Menembus Riak Muara demi Generasi Emas Mimika: Kolaborasi TP-PKK dan Sumpah Setia Tenaga Medis di Potowaiburu
POTOWAIBURU, papuamctv.com
— Deru mesin speedboat memecah keheningan perairan pesisir Mimika pada
Senin (01/06/2026). Di atas perahu cepat itu, Tarsisius Ratonggaung, seorang
perawat senior di Puskesmas Pembantu (Pustu) Yapakopa, duduk siaga menjaga 11
ibu hamil yang dibawanya. Perjalanan ini bukan sekadar rujukan medis biasa,
melainkan sebuah perjuangan menantang alam demi mendekatkan akses kesehatan
bagi ibu dan janin di wilayah terpencil.
Hari itu, langkah kaki para ibu
hamil dari Kampung Yapakopa disambut hangat oleh Tim Penggerak Pemberdayaan
Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Mimika di Puskesmas Potowaiburu.
Kehadiran Pokja IV TP-PKK yang dipimpin langsung oleh Ketua Bidang Pokja IV,
Ny. Alice Irene Wanma, membawa angin segar melalui program Pemeriksaan
Kesehatan dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Tidak hanya gizi, TP-PKK juga
memboyong dokter spesialis kandungan lengkap dengan fasilitas Ultrasonografi
(USG).
Perjalanan medis di wilayah
hidrografis Mimika Barat Jauh penuh dengan cerita tak terduga. Tarsisius
mengisahkan, dalam perjalanan menuju Puskesmas Potowaiburu yang memakan waktu
hampir dua jam, ia harus menyisir muara-muara sungai. Banyak dari ibu hamil
yang terdata ternyata sedang berada di luar kampung untuk mencari nafkah
(meramu/mencari makan).
"Ibu hamil yang saya bawa
ini murninya tadi bukan dari kampung. Mereka sedang pergi mencari makan di
muara sebelah. Jadi, dari kampung saya kejar ke muara itu. Langsung kami angkat
ke atas speedboat," tutur Tarsisius penuh semangat.
Bahkan, di tengah jalan, ada
seorang ibu yang belum terjaring data Pustu melambaikan tangan dan mengaku
sedang mengandung. Tanpa ragu, Tarsisius langsung mengajaknya naik.
"Saya ambil langkah cepat.
Kebetulan ada dokter spesialis di Potowaiburu, jadi kami langsung bawa
sekalian," tambahnya.
Bagi masyarakat Yapakopa,
Tarsisius dan istrinya adalah benteng pertahanan kesehatan mereka. Sejak tahun
2013, pria yang juga membidangi program penanggulangan penyakit kusta ini hidup
dan mengabdi di kampung tersebut bersama sang istri yang berprofesi sebagai
bidan.
Saat ditanya mengenai rahasia
ketangguhannya di tengah keterbatasan fasilitas dan sinyal, Tarsisius tersenyum
hangat.
"Bagi saya pribadi, tugas
dan tanggung jawab itu yang utama. Saya tidak merasa rindu keluarga di kota
karena istri dan anak-anak saya bawa semua ke tempat tugas di Yapakopa. Ini
adalah totalitas pelayanan langsung kepada masyarakat," ujarnya.
Meski demikian, tantangan
geografis tetap menjadi hantu yang nyata. Ketika ada pasien kritis yang harus
dirujuk darurat ke kota, mereka kerap kali harus bertaruh dengan cuaca ekstrem
dan ombak laut yang tidak menentu, di samping keterbatasan pasokan Bahan Bakar
Minyak (BBM). Edukasi dari hati ke hati pun harus terus diulang agar masyarakat
adat memahami pentingnya memeriksa kehamilan di fasilitas kesehatan.
Senada dengan Tarsisius, rasa
haru juga menyelimuti dr. Ronald J. Pokniangge, dokter yang baru bertugas
sekitar enam bulan di Puskesmas Potowaiburu. Kembali ke tanah kelahiran untuk
melayani masyarakat sendiri memberikan kebanggaan sekaligus keprihatinan yang
mendalam baginya.
Dengan suara yang sedikit
tertahan menahan haru, dr. Ronald menceritakan realitas di lapangan di mana
pemahaman kesehatan maternal masih minim.
"Setelah turun ke pesisir
dan pedalaman, kami melihat banyak sekali kekurangan. Masyarakat hidup dalam
keterbatasan. Banyak pasien yang terpaksa melahirkan di rumah, dan sayangnya,
beberapa kasus tidak terselamatkan karena terlambat ditangani," ungkap dr.
Ronald.
Oleh karena itu, kehadiran TP-PKK
Mimika bersama dr. Leo (dokter spesialis kandungan) dinilai sebagai momentum
krusial yang sangat berdampak. "Kami sangat bersyukur dan berterima kasih.
Kehadiran perwakilan pemerintah melalui Ibu-Ibu PKK ini tidak hanya membawa
bantuan PMT, tetapi juga memberikan kesempatan bagi kami tenaga medis lokal
untuk belajar langsung dari dokter spesialis dalam penanganan kasus ibu
hamil," lanjutnya.
Melalui aksi nyata Pokja IV ini,
TP-PKK Mimika menegaskan komitmennya untuk hadir di garis depan dalam menekan
angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB), serta pencegahan stunting
sejak dalam kandungan. Pemberian makanan tambahan yang bernutrisi tinggi dan
pemeriksaan USG gratis ini diharapkan dapat terus berlanjut secara berkala.
Langkah kolaboratif antara
ketulusan kader PKK, ketangguhan mantri pustu, dan dedikasi dokter puskesmas di
wilayah pesisir ini menjadi bukti nyata: bahwa di balik riak gelombang laut
Mimika yang ganas, ada harapan besar yang sedang dirawat demi melahirkan
generasi masa depan Papua yang sehat, cerdas, dan kuat.(HK)























