Merangkul Adat, Mengubah Paradigma: Langkah Strategis Dinkes Mimika Menuju Sehat Kolektif

 


TIMIKA, papuamctv.com – Urusan kesehatan masyarakat kerap kali terjebak dalam batas-batas klinis dan koridor birokrasi. Sadar bahwa pendekatan medis murni memiliki keterbatasan ruang dan sekat psikologis, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mengambil langkah progresif. Melalui pendekatan kultural, pemerintah berupaya meruntuhkan dinding pembatas tersebut dengan menggandeng para penjaga tradisi dan tokoh kunci masyarakat.

 

Pada Kamis (04/06/2026), bertempat di Hotel Horison Diana, Jalan Budi Utomo, Dinkes Mimika menggelar agenda krusial: "Pertemuan Advokasi Promosi Kesehatan Bersama Lembaga Adat dan Tokoh Masyarakat". Ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah ikhtiar politik-kesehatan untuk membangun komitmen bahwa derajat kesehatan publik adalah tanggung jawab kolektif, bukan beban tunggal pemerintah.

 

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Godfried Maturbongs, menegaskan bahwa determinan utama keberhasilan program kesehatan di Timika adalah sinergi. Tenaga kesehatan (nakes) boleh memiliki ilmu medis mumpuni, namun tokoh lokallah yang memegang kunci kepercayaan masyarakat. Pendekatan berbasis kultural dan keagamaan dinilai jauh lebih persuasif dan menyentuh akar rumput.

 

"Jika hanya nakes yang berbicara, mungkin masyarakat hanya mendengar 50 persen. Namun, jika tokoh adat, agama, pemuda, dan perempuan yang menyampaikan, masyarakat pasti kepatuhannya lebih tinggi," ujar Godfried secara lugas.

 

Secara khusus, Godfried memberikan apresiasi tinggi kepada tokoh-tokoh perempuan di Mimika. Menurutnya, kaum perempuan memiliki peran sentral yang sangat responsif dalam menggerakkan kesadaran hidup sehat, dimulai dari unit terkini dan paling vital: lingkungan keluarga.

 

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia kesehatan modern di tingkat akar rumput adalah persoalan mindset atau pola pikir masyarakat terhadap fasilitas kesehatan. Pertemuan advokasi ini secara berani mengarsiteki rekonstruksi paradigma tersebut:

Dimensi

Pola Lama (Kuratif)

Paradigma Baru (Preventif)

Fungsi Puskesmas

Tempat bagi orang sakit untuk berobat.

Fasilitas konsultasi untuk menjaga kebugaran.

Waktu Kunjungan

Datang hanya ketika kondisi fisik sudah drop/sakit.

Datang saat tubuh sehat untuk mencegah penyakit.

Fokus Utama

Penyembuhan gejala fisik (treatment).

Edukasi dini dan perlindungan kesehatan (protection).

 

Melalui reformasi paradigma ini, masyarakat didorong untuk aktif mengampanyekan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di wilayahnya masing-masing.

 

Kegiatan yang dirancang secara inklusif ini menyasar para pengambil keputusan dan penggerak massa di tingkat akar rumput, mulai dari:

  • Lembaga adat dan tokoh agama.
  • Tokoh masyarakat dan tokoh pemuda.
  • Aparat kampung hingga kader kesehatan lapangan.

 

Secara struktural dan regulasi, program yang didanai melalui DPA Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Tahun Anggaran (TA) 2026 ini berpijak pada fondasi hukum yang kuat, antara lain:

  • UU No. 17/2023 tentang Kesehatan
  • Permenkes No. 19/2024 tentang Puskesmas
  • Permenkes No. 8/2019 tentang Pemberdayaan Masyarakat
  • Permenkes No. 74/2015 tentang Peningkatan Kesehatan & Gizi

 

Menutup agenda strategis ini, Godfried Maturbongs memberikan pesan reflektif kepada seluruh peserta. Ia mengingatkan bahwa kesehatan bukanlah komoditas, melainkan sebuah amanah suci yang harus dijaga bersama demi masa depan generasi Mimika.

 

Pemerintah daerah menaruh harapan besar di pundak para tokoh adat, agama, dan masyarakat yang hadir. Mereka kini bukan lagi sekadar pemangku status sosial, melainkan telah resmi diandalkan sebagai "penyambung lidah" pemerintah—sebuah jembatan komunikasi yang diharapkan mampu membawa edukasi kesehatan melintasi batas geografis dan kultural, hingga menyentuh sanubari seluruh lapisan masyarakat Mimika. (MR)

 

Postingan Terbaru