HARMONI: Refleksi Teologis Aparatur Sipil Negara di Jantung Pemerintahan Mimika
TIMIKA, papuamctv.com — Di bawah atap
Kapela St. Benediktus, yang berdiri kokoh di dalam kompleks Kantor Pusat
Pemerintahan Kabupaten Mimika SP3, keheningan Jumat pagi (3/7/2026) terasa
berbeda. Ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan
Perjanjian Kerja (PPPK), tenaga honorer, hingga para pimpinan Organisasi
Perangkat Daerah (OPD) duduk berdampingan.
Hari itu, kesibukan birokrasi dan
tumpukan berkas administrasi sejenak melandai, digantikan oleh lantunan pujian
dalam Ibadah Oikumene yang diinisiasi oleh Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra)
Sekretariat Daerah Mimika.
Ibadah ini bukan sekadar
rutinitas spiritual pekanan. Di tengah dinamika pelayanan publik yang kerap
menuntut efisiensi teknis, ibadah kali ini membawa sebuah refleksi mendalam
mengenai eksistensi pelayan masyarakat: Apakah pekerjaan di kantor pemerintahan
sepadan sucinya dengan pelayanan di mimbar gereja?
Pertanyaan retoris itu terjawab
tuntas lewat khotbah yang disampaikan oleh Pdt. Ramlen Woran, M.Fil. Mengusung
tema "Panggilan yang Suci sebagai ASN", sang pendeta mengajak
seluruh aparatur negara untuk merombak cara pandang konvensional mengenai
"panggilan ilahi".
"Sering kali kita memisahkan
pekerjaan di gereja dan pekerjaan di kantor, seolah-olah pelayanan di gereja
lebih suci daripada pekerjaan di pemerintahan," ujar Pdt. Ramlen di
hadapan para jemaat yang menyimak dengan khidmat. "Padahal, di mata Allah,
melayani dengan setia di kantor maupun di gereja sama-sama bernilai dan
bermakna."
Merujuk pada doktrin klasik Vocation
yang dicetuskan oleh teolog Martin Luther, ia menjelaskan konsep Larvae Dei
atau "Topeng Allah". Melalui konsep ini, Luther menegaskan bahwa
Tuhan kerap bekerja secara misterius di balik profesi manusia untuk memelihara
ciptaan-Nya.
Bagi Kabupaten Mimika,
"topeng" itu mewujud dalam diri seorang kepala dinas yang menyusun
anggaran daerah, staf administrasi yang menginput data, hingga petugas loket
yang melayani masyarakat dengan senyuman. Meja kerja, dalam perspektif ini, bertransformasi
menjadi altar pelayanan yang kudus.
Secara teologis, Pdt. Ramlen
membedah teks Kitab Roma 13:1 dan 13:4, yang secara eksplisit menyebut
pemerintah sebagai "Hamba Allah" (Diakonos dalam bahasa
Yunani). Kata ini merujuk pada esensi pelayanan (diakonia)—sebuah penegasan
bahwa kekuasaan atau jabatan publik pada hakikatnya tidak didesain untuk
berkuasa atau mencari keuntungan pribadi, melainkan untuk melayani kepentingan
orang banyak.
"Jabatan yang Saudara emban
hari ini bukan hanya mandat dari negara, tetapi juga kepercayaan dari
surga," tegasnya.
Untuk memperkuat argumen
tersebut, khotbah mengalir pada rekam jejak dua tokoh Alkitabiah yang sukses
meniti karier di birokrasi pemerintahan kafir purba tanpa kehilangan identitas
imannya:
- Yusuf: Birokrat ulung di Mesir yang
mengelola ketahanan pangan nasional di masa krisis. Yusuf menjadi simbol
integritas karakter yang menolak menyalahgunakan kekuasaan demi
menyelamatkan jutaan nyawa.
- Daniel: Pejabat tinggi di Kerajaan Babel dan
Persia. Daniel mencatatkan rapor kinerja yang bersih, profesional, tanpa
cela teologis, meski berada di bawah tekanan politik yang masif.
Bagi Pemkab Mimika, narasi
teologis ini membawa implikasi praktis yang menantang. Pdt. Ramlen menekankan
empat poin perubahan paradigma yang harus diadopsi oleh ASN Mimika:
- Pekerjaan sebagai Ibadah: Setiap tugas
administratif dan disiplin jam kerja adalah wujud penghormatan langsung
kepada Tuhan.
- Integritas Radikal: Menjaga kejujuran dan
keadilan di tengah sistem, bahkan ketika tidak ada mata manusia yang
mengawasi.
- Pelayanan Berbasis Empati: Menyadari bahwa
masyarakat Mimika yang datang meminta pelayanan bukanlah sekadar angka
statistik atau tumpukan berkas, melainkan manusia dengan pergumulan nyata
yang membutuhkan sentuhan kasih.
- Menjadi Terang: Kehadiran aparatur Kristen
harus mampu mewarnai dan memperbaiki budaya kerja, bukan justru larut dan
ikut arus dalam sistem yang korosif.
Ibadah oikumene yang berlangsung
syahdu ini diakhiri dengan sebuah pesan penutup yang kuat. Bahwa Kabupaten
Mimika tidak hanya membutuhkan aparatur yang kompeten secara teknis, tetapi
juga aparatur yang memiliki kedalaman spiritual dan integritas moral.
Ketika waktu menunjukkan siang
dan jemaat bersiap kembali ke ruang kerja masing-masing, ada sebuah kesadaran
baru yang tertinggal di Kapela St. Benediktus: bahwa membangun Mimika adalah
bagian dari menggenapi rencana-Nya. Amin.

















