Menyisir Risiko Kehamilan di Pesisir Mimika: Catatan Medis dr. Leonard Pardede Bersama TP PKK



KOKONAO, papuamctv.com — Komitmen peningkatan kualitas hidup masyarakat di wilayah pesisir Kabupaten Mimika terus digenjot melalui sinergi lintas sektoral. Memanfaatkan momentum kunjungan kerja Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika, pelayanan kesehatan spesifik menyasar para ibu hamil di Distrik Mimika Barat Tengah dan Mimika Barat pada Senin (18/5/2026).


Hadir langsung memberikan pelayanan, dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Obgyn), dr. Leonard Pardede, Sp.OG, membeberkan sejumlah temuan medis krusial yang memerlukan perhatian serius dari pemerintah maupun penanganan klinis lanjutan.


Perjalanan medis yang dimulai dari Distrik Mimika Barat Tengah mengungkap fakta adanya tantangan berat pada dua kehamilan warga setempat. Dokter Leonard menjelaskan bahwa timnya menemukan kasus Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) serta dugaan kelainan kongenital mayor pada bayi.


"Berdasarkan pemindaian awal, janin tersebut mengalami atresia duodenum atau penyumbatan pada saluran pencernaan. Jika bayi ini lahir hidup, ia memerlukan tindakan operasi segera. Kita masih mengevaluasi apakah penanganan komprehensif ini dapat sepenuhnya dilakukan di Timika," ujar dr. Leonard saat ditemui di Kokonao, Distrik Mimika Barat.


Tidak hanya pada janin, intervensi medis darurat juga dibutuhkan oleh seorang ibu yang terdeteksi mengidap giant myome—tumor kandungan berukuran besar yang sangat mengganggu kondisi fisik dan kesehatan pasien.


"Kami sudah mengedukasi dan sangat menganjurkan agar pasien bersedia dievakuasi ke RSUD Timika untuk tindakan pengangkatan tumor. Ini demi meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan ibu tersebut secara jangka panjang," tambahnya.


Sementara itu, untuk wilayah Mimika Barat (Kokonao), dr. Leonard melaporkan tidak ditemukan adanya kasus kelainan kongenital mayor pada pemeriksaan hari itu. Namun, tim medis mendeteksi adanya potensi kehamilan risiko tinggi (high risk), termasuk kecurigaan placenta previa (ari-ari menutupi jalan lahir) atau placenta increta yang menembus otot rahim.


"Kepastian posisi plasenta ini akan kita evaluasi ketat pada usia kehamilan 28 hingga 32 minggu," jelasnya. Selain plasenta, ditemukan juga ibu hamil dengan risiko tinggi preeklampsia (tekanan darah tinggi dalam kehamilan) yang langsung diberikan terapi pencegahan dini berupa asupan aspirat dan kalsium laktat.


Menyoroti perbedaan pola hidup antara masyarakat perkotaan dan wilayah pesisir, dr. Leonard menekankan bahwa edukasi kesehatan di daerah pesisir harus menyentuh akar budaya dan kebiasaan sehari-hari. Salah satu sorotan tajamnya adalah masih tingginya kebiasaan merokok di kalangan ibu hamil maupun menyusui di wilayah pesisir.


"Ini yang harus diperangi. Jika ibu hamil merokok, nikotin masuk ke peredaran darah melalui plasenta. Secara tidak langsung, janin di dalam kandungan ikut mengisap rokok tersebut, yang berdampak langsung pada terhambatnya pertumbuhan janin," tegas dr. Leonard.


Ia menambahkan, persiapan mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) Mimika yang andal dan bebas stunting sebetulnya wajib dimulai bahkan sebelum masa kehamilan (prakonsepsi). Ketika sudah hamil, pemenuhan nutrisi makro dan mikro seperti asam folat, tablet tambah darah, dan kalsium menjadi harga mati.


"Pesisir Mimika ini kaya akan ikan, yang merupakan sumber protein terbaik. Potensi pangan lokal inilah yang harus dioptimalkan," imbuhnya.


Di tengah padatnya jadwal praktik dan tantangan cuaca ekstrem di perairan Mimika saat ini, kehadiran dr. Leonard di tengah-tengah masyarakat pelosok melahirkan tanya mengenai motivasi personalnya. Menanggapi hal tersebut, sang dokter tersenyum dan merujuk pada prinsip hidup yang diyakininya.


"Ini urusan personal dan keimanan. Saya memegang prinsip dari Kitab Yeremia, 'Sejahterakanlah kota di mana kamu ditempatkan'. Di mana pun saya diletakkan, saya harus berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat di situ," ungkapnya tulus.


Sebagai bentuk keberlanjutan (sustainability), dr. Leonard juga melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge) secara langsung kepada para dokter umum dan bidan pemuda di puskesmas setempat agar standar pelayanan tersebut terus berjalan meski dirinya telah kembali ke kota.


Menutup wawancara, dokter spesialis senior ini menitipkan pesan mendalam bagi para kepala keluarga di pesisir Mimika. Menurutnya, kesehatan ibu hamil dan masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari figur seorang ayah di rumah.


"Edukasi ini tidak bisa hanya untuk ibu-ibu, tapi harus menyasar kepala keluarga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama secara lintas sektoral. Saya mengetuk hati para orang tua, sekolahkan anak-anak dengan baik. Pendidikan adalah investasi. Melalui pendidikan, mereka akan punya ilmu, produktif, meningkatkan ekonomi keluarga, dan otomatis mengangkat status sosial mereka di masa depan," pungkasnya._HK

 

Postingan Terbaru