Akselerasi Pembangunan Mimika: Pemkab, PTFI, dan YPMAK Sepakati Tiga MoU Strategis di Jakarta
JAKARTA, papuamctv.com – Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Mimika resmi memperkuat sinergi pembangunan daerah melalui
penandatanganan tiga Nota Kesepahaman (MoU) strategis bersama PT Freeport
Indonesia (PTFI) dan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro
(YPMAK). Prosesi penandatanganan ini berlangsung di Jakarta pada Rabu
(17/6/2026).
Langkah ini menandai babak baru
kolaborasi multisektor demi menggenjot kesejahteraan masyarakat di wilayah
Mimika. Agenda krusial ini dihadiri langsung oleh Bupati Mimika Johannes
Rettob, Wakil Bupati Emanuel Kemong, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas, Executive
Vice President Sustainable Development PTFI Claus Wamafma, serta Direktur Utama
YPMAK Leonardus Tumuka. Turut hadir mendampingi, sejumlah pimpinan Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Mimika.
Kerja sama segitiga (trilateral)
ini mencakup tiga klaster utama yang dirancang untuk menyasar sektor-sektor
fundamental:
- Pengembangan Multisektor Pemkab - PTFI:
Fokus pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM), ekonomi, pendidikan, dan
layanan kesehatan.
- Inovasi Infrastruktur: Pemanfaatan material
sisa tambang (tailing) PTFI untuk mendukung akselerasi pembangunan
infrastruktur daerah.
- Kemitraan Pemkab - YPMAK: Kolaborasi
komprehensif di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, pengembangan SDM,
serta pembenahan infrastruktur kampung.
Dalam sambutannya, Bupati Mimika
Johannes Rettob menggarisbawahi bahwa kompleksitas tantangan pembangunan hari
ini tidak bisa lagi dipikul sendiri oleh pemerintah. Ia menyerukan pentingnya
mengikis ego sektoral demi hasil yang lebih optimal.
"Era saat ini adalah era
kolaborasi. Pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat sipil harus bersatu.
Karena itu, kerja sama ini harus menjadi langkah nyata untuk mempercepat
pembangunan Mimika," ujar Johannes.
Johannes juga memberikan catatan
kritis agar kesepahaman ini tidak terjebak dalam lingkaran formalitas
seremonial semata. Ia menginstruksikan seluruh jajaran OPD untuk segera
mengonversi MoU tersebut ke dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang lebih teknis,
taktis, dan terukur.
Lebih jauh, Bupati mengusulkan
penyusunan blueprint pembangunan bersama sebagai kompas integrasi
program kerja antara Pemkab, Freeport, dan YPMAK agar tidak terjadi tumpang
tindih (overlapping) anggaran maupun kegiatan.
"Kita punya APBD, dukungan
pemerintah pusat, Freeport, dan YPMAK. Tinggal bagaimana kita menyatukan
langkah. Jangan sampai MoU ini menjadi dokumen yang tertidur. Harus ada tindak
lanjut nyata yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,"
tegasnya.
Bak gayung bersambut, Presiden
Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menegaskan komitmen penuh korporasi
untuk berjalan beriringan dengan pemerintah daerah. Fokus PTFI dipastikan tetap
konsisten pada penguatan layanan dasar masyarakat adat Amungme, Kamoro, serta
warga Mimika secara keseluruhan.
Di balik komitmen tersebut, Tony
memaparkan realisasi kontribusi finansial PTFI yang sangat signifikan bagi kas
daerah. Sepanjang tahun 2025, kontribusi PTFI kepada Pemkab Mimika melalui
skema penerimaan negara dan daerah menembus angka Rp4,8 triliun. Angka
ini kian tebal dengan kucuran dana sekitar Rp1,2 triliun pada tahun 2026
yang berasal dari pembagian keuntungan bersih (net profit) perusahaan.
"Total kontribusinya sekitar
Rp6 triliun. Ini bukan jumlah yang kecil. Harapannya dana tersebut dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk sektor-sektor prioritas seperti pendidikan,
kesehatan, ekonomi, dan pembangunan masyarakat," jelas Tony.
Di sisi lain, Tony juga
memberikan pembaruan (update) terkait kondisi internal perusahaan. Saat
ini, operasional penambangan PTFI masih berada dalam fase pemulihan
pasca-insiden aliran material basah yang terjadi pada September tahun lalu.
Kapasitas produksi saat ini dilaporkan baru menyentuh angka 50 persen dari
kapasitas normal.
Meski demikian, manajemen PTFI
optimistis bahwa seiring dengan normalisasi operasional tambang dalam beberapa
tahun ke depan, grafik kontribusi perusahaan kepada negara dan daerah akan
kembali bergerak naik secara progresif.
Penandatanganan tiga MoU ini
menjadi momentum krusial bagi Kabupaten Mimika di tengah tingginya ekspektasi
publik terhadap perbaikan kualitas pelayanan publik dan penguatan ekonomi
lokal.
Kini, tantangan terbesar berada
pada pundak para pemangku kebijakan untuk membuktikan bahwa dokumen kerja sama
yang ditandatangani di Jakarta mampu menjelma menjadi aksi nyata yang menyentuh
akar rumput di tanah Mimika.

















