Wujudkan Semangat Otsus, Kadinkes Mimika Apresiasi Dokter OAP di Wilayah Pesisir

 


TIMIKA, papuamctv.com — Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan memberikan apresiasi tinggi kepada para tenaga kesehatan (nakes), khususnya para dokter Orang Asli Papua (OAP) yang memilih mengabdikan diri di wilayah pesisir dan pedalaman Mimika. Pengabdian ini dinilai sebagai bukti nyata dari implementasi semangat Otonomi Khusus (Otsus) yang menyentuh langsung kebutuhan dasar masyarakat.


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs, S.IP., M.M.Kes., menyatakan rasa bangganya atas dedikasi para dokter OAP yang menomorsatukan nilai kemanusiaan di atas tantangan geografis Mimika yang ekstrem.


"Saya bangga kepada teman-teman dokter OAP. Mereka benar-benar mewujudkan semangat Otsus. Di balik tantangan alam, ada harapan dan hati yang tulus. Mereka membuktikan kecintaan pada tanah ini dengan bertanya pada diri sendiri: 'Saya anak Papua, apa yang harus saya berikan?' Mereka tidak melihat kondisi alam sebagai hambatan, melainkan dari sisi kemanusiaan," ujar Godfried saat ditemui pada Jumat (22/05/2026).


Komitmen para dokter asli Papua ini sekaligus menjawab kerinduan masyarakat adat, khususnya suku Amungme dan Kamoro, yang sejak lama mendambakan pelayanan kesehatan prima dari anak-anak daerahnya sendiri.


Meski sebagian besar Puskesmas di wilayah pesisir kini telah memiliki tenaga dokter, Godfried mengakui pihaknya masih menghadapi kendala kuantitas. Dinas Kesehatan Mimika menargetkan minimal ada dua dokter di setiap Puskesmas guna menunjang sistem sif (shift) kerja yang ideal.


Kondisi alam Mimika yang menantang memaksa manajemen Puskesmas menerapkan sistem kerja bergilir agar pelayanan tidak vakum. Namun, sistem ini kerap disalahgunakan oleh oknum nakes yang enggan kembali ke tempat tugas di pesisir atau pedalaman dan memilih bertahan di kota Mimika.


Menyikapi hal tersebut, Dinkes Mimika mengambil langkah tegas melalui penegakan disiplin seketat mungkin sesuai arahan Bupati.


  • Wajib Apel Pagi: Nakes yang sedang berada di kota wajib mengikuti apel pagi di kantor Dinas Kesehatan.
  • Minimalisir Pelanggaran: Kebijakan ini diterapkan guna meminimalisir adanya nakes yang "makan gaji buta" atau mangkir dari wilayah tugas dalam waktu lama.
  • Evaluasi Berjalan Baik: Sejauh ini, sistem pengawasan presensi ini diklaim berjalan efektif dan mampu meningkatkan kehadiran nakes di tempat tugas.

Hingga saat ini, Mimika berhasil memenuhi sekitar 90% kebutuhan tenaga medis yang diharapkan masyarakat—sebuah capaian yang relatif tinggi mengingat pemenuhan nakes di wilayah terpencil merupakan isu nasional.


Meski demikian, tantangan berikutnya adalah kelangkaan dokter gigi. Menurut Godfried, kesulitan merekrut dokter gigi tidak hanya dialami oleh Mimika, melainkan juga menjadi persoalan pelik bagi kabupaten-kabupaten lain di Papua.


Menutup keterangannya, Godfried memberikan pesan edukatif sekaligus reflektif bagi seluruh tenaga medis yang bertugas di bumi Amungme-Kamoro. Ia mengingatkan agar para dokter tidak terjebak pada orientasi bisnis semata, melainkan kembali kepada hakikat panggilan jiwa seorang pelayan kesehatan.


"Siapapun dia, apa profesinya, kuncinya adalah berpedoman pada sumpah dan janji profesi. Kebutuhan materi setiap manusia memang berbeda, tetapi kalau kita sudah berani mengambil suatu profesi, ada sumpah yang harus diamanahkan kepada masyarakat, khususnya bagi saudara-saudara kita suku Amungme dan Kamoro," pungkasnya tegas. (HK)

 

Postingan Terbaru