Dari Iseng Menjadi Cuan: Kisah Tantri Palallo Boyong Olahan Ayam Segar Mimika ke Ajang Penas XVII Gorontalo



GORONTALO, papuamctv.com — Perhelatan Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo menjadi panggung unjuk gigi bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) daerah. Salah satu yang mencuri perhatian di stan pameran Kabupaten Mimika adalah Dapur Aggil, usaha kuliner terobosan yang digawangi oleh Tantri Palallo.

 

Di bawah binaan Dinas Peternakan Kabupaten Mimika, Dapur Aggil sukses menyulap komoditas ayam lokal menjadi aneka camilan kekinian yang menggugah selera, mulai dari Baso Tahu, Sempol Ayam Crispy, Basreng (Bakso Goreng) Ayam, hingga Cireng Ayam.

 

Inovasi yang dilakukan Tantri bukan sekadar urusan isi perut, melainkan sebuah solusi konkret bagi sektor peternakan di Mimika. Dengan memanfaatkan daging ayam dan telur lokal yang melimpah dan segar, Dapur Aggil memberikan alternatif serapan pasar bagi para peternak setempat.

 

"Bahan dasarnya gampang dicari karena peternak lokal kita sudah banyak. Kami sengaja memilih ayam lokal karena kualitasnya yang segar (fresh) dan rasanya jauh lebih unggul dibanding ayam pasokan luar," ujar Tantri saat ditemui di stan pameran Mimika, Jumat (19/6/2026).

 

Langkah strategis ini dinilai mampu membangkitkan roda perekonomian daerah. Ke depan, Tantri bahkan berencana mengembangkan variasi produk lain seperti sosis ayam guna memperluas pasar.

 

Meski memiliki potensi pasar yang menjanjikan, perjalanan Dapur Aggil yang dirintis sejak tahun 2018 ini bukan tanpa hambatan. Tantri blak-blakan mengisahkan tantangan klasik yang dihadapi UMKM daerah, yakni pemenuhan regulasi izin edar.


Untuk mengantongi izin BPOM, dirinya harus melakukan uji laboratorium di luar kota karena fasilitas lokal yang belum memadai. Sementara untuk sertifikasi Halal, kendala muncul dari regulasi proses produksi.

 

"Untuk sertifikasi Halal sebetulnya sudah diaudit. Namun, kami terkendala di fasilitas penggilingan daging. Komite Fatwa mensyaratkan kami memiliki mesin penggilingan sendiri, sementara saat ini kami masih menumpang di penggilingan Pasar Sentral," ungkapnya.

 

Akibat keterbatasan izin edar ini, Dapur Aggil belum berani memasok produk ke toko swalayan (fresh market) atau ritel besar. Penjualan sejauh ini masih mengandalkan sistem pesanan rumahan dan pemasaran daring (online). Kendati demikian, Tantri mengapresiasi Dinas Peternakan Mimika yang terus setia melakukan pendampingan dan berharap adanya bantuan stimulus berupa pengadaan mesin giling di masa mendatang.


Ibu Tantri Palallo, bersama delegasi Pelaku UMKM Kabupaten Mimika lainnya pada Event PENAS 17 di Gorontalo, Jumat (26/06/2026). Foto: Titin

 

Bagi Tantri, hadir di Penas XVII Gorontalo bukan sekadar untuk berjualan, melainkan ajang memperkaya inovasi. Ia memanfaatkan momentum ini untuk saling berbagi formula (sharing) dengan pelaku UMKM dari provinsi lain.

 

"Kami cari pengalaman di sini. Kalau ada olahan menarik dari provinsi lain, kita bisa pelajari, istilahnya copy-paste lalu disesuaikan. Sesama UMKM kita harus saling mendukung untuk meningkatkan penjualan," tuturnya optimis.

 

Memulai usaha dari ketidaksengajaan demi memenuhi jajanan anak, bisnis yang berawal dari metode pemasaran mouth-to-mouth (mulut ke mulut) ini kini telah bertransformasi menjadi pilar ekonomi keluarga bagi Tantri.

 

"Awalnya cuma iseng, lama-lama jadi cuan. Dampak ekonominya luar biasa, setidaknya saya bisa membantu suami untuk biaya sekolah dan jajan anak-anak. Saya bangga bisa menghasilkan pendapatan sendiri dari produk olahan mandiri, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada suami," tutup Tantri dengan senyum sumringah.

 

Kisah Dapur Aggil dari Mimika ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara kreativitas lokal, pemanfaatan bahan baku segar, dan pendampingan pemerintah daerah mampu melahirkan kemandirian ekonomi yang menginspirasi. (HK)

 

Postingan Terbaru