Menjaga Jantung Hijau Mimika: Strategi Blue Carbon dan Mimpi "Freeport Kedua" di Pesisir Selatan
TIMIKA, papuamctv.com —
Pemerintah Kabupaten Mimika tengah bersiap melakukan lompatan besar dalam tata
kelola lingkungan dan ekonomi pesisir. Tidak lagi bertumpu pada pola ekstraktif
konvensional, daerah yang dikenal dengan kekayaan tambangnya ini mulai melirik
potensi raksasa yang selama ini tersembunyi di sepanjang garis pantainya: hutan
mangrove.
Dalam sebuah wawancara khusus
pada Jumat (29/05/2026), Bupati Mimika, Johannes Rettob, S.Sos., M.M.,
mengungkapkan cetak biru (blueprint) masa depan Mimika yang memadukan
konservasi ekosistem pesisir dengan perdagangan karbon internasional (carbon
trade). Langkah ini diambil guna mengatasi stagnasi ekspor perikanan
sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan bagi masyarakat
adat.
Selama ini, komoditas unggulan
Mimika seperti udang galah dan kepiting bakau menjadi primadona di pasar Asia,
mulai dari Cina, Malaysia, hingga Singapura. Namun, tingginya permintaan pasar
global tersebut kerap membentur dinding realitas: ketidakpastian hasil
tangkapan alam.
"Ekspor kita ini
permintaannya cukup tinggi... tapi hasil tangkapan tidak bisa menjamin
keberlangsungan yang berkesinambungan," ujar Bupati Johannes Rettob.
"Tidak ada jalan lain, hanya proses pembudidayaan baru kita bisa (memenuhi
pasar)."
Belajar dari evaluasi program
budidaya di Kampung Kekwa tahun lalu yang belum berjalan maksimal akibat
minimnya pendampingan, Pemkab Mimika kini merancang formula baru. Pola yang
akan diterapkan adalah Silvofishery (Wana Mina)—sebuah sistem budidaya
perikanan tradisional yang diintegrasikan dengan pelestarian mangrove.
Model ini mengadopsi keberhasilan
tata kelola lahan basah di Bontang (Delta Mahakam, Kalimantan Timur) serta
kawasan global seperti Cagar Sumbu Amazon. Di bawah rimbunnya kanopi mangrove,
tambak-tambak budidaya akan dibangun dan dikelola langsung oleh masyarakat
setempat.
Langkah konkret transisi hijau
ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemkab Mimika
dengan Kedutaan Besar Republik Seychelles—negara kepulauan di Afrika Timur yang
dikenal sebagai salah satu pelopor dunia dalam pendanaan biru (blue finance)
dan konservasi maritim.
Melalui kerja sama ini, korporasi
global akan menanamkan investasi awal untuk memetakan, memproteksi, dan
mengaudit kapasitas penyerapan karbon di zona mangrove Mimika. Bupati
menegaskan, skema yang berjalan bukan berupa penjualan komoditas fisik, melainkan
sertifikasi atas jasa lingkungan.
TAHAPAN INVESTASI KARBON MIMIKA:
[Tahun 1-3] Penentuan Zonasi
Hektar -> Investasi Korporasi -> Pengelolaan Tambak oleh Warga
↓
[Tahun 3] Evaluasi Kadar Karbon -> Penerbitan
Sertifikat Internasional -> Pembagian Hasil (Revenue Sharing)
"Mereka tidak membeli
karbonnya, yang dia beli adalah sertifikat bahwa kita menjaga kawasan
ini," jelas Johannes. Setelah fase investasi dan evaluasi selama tiga
tahun, sertifikat tersebut akan bernilai ekonomi tinggi di pasar karbon
internasional.
Saking besarnya potensi finansial
dari oksigen dan biomassa mangrove ini, Bupati menganalogikannya sebagai harta
karun baru. "Ini emas, harganya bisa lebih tinggi dari harga emas. Jadi
nanti ada 'Freeport Kedua' di bawah situ (pesisir pantai), yaitu
mangrove."
Secara ilmiah, pesisir selatan
Papua, termasuk Mimika dan Asmat, diakui memiliki tutupan hutan mangrove dengan
kepadatan vegetasi tertinggi di dunia. Kendati demikian, data spasial
kuantitatif yang mendetail mengenai total luas hektar dan biomassa karbonnya
masih berbasis estimasi peta satelit kasar.
Hingga saat ini, riset akademis
yang pernah berjalan baru menyentuh aspek taksonomi dan diversitas flora.
Secara taksonomi, Mimika mengidentifikasi sekitar 27 sub-suku mangrove asli.
Angka ini secara variasi genetik memang masih di bawah Amazon yang memiliki
lebih dari 60 sub-suku berkat teknik hibridisasi (stek) alamiah dan buatan yang
menjadikan Amazon pusat edutowisata dunia.
Meski demikian, karakteristik
mangrove Mimika dinilai menghasilkan kualitas serapan karbon terbaik karena
ekosistemnya yang masih murni (virgin forest). Pemkab Mimika kini
membuka ruang lebar bagi tim riset universitas untuk melakukan studi lanjutan
guna menghitung valuasi ekonomi karbon secara presisi.
Hulu dari seluruh kebijakan
ilmiah dan ekonomi ini tetap bermuara pada masyarakat adat sebagai aktor utama.
Bupati Johannes mengakui bahwa Suku Kamoro yang mendiami pesisir Mimika
memiliki pemahaman ekologis lokal (indigenous knowledge) yang sangat
maju mengenai botani mangrove.
Masyarakat Kamoro dapat
membedakan dengan tepat fungsi tiap spesies mangrove:
- Aromatik & Repelen: Jenis mangrove yang
secara alami dapat mengusir serangga/nyamuk.
- Bio-Indikator & Pangan: Mangrove
spesifik yang menjadi habitat tambelo (cacing kayu komoditas pangan
lokal) serta penyedia kayu bakar berkelanjutan.
“Orang Kamoro paling tahu dan
kuasai itu. Jadi, ilmu lokal mereka ini yang akan kita padukan dalam pola
pendampingan tambak budidaya nanti,” pungkas Bupati.
Melalui sinergi antara investasi
hijau global, validasi ilmiah, dan kearifan lokal Suku Kamoro, Mimika sedang
menggeser paradigma: bahwa menjaga pohon tetap tumbuh tegak kini jauh lebih
menguntungkan daripada menebangnya. (HK)












