Sentuhan Kasih di Ruang Ujian: Perjuangan Guru Menyiapkan Teknologi bagi Siswa di Pelosok Mimika
TIMIKA, papuamctv.com –
Meski terletak di wilayah pinggiran yang kerap dihadapkan pada tantangan akses
dan situasi keamanan, SMP Negeri 9 Kwamki Narama membuktikan bahwa kualitas
pendidikan digital tidak melulu milik sekolah di pusat kota. Sejak Senin (4/5),
sekolah ini sukses menyelenggarakan Ujian Akhir Sekolah (UAS) Tahun Pelajaran
2025/2026 dengan sistem berbasis komputer sepenuhnya (paperless).
Kepala Sekolah SMPN 9 Kwamki
Narama, Martha Welma Benamen, S.Pd., menegaskan bahwa penerapan ujian
digital merupakan komitmen jangka panjang sekolah untuk memastikan
siswa-siswinya memiliki daya saing yang setara saat melanjutkan pendidikan ke
jenjang SMA di kota.
"Tujuan saya satu, walaupun
anak-anak ini di sekolah pinggiran dan daerahnya susah dijangkau karena
konflik, saya tidak mau mereka ketinggalan. Mereka harus bisa bersaing dengan
sekolah di kota, dan terbukti, lulusan kami mampu melakukannya," ujar
Martha saat diwawancarai, Selasa (5/5/2026).
Dibalik kesuksesan digitalisasi
ini, tersimpan perjuangan ekstra dari tenaga pendidik. Martha mengungkapkan
istilah "Lab Bongkar Pasang", sebuah metode darurat untuk
menjaga keamanan perangkat teknologi di sekolah. Karena faktor keamanan,
perangkat komputer tidak bisa ditinggalkan di dalam ruangan begitu saja.
Para guru harus bekerja keras
mengangkut dan menyeting ulang perangkat setiap hari. "Jika lab sedang
digunakan secara intensif untuk ujian seperti sekarang, guru-guru memang ada
yang tidur di sekolah untuk memastikan semua perangkat aman. Namun, jika sedang
tidak ada agenda ujian, penjagaan kembali normal. Ini adalah bentuk tanggung
jawab kami menjaga amanah alat-alat pendidikan ini," jelas Martha.
Saat ini, infrastruktur ujian
didukung oleh kombinasi perangkat sekolah dan laptop pribadi guru. Martha
berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih berupa bantuan perangkat
yang lebih fleksibel seperti tablet atau laptop untuk mendukung
sistem non-kertas yang telah mereka jalankan selama dua tahun terakhir.
Kesiapan siswa dalam menghadapi
ujian digital bukan terjadi secara instan. SMPN 9 Kwamki Narama merupakan salah
satu pionir pelaksana Kurikulum Merdeka di tahun 2023 dan pernah meraih
prestasi tingkat nasional. Mata pelajaran Informatika telah menjadi kewajiban,
bahkan ujian tengah semester pun sudah tidak lagi menggunakan kertas.
Ketua Panitia Ujian, Sandra
Alparis, S.Pd., menjelaskan bahwa teknis ujian tahun ini diikuti oleh 31
siswa dengan memanfaatkan aplikasi Quizziz.
"Kami bagi dalam dua sesi.
Sesi pertama menggunakan 16 unit laptop, dan sesi kedua menggunakan ponsel
pintar (HP). Soal terdiri dari 45 pilihan ganda dan 5 esai. Puji Tuhan, dari
hari pertama hingga kedua, seluruh siswa hadir 100 persen," jelas Sandra.
Sandra menambahkan, meskipun
berada di Kwamki Narama, anak-anak didiknya sudah sangat akrab dengan
teknologi. "Mereka tidak kaget lagi. Kami sangat bersyukur karena Ibu
Kabid dan rekan-rekan dari Dinas Pendidikan sering meluangkan waktu untuk
datang langsung meninjau kami di sini. Kehadiran beliau menjadi penyemangat
tersendiri bagi guru-guru dan siswa,"
![]() |
| Suasana para siswa SMP N 9 Kwamki Narama ketika sedang mengikuti Ujian Akhir Sekolah dengan metode berbasis komputer. Foto : Istimewa |
Selain fokus pada teknologi, pihak sekolah juga memastikan akses pendidikan tetap terjangkau. Martha Benamen menegaskan bahwa tidak ada pungutan biaya untuk buku, modul, maupun LKS di SMPN 9 Kwamki Narama. Semua kebutuhan administrasi siswa diupayakan sekolah agar tidak membebani orang tua.
Sisi humanis SMPN 9 Mimika juga
tercermin dari perhatian mereka terhadap kesejahteraan siswa. Memahami bahwa
konsentrasi ujian membutuhkan energi, pihak sekolah dan para guru berinisiatif
menyiapkan makanan bagi seluruh siswa yang mengikuti ujian.
"Setiap hari ujian, kami
menyiapkan makan untuk anak-anak. Kami ingin mereka fokus mengerjakan soal
tanpa memikirkan perut kosong. Bahkan, seluruh rangkaian kegiatan dari ujian
hingga acara perpisahan nantinya, semua biaya konsumsi dan kebutuhan lainnya
difasilitasi oleh sekolah dan guru-guru secara mandiri. Kami tidak ingin
membebani orang tua," tambah Martha dengan nada lembut.
Menutup keterangannya, Martha
memberikan pesan mendalam mengenai esensi teknologi di sekolah. "Peran
guru tidak akan pernah bisa digantikan oleh komputer. Namun, mari kita
sama-sama belajar digitalisasi agar anak-anak Papua terus maju," pungkasnya. -TR












