Evaluasi KIA 2026, Dinkes Mimika Perkuat Layanan Kesehatan Ibu dan Anak
Pada
06 Mei, 2026
Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menggelar pertemuan evaluasi program kesehatan ibu dan anak (KIA) dengan melibatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (faskes), baik pemerintah maupun swasta. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat, dan dipusatkan di Hotel Grand Tembaga, Jalan Yos Sudarso, Rabu (6/5/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri berbagai unsur faskes, mulai dari puskesmas, rumah sakit, klinik, praktik mandiri bidan, hingga dokter spesialis yang menangani layanan kesehatan ibu dan anak. Pelibatan lintas sektor ini dinilai penting guna memastikan proses evaluasi berjalan komprehensif serta menghasilkan rekomendasi yang tepat sasaran.
“Pertemuan hari ini merupakan evaluasi program kesehatan ibu dan anak yang melibatkan seluruh fasilitas kesehatan di Kabupaten Mimika, tidak hanya puskesmas dan rumah sakit, tetapi juga klinik, praktik mandiri bidan, serta dokter spesialis,” ujar Carolina Heatubun.
![]() |
| Carolina Heatubun |
Melalui forum ini, Dinas Kesehatan berupaya menghimpun berbagai masukan dari seluruh faskes terkait capaian pelayanan yang telah dilaksanakan, sekaligus merumuskan langkah strategis untuk peningkatan kualitas layanan ke depan.
“Kami berharap dari pertemuan ini dapat dihasilkan rekomendasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan ibu dan anak, sekaligus mendapatkan masukan dari seluruh fasilitas kesehatan, baik pemerintah maupun swasta,” kata Carolina Heatubun.
Ia menegaskan pentingnya penguatan kerja sama, koordinasi, dan konsultasi antar fasilitas kesehatan agar target pelayanan sesuai standar pelayanan minimal dapat tercapai secara optimal.
“Kami harapkan kerja sama, koordinasi, dan konsultasi yang selama ini sudah berjalan dapat lebih ditingkatkan, sehingga target pelayanan sesuai standar dapat tercapai,” ujarnya.
Upaya ini, lanjutnya, merupakan bagian dari strategi menekan angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Mimika melalui peningkatan kualitas pelayanan yang sesuai standar.
“Kami berharap dengan pelayanan yang terbaik sesuai standar, angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Mimika dapat ditekan,” tambah Carolina Heatubun.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala di lapangan, terutama terkait cakupan kunjungan pelayanan kesehatan yang belum optimal.
“Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak terdapat banyak kendala yang bervariasi. Untuk ibu hamil, misalnya, sesuai standar harus melakukan enam hingga delapan kali kontak dengan tenaga kesehatan, namun cakupannya di Mimika masih tergolong rendah,” jelas Carolina Heatubun.
Selain itu, pelayanan pasca persalinan juga menjadi perhatian. Ibu yang telah melahirkan seharusnya mendapatkan empat kali kunjungan pelayanan kesehatan. Sementara itu, bayi baru lahir atau neonatus (usia 0–28 hari) diwajibkan menjalani tiga kali pemeriksaan sesuai standar pelayanan.
“Pelayanan tidak berhenti setelah persalinan. Ibu harus tetap mendapatkan pelayanan hingga empat kali, dan bayi baru lahir juga harus diperiksa minimal tiga kali agar sesuai standar,” ujarnya.
Dalam upaya meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh, Dinas Kesehatan Mimika juga memfokuskan perhatian pada pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin sebagai langkah preventif.
“Kami saat ini fokus pada pelayanan kesehatan calon pengantin, untuk memastikan pasangan yang akan menikah dalam kondisi sehat dan siap merencanakan kehamilan,” kata Carolina Heatubun.
Program tersebut turut melibatkan sektor keagamaan sebagai mitra strategis. Pada tahap awal, kerja sama difokuskan pada tiga gereja dengan jumlah sasaran terbanyak, yakni satu gereja Katolik dan dua Gereja Kristen Injili (GKI).
“Kami mulai melibatkan pihak gereja karena memiliki peran penting dalam menjangkau calon pengantin. Ke depan, kerja sama ini akan diperluas ke seluruh denominasi agama,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin merupakan upaya pencegahan, bukan untuk menentukan kelayakan pernikahan.
“Pemeriksaan kesehatan ini bukan untuk menentukan seseorang layak menikah atau tidak, tetapi untuk memastikan kondisi kesehatan mereka sebelum membangun keluarga,” tegas Carolina Heatubun.
Melalui evaluasi menyeluruh serta penguatan kolaborasi lintas sektor, Dinas Kesehatan Mimika optimistis kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak akan terus meningkat, sehingga berdampak pada penurunan angka kematian ibu dan bayi di wilayah tersebut.














