Membangun dari Kampung: Menengok Jantung Program Pokja 2 TP PKK Mimika dalam Memutus Rantai Ketertinggalan
TIMIKA, papuamctv.com –
Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mimika
terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyukseskan
visi membangun dari kampung menuju kota. Melalui Kelompok Kerja (Pokja) 2, TP
PKK Mimika bergerak taktis menyasar akar rumput dengan berfokus pada tiga pilar
utama: Pendidikan, Keterampilan melalui Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga
(UP2K), dan Koperasi.
Ketua Bidang 2 Pokja 2 TP PKK
Kabupaten Mimika, Leentje Siwabessy Paiman, menegaskan bahwa seluruh program
yang dirancang bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah gerakan nyata yang
menyentuh esensi dasar kehidupan masyarakat, khususnya bagi masyarakat asli
suku Amungme dan Kamoro.
Dalam orasi anggunnya yang penuh
penekanan, Leentje mengingatkan pentingnya pendidikan sebagai jembatan emas
masa depan. "Tidak ada seorang pun yang akan menjadi pejabat tanpa melalui
pendidikan," ujarnya mantap di hadapan para pengurus PKK distrik yang baru
dilantik.
Komitmen ini diwujudkan melalui
pengawalan program Wajib Belajar 13 Tahun. Gerakan ini lahir dari
keprihatinan mendalam Ketua TP PKK Mimika, Ny. Susi Retop, dan Wakil Ketua, Ny.
Periana, saat melakukan sosialisasi di Distrik Amar. Di sana, ditemukan fakta
lapangan mengenai anak berusia 7 tahun yang siap masuk Sekolah Dasar (SD),
namun belum mengenal warna dan huruf karena absennya fasilitas Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) di wilayah tersebut.
Merespons kondisi tersebut, PKK
Mimika mengambil langkah konkret dengan menghadirkan PAUD Kasih Amungme
Kamoro (Amuro) yang bertaraf nasional. Berlokasi di samping Kantor KPKNL
(bekas kantor PKK pertama), PAUD ini menerapkan kolaborasi sistem Montessori
dan kurikulum Merdeka Belajar. Pengajarnya pun tak main-main: lima orang
sarjana PAUD yang lolos seleksi ketat.
Hebatnya, seluruh fasilitas di
PAUD ini diberikan secara gratis tanpa pungutan satu rupiah pun bagi anak-anak
suku Amungme dan Kamoro.
"Kami jemput dengan minibus
dari rumah ke rumah. Seragam, sepatu, hingga makanan, semua ditanggung. Setelah
selesai sekolah, mereka diantarkan pulang dengan selamat," urai Leentje.
Kebijakan kuota siswa pun
diperketat demi afirmasi penduduk asli. Atas arahan Bupati, prioritas utama
diberikan penuh kepada anak-anak Amungme dan Kamoro, sementara persentase kecil
sisanya dialokasikan bagi anak-anak Papua lainnya dan non-Papua. Langkah
radikal ini diambil agar generasi muda Amungme dan Kamoro mampu menjadi tuan di
tanah mereka sendiri di masa depan.
Pilar kedua yang menjadi
lokomotif Pokja 2 adalah peningkatan ekonomi melalui keterampilan. Selama ini,
mama-mama Papua dikenal mahir membuat kerajinan tangan seperti noken dan
anyaman. Namun, masalah klasik yang kerap dihadapi adalah rantai pemasaran: “Kemana
harus menjual setelah produk selesai dibuat?”
Menjawab kegelisahan tersebut,
Pokja 2 PKK menyinergikan gerakannya dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah
(Dekranasda) Kabupaten Mimika. Sinergi ini berjalan mulus karena kedua lembaga
ini dipimpin oleh nakhoda yang sama, yakni Ny. Susana S. Herawati Rettob dan
Ny. Periana Kula Kemong.
Melalui kemitraan ini, PKK
bertindak sebagai pembina kualitas, sedangkan Dekranasda bertindak sebagai
wadah penampung dan pemasar. Mama-mama pengrajin kini hanya perlu fokus menjaga
mutu ketelitian dan kerapian anyaman mereka. Produk yang memenuhi standar
kualitas akan langsung diserap oleh Dekranasda untuk dipasarkan secara luas,
sehingga memberikan dampak instan pada pendapatan finansial keluarga.
Sebagai pelengkap lini ekonomi,
Pokja 2 menghidupkan kembali roh Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 melalui gerakan
koperasi. Menepis stigma bahwa banyak koperasi yang "hidup segan mati tak
mau", PKK Mimika membuktikan keberhasilan lewat Koperasi Cinta Kasih
Amuro.
Saat ini, koperasi tersebut
beranggotakan 130 orang yang terdiri dari seluruh pengurus PKK dan Dekranasda.
Nama "Cinta Kasih" sengaja disematkan sebagai filosofi kerja.
"Beliau (Ketua TP PKK) menanamkan cinta kasih terlebih dahulu. Ketika kita
bekerja dengan hati dan cinta, semuanya akan berjalan baik," tutur
Leentje.
Meski terhitung baru, koperasi
ini telah mencatatkan progres finansial yang impresif:
- Simpanan Anggota: Telah menembus angka Rp90
juta.
- Unit Usaha: Sukses mengelola Warung Serba
Ada (Waserda).
- Kemitraan Strategis: Bekerjasama dengan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam menyalurkan (drop) 120
karung beras ke kampung-kampung.
Bagi pengurus PKK tingkat distrik
yang belum mampu mendirikan koperasi mandiri, Leentje membuka pintu lebar-lebar
untuk melebur dan bergabung dengan Koperasi Cinta Kasih Amuro di tingkat
kabupaten.
Mengakhiri penjelasannya, Leentje
Siwabessy Paiman mengajak seluruh pengurus Pokja 2 yang baru dilantik di
tingkat distrik dan kampung untuk aktif melakukan sharing dan tidak
berjalan sendiri-sendiri. Beban pembangunan Mimika tidak bisa hanya bertumpu
pada pundak Bupati dan Wakil Bupati semata.
Melalui perpanjangan tangan Pokja
2 PKK yang bergerak di sektor pendidikan anak usia dini, pemberdayaan ekonomi
kreatif, dan penguatan koperasi mikro, visi besar Mimika untuk mandiri secara
intelektual dan finansial dari pinggiran hingga ke pusat kota, perlahan namun
pasti, mulai menapakkan fondasi yang kokoh. Ditangan para perempuan tangguh
inilah, masa depan generasi emas Mimika sedang dirajut.
























