Dari Hutan Mimika ke Gorontalo: Kisah Lukas Wayawiyuta, Sukses Kuliahkan Anak Kedokteran dari Tepung Sagu
GORONTALO, papuamctv.com — Aroma khas
sagu menyerbak di stan pameran Kabupaten Mimika dalam ajang Pekan Nasional
(PENAS) Petani Nelayan XVII yang digelar di Gorontalo, Jumat (19/06/2026). Di
antara riuh pengunjung, tampak sosok Lukas Wayawiyuta (54), seorang pengusaha
tepung sagu asli suku Kamoro yang tak henti-hentinya tersenyum ramah menyapa
setiap orang yang mampir.
Lukas bukan sekadar peserta
pameran biasa. Ia adalah potret nyata bagaimana komoditas lokal jika ditekuni
dengan konsistensi mampu mengubah garis nasib sebuah keluarga.
Pria paruh baya ini merupakan
bagian dari Kelompok Aimikamu—sebuah nama yang dalam bahasa Kamoro berarti "Ayo
Bekerja". Kelompok usaha yang berbasis di Distrik Iwaka ini berada di
bawah binaan langsung Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mimika.
Langkah kaki Lukas di dunia usaha
sagu nyatanya sudah teruji oleh waktu. Ia memulai bisnis ini sejak tahun 2003.
Mengolah sagu yang awalnya dipandang sebelah mata menjadi produk bernilai
ekonomi tinggi. Di tangannya, tepung sagu bertransformasi menjadi bahan baku
aneka kue kering, kue basah, hingga mi instan berkualitas (super mie).
"Saya bekerja, usaha ini
mulai dari 2003 sampai dengan sekarang bisa ada di Gorontalo ini. Di ajang
PENAS, ini bukan yang pertama. Saya sudah ikut sejak PENAS Aceh tahun 2017,
lalu kemarin tahun 2023 di Padang, Sumatera Barat. Hari ini, saya bawa produk
ini untuk dipromosikan di Gorontalo agar daerah lain tahu bahwa Mimika punya
produk unggulan yang berkembang," ujar Lukas dengan nada bangga.
Transformasi usaha Lukas dari
cara tradisional ke modern tidak lepas dari campur tangan Pemerintah Kabupaten
Mimika melalui Dinas Ketahanan Pangan. Lukas menceritakan bagaimana pemerintah
daerah menyokong penuh operasional usahanya.
"Dukungan pemerintah daerah
luar biasa. Melalui Dinas Ketahanan Pangan, mereka membantu membangun rumah
produksi, menyediakan fasilitas air bersih, hingga mesin-mesin pengolahan yang
lengkap. Tugas saya tinggal bekerja. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak
Bupati dan Wakil Bupati Mimika," ungkapnya.
Terkait legalitas produk agar
bisa menembus pasar luar Papua secara masif, Lukas mengaku proses perizinan
sedang berjalan dan terus dikawal oleh dinas terkait. "Sementara ini
izinnya sebagian sudah ada, sepulang dari sini akan saya lanjutkan lagi prosesnya.
Pendampingan dari dinas selalu ada," tambahnya.
Di balik kegigihannya memproduksi
tepung sagu dan sagu basah, ada motivasi terbesar yang membuat Lukas bertahan
selama 23 tahun: pendidikan anak-anaknya. Dari tetesan keringat mengolah sagu,
Lukas berhasil mendobrak keterbatasan ekonomi.
Anak laki-lakinya, Jackson, kini
telah lulus dari Fakultas Kedokteran di salah satu perguruan tinggi di Semarang
dan sedang menjalani praktik. Tidak hanya itu, satu anaknya yang lain kini
telah sukses bekerja di PT Freeport Indonesia.
"Saya semangat bertahan
karena sagu ini yang membiayai anak-anak saya kuliah. Hasil penjualan tepung
sagu saya bawa ke kantor-kantor, mereka beli, dan uangnya langsung saya kirim
untuk anak yang sekolah. Jika Tuhan sayang, tahun ini atau tahun depan dia
(Jackson) akan wisuda S2 lagi," cerita Lukas dengan mata berkaca-kaca.
Menutup perbincangan, Lukas
menyelipkan sebuah harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Mimika. Ia
berharap keberhasilan anak-anak Papua, khususnya anak-anak suku Kamoro yang
telah menempuh pendidikan tinggi, dapat diakomodasi oleh pemerintah daerah saat
mereka kembali ke tanah kelahiran.
"Saya meminta kepada
pemerintah daerah, dalam hal ini Bapak Bupati Mimika, tolong lihat kami
anak-anak Papua, anak-anak Kamoro yang sudah kuliah. Ketika mereka pulang,
pastikan ada tempat untuk mereka bekerja dan mengabdi. Itu harapan besar saya,"
pungkasnya penuh harap.
Kisah Lukas Wayawiyuta di PENAS
XVII Gorontalo menjadi bukti nyata bahwa sagu bukan sekadar pangan pokok lokal,
melainkan simbol kemandirian ekonomi dan jembatan emas bagi masa depan generasi
muda Papua. (HK)

















