Sentuh Pesisir Mimika, dr. Enny Kenangalem Gugah Hati Nurani dan Semangat Pengabdian Dokter Muda
KOKONAO, papuamctv.com —
Kunjungan kerja Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK)
Kabupaten Mimika di wilayah pesisir Distrik Mimika Barat (Kokonao) pada Senin
(18/05/2026), membawa dampak signifikan bagi peningkatan mutu pelayanan
kesehatan masyarakat.
Salah satu terobosan yang
disoroti dalam kunjungan ini adalah kehadiran dr. Leonardo, Sp.OG, seorang
dokter spesialis kandungan asal Timika. Kehadirannya dinilai memberikan dampak
positif yang luar biasa bagi penguatan kapasitas tenaga kesehatan di Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) periferi, khususnya dalam menekan angka
kematian ibu dan bayi.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Cabang Mimika, dr. Enny Kenangalem, M.Biomed, menjelaskan bahwa kehadiran
dokter spesialis di wilayah pesisir memicu terjadinya transfer ilmu (knowledge
sharing) yang sangat efektif bagi dokter umum, bidan, hingga perawat di
puskesmas setempat.
"Sebenarnya, alat USG sudah
tersedia di setiap puskesmas. Namun, pengenalan dan operasional alat tersebut
belum sepenuhnya dipahami oleh petugas di lapangan. Dengan kehadiran dokter
spesialis, dalam waktu singkat mereka diberikan edukasi mengenai pendekatan
pemeriksaan penegakan diagnosis bagi ibu hamil menggunakan USG," ujar dr.
Enny saat diwawancarai di Kokonao.
Selain fokus pada kesehatan ibu
hamil, kunjungan lintas sektor ini juga melibatkan Kelompok Kerja (Pokja) IV
TP-PKK Mimika yang memberikan pendampingan serta penyuluhan terkait Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) sehat untuk anak usia 6 bulan ke atas sebagai upaya
pencegahan stunting.
Atas terselenggaranya kegiatan
terpadu ini, dr. Enny selaku Ketua IDI Cabang Mimika menyampaikan rasa terima
kasih dan apresiasi yang mendalam kepada Ibu Ketua TP-PKK dan Ibu Wakil Ketua
TP-PKK Kabupaten Mimika. Menurutnya, kemitraan strategis ini membuka ruang yang
sangat luas bagi profesi medis untuk menyentuh wilayah terpencil.
"Kami dari IDI Cabang Mimika
menyampaikan banyak terima kasih kepada Ibu Ketua TP-PKK dan Ibu Wakil Ketua.
Melalui kolaborasi yang baik ini, IDI diberikan keleluasaan untuk melakukan
pemantauan secara profesi mengenai bagaimana kondisi pelayanan kesehatan yang
sebenarnya di distrik-distrik pinggiran, bahkan di wilayah yang secara
geografis sangat sulit dijangkau dari Kota Timika," ungkap dr. Enny.
Ia berharap kerja sama ini tidak
berhenti sampai di sini, melainkan dapat terus terjaga secara berkelanjutan.
"Kami berharap ke depan kolaborasi ini berjalan terus hingga mampu menjadi
sebuah landasan kuat bagi perubahan serta peningkatan mutu pelayanan kesehatan
di seluruh wilayah Kabupaten Mimika," tambahnya.
Bagi IDI Mimika, momentum
kunjungan ke Kokonao ini terasa sangat spesial karena berdekatan dengan Hari
Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 yang diperingati setiap tanggal 20 Mei.
dr. Enny mengingatkan kembali sejarah panjang perjuangan profesi dokter yang
tidak dapat dipisahkan dari dinamika kebangsaan dan politik Indonesia.
"Tanggal 20 Mei dipilih
karena merujuk pada berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908 oleh para
mahasiswa sekolah kedokteran STOVIA. Dokter bukan sekadar profesi pelayanan
murni. Sejarah mencatat dokter-dokter muda saat itu terlibat aktif dalam
pergerakan kebangsaan," tuturnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi
dan kebijakan politik pemerintah (goodwill) dalam memperhatikan kualitas
serta kesejahteraan para dokter yang bertugas di daerah terpencil. Menurutnya,
ketika pendekatan pemerintah terhadap kualitas dokter di pesisir berjalan baik,
maka mutu pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat akan meningkat secara
langsung.
Sebagai Ketua IDI Mimika, dr.
Enny menegaskan komitmennya untuk mengubah arah pengabdian para dokter muda
yang saat ini masih berpusat di Kota Timika. Ia mendorong para sejawatnya,
terutama para lulusan Universitas Cenderawasih (Uncen), untuk kembali dan
melayani masyarakat asli Papua di wilayah pesisir.
"Sejatnya sejak awal
terpilih, visi saya adalah mengajak dokter-dokter muda ini bergeser ke pesisir.
Kita memiliki dana Otsus (Otonomi Khusus) yang peruntukannya jelas untuk Papua.
Saya ingin memantik panggilan moral mereka agar datang dan melihat langsung
kondisi saudara-saudara kita di sini," tegasnya. Komitmen ini pun mendapat
respons positif dan dukungan penuh dari jajaran pengurus TP-PKK Kabupaten
Mimika.
Menanggapi sistem kerja tenaga
medis di pedalaman, dr. Enny mengapresiasi kebijakan Dinas Kesehatan Kabupaten
Mimika yang saat ini dinilai lebih fleksibel dan bijaksana. Berbeda dengan
polanya 23 tahun lalu saat ia baru lulus—di mana jumlah dokter sangat minim dan
akses terbatas—saat ini dokter di Kokonao diizinkan menggunakan sistem rotasi
(satu bulan bertugas di distrik, satu bulan di kota).
Kendati akses internet dan
fasilitas di Kokonao sudah relatif maju, dr. Enny tetap memberikan catatan
kritis terkait esensi kehadiran seorang dokter dari kacamata moral profesi.
"Jika berbicara soal hati
nurani, idealnya seorang dokter harus menetap di sini untuk memantau
perkembangan kesehatan masyarakat dari hari ke hari secara konsisten. Namun,
kita juga harus realistis melihat perkembangan zaman dan teknologi yang memudahkan
pemantauan situasi dari kota," urainya.
Lebih lanjut, dr. Enny
menggarisbawahi bahwa pemenuhan rasio jumlah dokter dengan total populasi di
daerah terpinggirkan seperti Kokonao masih menjadi pekerjaan rumah (PR) besar
yang belum tuntas.
"Saat ini di Kokonao baru
ada dua orang dokter yang bergantian setiap bulan. Secara ideal, jumlah itu
tentu belum cukup untuk melayani seluruh populasi distrik. Ini adalah tantangan
kolektif bagi Dinas Kesehatan dan IDI sebagai organisasi profesi guna
merumuskan formulasi pemenuhan tenaga medis ke depan," pungkasnya. _HK
















