Memecah Kesunyian di Atas Panggung: Kisah Laurentius Minipko, Sang Pionir Instruktur Senam Papua di CFD
TIMIKA, papuamctv.com – Di
tengah hiruk-pikuk warga yang memadati area Car Free Day (CFD) setiap
akhir pekan, sosok Laurentius Minipko (56) berdiri tegak di atas panggung. Ia
bukan sekadar instruktur senam biasa; ia adalah simbol keberanian, kesehatan,
dan representasi identitas lokal yang berhasil mendobrak kecanggungan.
Sepuluh tahun silam, tepatnya
pada 2016, Laurentius memulai langkahnya dengan keraguan. Sebagai pria asli
Papua, ia sempat merasa canggung tampil di depan publik yang sebagian besar
belum dikenalnya. Namun, ada satu keresahan yang membuatnya bertahan: minimnya
keterlibatan masyarakat asli Papua dalam ruang publik tersebut.
"Awalnya saya merasa
canggung. Tapi saya lihat, waktu pertama dan kedua kali datang, nyaris tidak
ada orang Papua. Tidak ada perempuan, apalagi instruktur laki-laki Papua,"
kenang Laurentius saat diwawancarai.
![]() |
| Suasana senam pagi bersama yang dipimpim coach laurent saat kegiatan CFD Timika dilaksanakan, Sabtu (09/05/2026). Foto : Titin |
Bagi Laurentius, panggung CFD
bukan sekadar tempat menggerakkan badan, melainkan kawah candradimuka untuk
mengasah kepercayaan diri. Ia melihat ketiadaan instruktur pria asli Papua
sebagai peluang sekaligus tantangan untuk membuktikan bahwa kesehatan milik
semua orang, tanpa memandang usia atau latar belakang.
"Panggung ini tempat saya
mengasah diri, tampil di depan publik yang bukan komunitas saya. Ternyata,
antusiasme peserta luar biasa. Mereka kagum ada instruktur orang Papua,
laki-laki, dan usianya sudah di atas rata-rata," ujarnya bangga.
Kini, di usia 56 tahun, mantan
pemain bola era 80-an yang sempat beralih ke dunia fitness akibat cedera
lutut ini, telah memetik buah dari konsistensinya. Panggung CFD telah
membantunya secara ekonomi melalui bisnis nutrisi dan jasa instruktur,
sekaligus menjadi wadah kreativitas untuk menciptakan gerakan-gerakan senam
baru.
Meski mengapresiasi keberlanjutan
CFD, Laurentius memberikan catatan kritis terkait konten kegiatan. Ia menilai
aspek edukasi kesehatan masih sangat minim. Menurutnya, CFD jangan hanya
menjadi ajang promosi bisnis atau hotel, tetapi harus menjadi mimbar bagi
tenaga medis.
"Saya belum dengar satu
dokter pun berdiri dan memberikan edukasi tentang jantung, diabetes, atau
penyakit metabolik yang sekarang tumbuh subur. Harapan saya, ada dokter atau
pihak PMI yang diberikan ruang 2-3 menit di atas panggung untuk bicara tanpa
jarak dengan masyarakat," tegasnya.
Sebagai figur yang telah satu
dekade menggeluti dunia kebugaran, Laurentius membagikan "resep panjang
umur" yang sederhana namun mendalam bagi masyarakat Papua. Baginya,
kesehatan bukan hanya soal fisik, tapi juga mental dan sosial.
"Sehat itu dimulai dari apa
yang kita makan, apa yang kita minum, dan aktivitas fisik. Tapi ada faktor
kelima yang sering dilupakan: stres. Stres lahir dari bagaimana kita bertutur
dan bersikap kepada orang lain. Kortisol dan gula darah bisa melonjak hanya
karena relasi sosial yang buruk," jelasnya.
Ia merangkum lima pilar hidup
sehat versinya: Jaga pola makan, kecukupan minum, olahraga wajib, istirahat
cukup, dan menjaga relasi sosial yang baik.
Menariknya, dedikasi Laurentius
di panggung CFD tidak hanya berdampak pada kesehatan jantungnya, tetapi juga
"kesehatan" kantongnya. Panggung tersebut menjadi media promosi
gratis yang luar biasa efektif. Karena kepiawaiannya memandu senam di depan
publik, ia kerap dipanggil untuk mengisi acara senam di berbagai tempat.
Ia mengungkapkan bahwa usaha
ekonomi kecil yang dijalankannya kini telah menjadi motor penggerak ekonomi
domestik yang stabil.
Bagi Laurentius, bisnis nutrisi
dan olahraga adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
"Jual produk tapi tidak olahraga itu pincang. Panggung CFD inilah yang
memberi ruang bagi saya untuk mengasah kepercayaan diri sekaligus membantu
ekonomi keluarga," jelas pria yang dulunya merupakan pemain bola era 90-an
ini.
![]() |
| Coach Laurent saat ditemui wartawan disela kegiatan pada Car Free Day (CFD) Timika, Sabtu (09/05/2026). Foto Titin |
Dengan keberhasilannya mengelola
berat badan dan kemandirian ekonomi, Laurentius berharap masyarakat asli Papua
bisa menangkap peluang yang sama. Ia ingin mengubah pola pikir bahwa sehat itu
mahal dan sulit.
"Panggung ini adalah
edukasi. Saya ingin orang datang selain untuk olahraga, juga mendapat informasi
baru tentang kesehatan jantung atau diabetes yang sekarang marak. Kita harus
mengubah mindset tentang gaya hidup sehat melalui aksi nyata, bukan
sekadar program sesaat," pungkasnya penuh semangat.
Menutup narasinya, Laurentius
menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada Pemerintah Daerah dan Komite
Olahraga Masyarakat Indonesia (Kormi) yang telah memfasilitasi ruang sehat bagi
masyarakat.
"Terima kasih Bapak Bupati,
terima kasih Kormi. Panggung CFD ini sangat berharga bagi saya. Apapun
harganya, panggung ini harus tetap ada karena kita sedang mengubah mindset
orang tentang gaya hidup sehat," pungkas pria yang kini terus
menginspirasi banyak orang lewat gerakan energiknya di setiap Sabtu pagi.
Kisah Laurentius Minipo menjadi
pengingat kuat bahwa di balik gerakan senam yang energik di setiap akhir pekan,
ada perjuangan melawan keterbatasan fisik dan upaya gigih dalam membangun
ekonomi mandiri di masa tua. _ TR













