“Kami berharap setiap ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan kehamilan sebanyak enam kali sesuai standar pelayanan. Pada trimester pertama atau usia kehamilan 0–3 bulan dilakukan dua kali pemeriksaan, trimester kedua satu kali pemeriksaan, dan trimester ketiga tiga kali pemeriksaan,” jelas Carolina Heatubun.
Ia menambahkan, selama proses pemeriksaan K1 hingga K6, ibu hamil juga diwajibkan menjalani pemeriksaan USG sebanyak dua kali oleh dokter terlatih guna mendeteksi secara dini risiko maupun kelainan pada kehamilan.
Lebih lanjut, Carolina Heatubun menyebut rendahnya cakupan pelayanan ibu hamil di Kabupaten Mimika menjadi latar belakang utama pelaksanaan pertemuan tersebut. Evaluasi dilakukan berdasarkan laporan dari berbagai fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta.
“Data yang kami terima dari puskesmas, rumah sakit pemerintah dan swasta, klinik, hingga praktik mandiri dokter dan bidan menunjukkan cakupan pelayanan ibu hamil, khususnya K1 dan K6, masih rendah. Karena itu kami memandang perlu membangun kerja sama dengan tokoh agama agar informasi kesehatan lebih mudah diterima masyarakat,” ungkap Carolina Heatubun.
Menurutnya, tokoh agama memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat sehingga diharapkan mampu membantu menyampaikan edukasi terkait pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin serta risiko yang dapat terjadi selama masa kehamilan, persalinan, hingga nifas.
“Kami berharap melalui gereja dan kegiatan-kegiatan ibadah, para tokoh agama dapat menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat semakin memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin sehingga risiko kematian ibu dan anak dapat ditekan,” kata Carolina Heatubun.
Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, juga telah dihasilkan sejumlah rekomendasi dan pembagian tugas antara Dinas Kesehatan, puskesmas, serta tokoh agama untuk memperkuat pelayanan kesehatan ibu dan anak di Kabupaten Mimika.
“Dinas Kesehatan dan puskesmas bertugas dari sisi pelayanan kesehatan, sementara tokoh agama memberikan penguatan dari sisi rohani dan edukasi kepada jemaat. Kami berharap kolaborasi ini dapat berjalan bersama sehingga angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Mimika dapat berhasil ditekan,” tutup Carolina Heatubun.













