Mengangkat Ecoprint Mangrove Mimika ke Pentas Nasional: Sentuhan Tangan Mama-Mama Papua di PENAS XVII Gorontalo
GORONTALO, papuamctv.com —
Suara riuh rendah pengunjung Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di
Gorontalo mendadak berpusat di stan pameran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
(UMKM) Kabupaten Mimika, Jumat (19/06/2026). Di antara deretan produk khas
Papua, tampak dua sosok perempuan energik yang tidak sekadar berdiri menyambut
tamu, melainkan turun langsung menawarkan lembaran kain bermotif natural dengan
penuh semangat.
Mereka adalah Ketua Dewan
Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika, Ny. Susana S. Herawaty
Rettob, bersama Wakil Ketua Ny. Periana Kula Kemong. Kehadiran pucuk pimpinan
Dekranasda Mimika yang menyingsingkan lengan baju untuk ikut "berjualan"
dan mempromosikan langsung produk lokal ini menjadi pemandangan menarik yang
menegaskan komitmen kuat mereka dalam mengawal UMKM lokal menembus pasar
nasional.
Produk unggulan yang menjadi
primadona hari itu adalah kain Ecoprint Mangrove—sebuah inovasi wastra
ramah lingkungan yang relatif baru bagi masyarakat Mimika, namun menyimpan
potensi ekonomi luar biasa.
Ecoprint memang marak di berbagai
daerah, khususnya di Pulau Jawa. Namun, Dekranasda Mimika berhasil menyuntikkan
ruh lokal yang membedakannya dari produk lain. Kain ecoprint Mimika
memanfaatkan kekayaan ekosistem pesisir mereka sendiri, yaitu hutan mangrove
(mangi-mangi).
"Ecoprint ini kan tergolong
baru untuk kita di Kabupaten Mimika. Kenapa kita memilih tanaman mangi-mangi
ini? Karena memang yang kita angkat justru daun dan buah dari mangrove untuk
dijadikan motif kain," ujar Ny. Susana S. Herawaty Rettob di sela-sela
kesibukannya melayani pengunjung stan.
Sentuhan budaya dan kearifan
lokal terasa sangat kental pada desain kain ini. Proses pembuatannya murni
menggunakan keahlian tangan (handmade) tanpa kontaminasi bahan kimia berbahaya.
Karakteristik alami ini menghasilkan keunikan tersendiri: setiap helai kain
adalah karya seni tunggal yang tidak akan pernah memiliki duplikasi motif yang
sama persis.
"Kain ini eksklusif, tidak
pasaran. Satu kain, satu model," tambah Susana, menekankan nilai premium
dari produk tersebut.
Produksi ecoprint mangrove ini
sepenuhnya digerakkan oleh kelompok-kelompok UMKM yang beranggotakan Mama-Mama
Orang Asli Papua (OAP). Memanfaatkan bahan baku alam yang melimpah dan mudah
didapat, tantangan terbesar para perajin selama ini adalah masalah pemasaran.
Di sinilah Dekranasda Mimika hadir mengambil peran krusial.
Ny. Susana menegaskan bahwa ajang
berskala nasional seperti PENAS XVII merupakan momentum emas yang harus
dimanfaatkan secara agresif untuk memperkenalkan potensi tersembunyi Mimika
kepada seluruh Indonesia selama satu pekan penuh.
"Ini salah satu peluang yang
luar biasa. Kita ikut serta karena ingin mempromosikan dan memperkenalkan bahwa
di kabupaten kita banyak sekali potensi yang bisa diangkat lewat acara
anjangsana seperti ini," jelasnya optimistis.
Dekranasda Mimika kini
memposisikan diri sebagai ujung tombak sekaligus wadah pelindung bagi para
perajin lokal. Guna menjawab kecemasan pasar pasca-produksi, Pemerintah
Kabupaten Mimika melalui sinergi antara Dekranasda dan Dinas Koperasi telah
mengoperasikan Mall Dekranasda di Timika. Tempat ini berfungsi sebagai
pusat penampung seluruh produk UMKM binaan, sekaligus menjadi destinasi belanja
wajib bagi tamu kedinasan maupun wisatawan swasta yang berkunjung ke Mimika.
Keberhasilan mempromosikan sebuah
produk budaya dinilai akan lebih efektif jika dimulai dari internal pemerintah
sendiri. Prinsip leading by example (memimpin dengan teladan) inilah
yang dipegang teguh oleh jajaran pengurus Dekranasda Mimika.
"Sebelum memperkenalkan
kepada orang lain, kita harus memakai sendiri dulu. Saya, Ibu Wakil Bupati,
hingga Ibu-Ibu Kepala Dinas selalu memakai produk hasil UMKM kita, baik berupa
baju maupun tas. Ketika orang melihat kita pakai dan itu bagus, ketertarikan
akan muncul dengan sendirinya," ungkap Susana, didampingi Ny. Periana Kula
Kemong yang terus memberikan dukungan penuh di sisinya.
Menutup perbincangan, Ketua
Dekranasda Mimika menitipkan pesan motivasi yang kuat bagi seluruh pelaku usaha
kreatif di tanah Papua agar tidak pernah surut dalam berkarya.
"Saya sudah sampaikan kepada
para pelaku UMKM, sekarang tidak usah takut dan khawatir. Sudah ada Dekranasda
yang akan selalu menampung, mempromosikan, dan memasarkan hasil karya mereka.
Target kita tidak hanya pasar dalam negeri, tapi bisa juga ke luar negeri.
Semoga Mama-Mama di sana tetap semangat. Kalau hasilnya laku terjual, pasti
ekonomi berputar dan mereka bisa berproduksi lagi. Alam Papua menyediakan bahan
dasar yang berlimpah, tugas kita adalah mengolahnya dengan hati," pungas
Susana dengan nada optimis. (HK)


















