Temui Komite Eksus Otsus, Pemkab Mimika Desak Pusat Percepat Trans Papua Jalur Selatan
JAKARTA, papuamctv.com —
Pemerintah Kabupaten Mimika menegaskan komitmennya untuk menggeser paradigma
pembangunan dari kawasan perkotaan menuju wilayah pinggiran. Semangat
"membangun dari kampung" ini menjadi agenda utama yang dibawa oleh
Bupati Mimika, Johannes Rettob, bersama Wakil Bupati, Emanuel Kemong, dalam
Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Papua yang berlangsung pada Rabu
(17/6/2026).
Pertemuan strategis yang digelar
bersama Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua
(PPOKP), Velix Wanggai, serta perwakilan lintas kementerian dan lembaga
pemerintah pusat ini, berfokus pada sinkronisasi agenda prioritas Presiden guna
mendorong pembangunan terpadu di Mimika.
Bupati Johannes Rettob menyatakan
bahwa Pemkab Mimika berkomitmen penuh mewujudkan pembangunan yang merata,
inklusif, dan berkelanjutan. Namun, eksekusi di lapangan memerlukan sinergi
yang kokoh dengan pemerintah pusat melalui program-program strategis nasional.
Salah satu poin krusial yang
didorong dalam rapat tersebut adalah percepatan pembangunan konektivitas Trans
Papua, khususnya pada jalur-jalur strategis di wilayah selatan Mimika.
"Konektivitas ini bukan
sekadar membangun jalan, melainkan membuka urat nadi kehidupan bagi
kampung-kampung pesisir agar saling terhubung. Tanpa aksesibilitas yang
memadai, pemerataan pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan
penguatan ekonomi masyarakat akan sulit dicapai," ujar perwakilan Pemkab
Mimika.
Selain infrastruktur fisik, duet
kepemimpinan Mimika ini juga menyoroti pentingnya reformasi kebijakan dari
Jakarta. Pemkab Mimika menekankan agar pemerintah pusat mengeluarkan regulasi
yang melihat kondisi Papua secara utuh dan kontekstual, bukan sekadar
menggunakan pendekatan administratif normatif.
Menurut Pemkab Mimika, formula
pembangunan tidak bisa disamaratakan dengan wilayah lain di Indonesia.
Pendekatan yang diambil harus menimbang:
- Karakteristik dan keunikan wilayah regional.
- Tingkat keterisolasian geografis yang ekstrem.
- Kebutuhan nyata (real needs) masyarakat di distrik
dan kampung yang selama ini luput dari jangkauan pembangunan.
Komitmen mencetak Sumber Daya
Manusia (SDM) unggul di Mimika juga ditunjukkan secara konkret. Di hadapan
kementerian terkait, Pemkab Mimika menyatakan telah menyiapkan lahan
bersertifikat yang siap digunakan untuk mendukung pembangunan Sekolah Rakyat
Terintegrasi yang diinisiasi pusat.
Tidak hanya menunggu bola dari
Jakarta, Mimika tercatat telah melahirkan berbagai inovasi pendidikan mandiri,
di antaranya:
- Program Sekolah Transformasi: Guna
meningkatkan mutu pembelajaran dan adaptasi teknologi.
- Sekolah Sepanjang Hari (SSH): Sebuah langkah
berani untuk memastikan anak-anak asli Mimika mendapatkan asupan gizi,
pendampingan karakter, dan pendidikan yang optimal dalam lingkungan yang
aman.
Langkah-langkah taktis ini
menjadi bukti sahih bahwa di bawah kepemimpinan Johannes Rettob dan Emanuel
Kemong, peningkatan kualitas hidup masyarakat asli Papua (OAP) tidak lagi
sekadar menjadi komoditas retorika, melainkan aksi nyata yang terukur. Pembangunan
kini diarahkan dari pesisir dan kampung, memastikan mereka yang berada di garis
belakang menjadi yang pertama merasakan kehadiran negara. (HK)

















